Mohon tunggu...
andry natawijaya
andry natawijaya Mohon Tunggu... Konsultan - apa yang kutulis tetap tertulis..

good.morningandry@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Waduh! Pertumbuhan Kredit Lesu

29 Oktober 2019   16:23 Diperbarui: 30 Oktober 2019   07:40 444
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tentunya turunnya kredit memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja bisnis bank, dalam hal ini adalah pendapatan bunga karena menjadi komponen untuk menentukan laba rugi bank. Semakin besar jumlah kredit yang terealisasi maka pendapatan bunga juga akan semakin besar, demikian sebaliknya.

Penyaluran kredit memasuki awal periode semester 2 pada Juli 2019 masih terseok, data Bank Indonesia mencatat sektor ekonomi yang selama ini menjadi tumpuan kontribusi pertumbuhan kredit turut lesu, yaitu Industri Pengolahan, Konstruksi serta Perdagangan Besar dan Eceran. Dan patut menjadi perhatian pula jika ketiga sektor menjadi tumpuan utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Ilustrasi: newsmax.com
Ilustrasi: newsmax.com
Sampai periode September 2019, Industri Pengolahan menurun menjadi 49,3% dari periode Juni 2019 sebesar 55,2%. Perdagangan Besar dan Eceran turut turun dari 39,5% di Juni 2019 menjadi 17,2% September 2019. Sedangkan Konstruksi mencapai 35,9% juga menurun dari 67,9%  di Juni 2019.

Proyeksi pertumbuhan kredit pada Desember 2019 akan mencapai 9,7%, kondisi ini menggambarkan sedikit rasa pesimis karena sebelumnya perbankan memperkirakan pencapaian kredit di tahun 2019 akan mencapai 11,2% yoy.

Mengapa Pertumbuhan Kredit Melambat?
Pertumbuhan kredit terhambat karena rendahnya permintaan kredit kategori korporasi, tetapi jika ditinjau lebih dalami faktor penyebab pelambatan pertumbuhan kredit terjadi karena faktor eksternal dan juga internal.

Faktor Eksternal

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Cina (RRC) membuat banyak pelaku usaha pada akhirnya ikut terkena dampak, karena banyak perusahaan besar di Indonesia memiliki keterkaitan hubungan bisnis dengan kedua negara tersebut, akibatnya aktivitas perdagangan ekspor impor terbawa arus pelemahan ekonomi global.

Ilustrasi: nytimes.com
Ilustrasi: nytimes.com
Akibat utama dari perang dagang di antara AS dan RRC adalah saling balas mengenakan tarif masuk barang antar negara tersebut, tetapi karena hubungan serta jaringan bisnis mereka telah menyebar secara global, dampaknya terasa di seluruh dunia, RRC pun mengalami kemandekan pertumbuhan ekonomi sejak 30 tahun terakhir.

Masih dari efek global, keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau peristiwa Brexit turut menambah runyamnya ekonomi dunia. Uni Eropa (UE) selaku kekuatan ekonomi setelah AS dan RRC masih mengalami trauma pasca krisis ekonomi 2008, dan pada tahun 2016 ternyata Inggris selaku salah satu kekuatan ekonomi UE memutuskan pisah dari UE. Bahkan di tahun 2019, dikabarkan ekonomi Jerman mulai lesu akibat ketidakpastian global.

Faktor Internal

Memasuki tahun politik yaitu tahun 2019, perekonomian Indonesia sempat agak tersandera oleh pengaruh kondisi sosial politik yaitu adanya Pemilu 2019, namun pasca Pemilu ternyata gonjang-ganjing politik masih menjadi arus yang ikut menggoyang stabilitas ekonomi nasional. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun