Mohon tunggu...
andry natawijaya
andry natawijaya Mohon Tunggu... apa yang kutulis tetap tertulis..

yang enteng-enteng aja...

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Pro dan Kontra Tapera, Harus Siap Potong Gaji!

6 Juni 2020   19:00 Diperbarui: 9 Juni 2020   18:00 323 26 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pro dan Kontra Tapera, Harus Siap Potong Gaji!
Ilustrasi rumah (DOK KEMENTERIAN PUPR via kompas.com)

"Hanya alang-alang pagar rumah kita. Tanpa Anyelir, tanpa melati. Hanya bunga bakung tumbuh di halaman. Namun semua ini punya kita. Memang semua itu milik kita sendiri."

"Rumah Kita" merupakan salah satu lagu Indonesia paling populer, aransemen musiknya diciptakan oleh gitaris Ian Antono sedangkan liriknya ditulis Theodore KS. Ternyata inspirasi "Rumah Kita" beranjak dari pengalaman pribadi para penciptanya, ketika lagu ini ditulis sekitar tahun 1987, menurut Theodore KS baik dirinya maupun Ian Antono kala itu belum memiliki rumah tinggal milik sendiri. Mereka masih mengontrak rumah.

Rumah adalah kebutuhan dasar manusia, bagaimana pun manusia membutuhkan rumah tinggal sehingga sudah pasti setiap orang memiliki keinginan memiliki rumah sendiri. 

Dibandingkan menyewa, memiliki rumah pribadi  lebih menguntungkan, karena dari sisi finansial biaya yang dikeluarkan untuk perawatan atau cicilan rumah pada akhirnya akan berwujud aset tetap berupa rumah sendiri.

Dari aspek status sosial kepemilikan rumah pribadi mencerminkan kemapanan ekonomi seseorang, sehingga derajat serta keberadaannya lebih diakui oleh masyarakat. Walaupun kenyataannya proses memiliki rumah tidak mudah, perlu perjuangan baik upaya mengumpulkan biaya ataupun mencari lokasi rumah sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Populasi penduduk Indonesia berada di kisaran angka 270 juta jiwa, sangat besar. Namun meninjau data Badan Pusat Statistik, justru menunjukkan bahwa keluarga Indonesia yang memiliki rumah mengalami penurunan, tahun 2015 mencapai 82,63% pada tahun 2018 merosot menjadi 80,02%.

Persoalan memiliki rumah memang menjadi momok bagi kebanyakan orang, populasi manusia terus bertambah sementara ketersediaan lahan tidak bertambah. 

Bagi masyarakat berpenghasilan tinggi, membeli rumah atau properti mungkin tidak menjadi kendala. Ada juga kalangan masyarakat yang memiliki rumah lebih dari satu, tetapi itu bukan hal yang dapat dinikmati masyarakat kebanyakan.

Sebetulnya penyelenggara negara sudah mengupayakan ketersediaan rumah melalui Program Sejuta Rumah. Tercatat sampai 31 Desember 2019, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membangun 1,25 juta unit rumah, dengan rincian 945.161 unit bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan 312.691 unit bagi non-MBR.

Hanya saja tuntutan masyarakat memiliki rumah tidak berhenti sampai titik tersebut, jika berkaca dari proyeksi pertumbuhan penduduk, sampai tahun 2030 kebutuhan masyarakat akan rumah tetap bertambah. Karena secara demografi penduduk usia produktif di Indonesia terus meningkat dibandingkan penduduk usia non-produktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x