Andrilla Lukman
Andrilla Lukman Pelayan Cafe

Aku adalah cipta. Langkahku adalah karya. Hatiku adalah seni.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Anak-anak Manusia dan Ceritanya

10 Juni 2018   22:45 Diperbarui: 11 Juni 2018   18:46 336 0 0
Anak-anak Manusia dan Ceritanya
image from: https://www.indianruminations.com

Di sebuah rumah kontrakan yang berada di tepi kota, tinggallah disana dua anak manusia, satu laki-laki dan satu perempuan. Rumah itu berada di daerah yang hampir tidak satu manusiapun yang mau bertempat tinggal disana karena daerahnya yang kumuh dan ditambah lagi dengan sungai yang berada di sana selalu bisa untuk menusukkan bau busuk ke hidung orang-orang yang berada di dekatnya. Bahkan orang-orang yang tinggal disana ingin pindah dari tempat itu. Namun disaat penduduk disana sendiri ingin pindah dari tempat itu, mereka, dua anak manusia itu malah datang dan mengontrak salah satu rumah yang berada disana.

Dan pada suatu malam, terjadilah percakapan diantara keduanya.

"Mas." Panggil Si Perempuan.

"Ada apa, Dek." Kata Si Laki-laki tanpa menghadapkan wajahnya ke arah Si Perempuan.

"Kita sudah hampir satu tahun tinggal di rumah ini." Si Perempuan diam sejenak, dia menghirup nafas panjang mengisi paru-parunya, "Bagaimana kalau kita pulang?"

Mendengar kalimat Si Perempuan, Si Laki-laki kemudian berdiri, tatapan mata tampak tajam. Si Perempuan merasa sedikit gugup dengan apa yang dia lihat.

"Aku enggak mau kita pulang! Bentak Si Laki-laki, "Berapa kali harus kukatakan padamu kalau aku tidak mau pulang sampai..."

"Sampai apa, mas?!" Ada kemarahan yang terasa dari ucapan Si Perempuan dan dia tiba-tiba sudah melupakan perasaan gugupnya, "Kita sudah hampir satu tahun disini."

"Tapi kamu, kan, belum..." Ada kata yang tidak bisa dikatakan oleh Si Laki-laki dengan cepat.

Si Perempuan seakan tahu dengan apa yang ingin dikatakan Si Laki-laki, kemudian dia berkata dengan marah, "Mas! Kita sudah hampir satu tahun disini! Apa lagi yang kamu harapkan?!"

Si Laki-laki membisu kemudian.

***

"Kamu beruntung bisa tinggal disana." Kata seorang supir angkot yang sedang beristirahat di sebuah warung yang berada tidak jauh dari rumah kontrakan yang ditinggali oleh dua anak manusia kepada seorang laki-laki yang kebetulan sedang berada di tempat yang sama.

"Apa maksudmu berkata demikian?"

"Maksudku, kamu beruntung karena Pak RT, Si pemilik kontrakan yang kamu tinggali, terbelit hutang yang besar karena kegilaannya bermain judi. Selain itu juga karena dia adalah bekas preman yang masih disegani disana."

"Lalu apa hubungannya denganku?"

"Tentu saja karena itu kamu boleh tinggal disana. Aku tahu dengan siapa kamu tinggal, semua orang disini juga tahu, tapi semua penduduk tidak ada yang berani mengusirmu karena mereka takut pada Pak RT."

"Kenapa aku harus diusir?"

"Tentu saja kamu seharusnya diusir dari sana." Si Supir angkot mengambil rokok ketengan dari sakunya lalu menyalakannya, kemudian dia kembali berkata, "Ini Indonesia bukan Amerika. Di negara ini, kesopanan selalu di nomor satukan."

"Memang kau pernah ke Amerika?"

"Belum. Tapi setidaknya aku tahu hal itu dari film."

"Hah... film, kok, dipercaya."

"Film itu gambaran kehidupan. Kau tahu?"

"Memang film apa yang kamu tonton?"

"Film Biru. Hahahaha" Si Supir angkot tertawa panjang karena jawabannya sendiri.

***

Di sebuah penginapan murah yang berada di daerah perbukitan, seorang laki-laki duduk di balik meja resepsionis. Tangan kanannya menggenggam bolfoin dan dihadapannya tergeletak selembar kertas yang telah terisi dengan kata-kata. Beberapa baris kalimat nampak disana, sebuah puisi. Dia hendak mengisi kertas di hadapannya dengan sebuah puisi perpisahan yang akan dia berikan kepada pacarnya. Kisah asmara yang hampir 5 tahun dia jalani akan dia akhiri.

Dia menatap sekitar, tembok, langit-langit, jam, pot bunga dan bahkan satpam yang berdiri di depan pintu utama dengan harapan mendapatkan kata-kata yang cocok untuk dia tuliskan. Dia berfikir keras untuk puisi yang akan membuat pacarnya dijuluki bekas pacarnya. Dia tidak ingin suratnya berisi puisi yang terkesan murahan meskipun dengan puisi itu mungkin akan membuat pacarnya menjadi wanita murahan sebab kesucian diri sang pacar telah menjadi sebuah kenangan.

"Ngapain kamu?" Tanya seorang teman kerja yang tiba-tiba muncul.

Si Laki-laki yang duduk dibalik meja resepsionis tidak memperhatikan. Dia juga tidak menjawab pertanyaan itu.

Dari depan meja resepsionis, Si teman kerja mencoba menginguk apa yang sedang dilakukan oleh Si Laki-laki yang duduk di balik meja resepsionis.

"Kamu menulis puisi? Hari gini masih nulis puisi. Buat siapa? Cewek? Hahahaha..." Si teman kerja tertawa panjang melihat apa yang sedang dilakukan oleh Si Laki-laki yang duduk di balik meja resepsionis.

"Bisakah kau diam? Dasar cerewet!"

"Oke-oke, aku akan diam. Dan tidak hanya itu, aku juga akan pergi. Tapi dengarkan ini, cewek tidak perlu kau kasih puisi agar bisa kau tunggangi. Cukup rayu mereka dengan lidahmu saja."

Beberapa saat mereka diam, saling menatap. Kemudian Si teman kerja menepati ucapannya. Dia pergi.

Tidak semua puisi ditulis untuk menyatukan. Ada juga puisi yang sengaja ditulis untuk memisahkan apa yang selama ini bersatu. Gumam Si Laki-laki yang duduk di balik meja resepsionis.

Sebelum Si Laki-laki yang duduk di balik meja resepsionis berangkat bekerja, dia berfikir jika malam itu akan menjadi malam yang tenang untuk dia menuliskan puisi. Itu adalah senin malam, waktu ketika biasanya penginapan sepi. 

Dan memang begitulah yang terjadi, tidak ada satupun pengunjung yang datang ke penginapan. Tapi ternyata gangguan tidak hanya muncul dari pengunjung, biasanya anak-anak muda atau supir-supir truk, yang selalu menanyakan kamar kososng kepadanya, gangguan nyatanya juga bisa datang dari hal yang terdekat, teman kerja.

Kemudian Si Laki-laki yang duduk di balik meja resepsionis kembali melihat kertas yang ada di hadapannya. Dia kembali memikirkan kalimat apa yang akan dia tuliskan untuk calon bekas pacarnya. Saat dia sedang mencoba mengembalikan fikirannya ke kata-kata, dua orang muncul di hadapannya dan menanyakan kamar kosong untuk malam itu. 

Dengan perasaan jengkel, dia melayani kedua orang yang datang malam itu. Setelah percakapan yang sudah biasa terjadi di meja resepsionis selesai, kedua orang pengunjung itupun melangkah menuju kamar yang ditunjukkan oleh Si Laki-laki yang duduk di balik meja resepsionis.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah sebuah bola kertas melayang ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari meja resepsionis.

***

"Dek... ini sudah dua bulan." Kata Si Laki-laki dengan wajah cemas.

"Aku tidak apa-apa, Mas. Sungguh. Aku tidak apa-apa." Kata Si Perempuan. Ekspresi wajahnya tampak mencoba meyakinkan lawan bicaranya.

"Jangan berbohong!" Suara Si Laki-laki sedikit mengeras, "Kamu kenapa-napa. Ada yang aneh yang tidak seharusnya terjadi padamu!"

"Mas..." Kata Si Perempuan tenang, "Aku yang merasakannya. Bagaimana bisa kamu jadi sok tahu seperti ini?"

"Itu karena aku menghafalkan rutinitas bulananmu!" Si Laki-laki masih berkata dengan suara keras, "Aku selama ini aku memperhatikan siklus bulananmu dan kali ini sudah lebih dua bulan dari waktu yang seharusnya! Aku tidak mau kamu hamil! Aku tidak mau menikah sekarang dan membuat Orang tuaku malu!"

Si Perempuan kemudian diam. Dia memikirkan apa yang baru saja dia dengar. Hatinya mulai ragu dengan keyakinan terhadap dirinya sendiri bahwa dia tidak kenapa-napa.

"Tu, kan... Kamu sekarang ragu dengan apa yang baru saja kamu katakan!" Si Laki-laki kemudian menundukkan kepalanya dan menyelimuti wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Setelah percakapan itu, hari-hari keduanya diliputi dengan perasaan cemas dalam bentuk yang berbeda. Di setiap malam, keduanya tidak bisa tidur, keduanya takut seandainya kehamilan benar-benar datang. Dan bagi Si Laki-laki, selain dia merasa cemas, dia juga merasa menyesal karena malam itu dia mengajak Si Perempuan ke sebuah penginapan murah. Entah mengapa dia juga mengingat wajah penjaga resepsionis yang berbicara dengan wajah yang sangat tidak mengenakkan, itu membuatnya merasa semakin menyesali malam itu.

Ketika sudah tiga bulan berlalu dari saat terakhir Si Perempuan datang bulan, si Laki-laki mengajak Si Perempuan untuk pergi dari rumah dan tinggal di suatu tempat sambil memikirkan bagaimana cara menggugurkan kandungan itu. Dengan tinggal di tempat lain, mereka tidak perlu memikirkan tanggapan orang-orang bila besok perut Si Perempuan membesar, begitulah yang difikirkan oleh Si Laki-laki. Saat percakapan itu terjadi, tiba-tiba Si Perempuan merasa yakin kalau dirinya tidak hamil, tapi dia juga memikirkan ucapan Si Laki-laki yang selama ini memang menghafalkan rutinitas bulanannya.

Beberapa hari setelah percakapan itu, minggatlah mereka dari rumah.

***

"Mas, aku enggak tahu dengan isi kepalamu, tapi aku mau pulang." Kata Si Perempuan.

"Tapi kamu belum datang bulan." Kata Si Laki-laki dengan lemah. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang tertunduk ke lantai.

"Kamu mau bukti apa lagi!" Bentak Si Perempuan, "Aku setiap minggu selalu memakai alat tes kehamilan dan hasilnya selalu negatif!"

Si Laki-laki menjauhkan kedua telapak tangan dari wajahnya, kemudian menatap SI Perempuan dengan tatapan kemarahan, "Berapa kali harus ku katakan padamu, aku tidak percaya dengan alat sialan itu!"

"Oke... kamu boleh tidak percaya dengan alat itu, tapi ini sudah hampir satu tahun! Satu tahun! Jika aku memang hamil, perutku seharusnya sudah sebesar bola basket!"

Kemudian Si Laki-laki diam dan kembali menundukkan wajahnya. Kali ini dia tidak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Besok aku akan pulang dengan atau tanpa kamu! Aku ingin pulang! Dan satu hal yang mesti kamu tahu, tanda seseorang tidak hamil bukan hanya datang bulan yang tepat waktu!" Kata Si Perempuan dengan perasaan kesal.

Percakapan malam itu berakhir dengan hilangnya Si Perempuan di balik pintu kamar. Si Laki-laki masih tetap ditempatnya, duduk dan tertunduk memandang lantai.


Andrilla Lukman, Sabtu, 09 Juni 2018

NB: Aku mengharapkan komen kalian semua tentang tulisanku. terimakasih.