Mohon tunggu...
Andy Caesar Shidqi
Andy Caesar Shidqi Mohon Tunggu... pulangpulangpagi

Menuju Waktu Yang Akan Datang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Seutas Senyum Manis Lelaki Pembawa Sendok

18 Juni 2020   00:04 Diperbarui: 18 Juni 2020   00:01 37 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seutas Senyum Manis Lelaki Pembawa Sendok
Ilustrasi Joker by Pudgod, Brazil

Angin malam begitu menusuk. Kerjaan menumpuk, membuatku pulang larut. Aku memutuskan berjalan kaki setelah menumpang temanku hingga pagar apartemen. 

Jarak pagar ke gedung apartemenku sekitar 1 kilometer. Jalan begitu sepi. Jam menunjuk 12.05. Sebaiknya aku bergegas. Seperti ada seseorang yang mengikutiku. Tapi, ketika aku menoleh kebelakang, tidak ada orang. Sepi.

Suara langkah lagi dan lagi terdengar mengikutiku dari belakang. Aku memelankan langkah berusaha mendengar langkah itu dan aku menengok lagi. Sial, tetap tidak ada orang dibelakangku. Apa ini cuma halusinasiku saja karena begitu lelah. Tarik nafas, hembus perlahan. Suara itu menghilang. 

Baiklah, aku putuskan kembali berjalan dengan menyalakan musik dengan volume tidak terlalu keras. Setelah itu, mengecek kanal berita hari ini dan kemarin.

Berita terbaru mengenai seorang lelaki depresi atas kematian istrinya yang kabur dari rumah sakit jiwa. Menurut keterangan perawat yang diwawancara, lelaki itu terobsesi mencari bola mata yang mirip dengan bola mata istrinya. 

Kemarin ditemukan perempuan paruh baya tewas dengan dua matanya dicungkil paksa. Tempat kejadian perkara hanya berjarak lima kilometer dari apartemenku. "Memang gila ini orang!" tukasnya sembari menggaruk kepala.

Tidak jauh dari tempat perempuan tadi, ditemukan perempuan lainya dengan kondisi yang sama. Kali ini korban masih berusia 20 tahun. Kedua korban telah diamankan kepolisian. Akan tetapi, polisi belum bisa menemukan lelaki ini. 

Ada indikasi bahwa lelaki ini berkeliaran di sekitaran apartemenku. Mataku terbelalak membaca kalimat terakhir tersebut. Kutatap sekitar yang kutemukan hanya keheningan. Hanya dedaunan yang bergesekan dengan aspal jalan memecah kesunyian malam. Baiknya, aku bergegas.

Ting. Elevator menunjuk lantai apartemenku. Kuhembuskan nafas perlahan. Lega rasanya, akhirnya sampai juga. Suasana di lorong apartemenku yang beriskan lima kamar begitu hening. 

Semua penghuni telah terlelap selepas dini hari. Lampu neon yang tergantung di langit-langit lorong sesekali nyala-mati, seperti hidup tak segan, mati apalagi. Suara langkahku bergema menusuk telinga. Pintu kamarku yang terletak di ujung lorong terasa kian jauh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x