Mohon tunggu...
SITUMORANG YOSUA
SITUMORANG YOSUA Mohon Tunggu... Akuntan - To celebrate life, to do something good for others

Writing is living in eternity. Your body dead, your mind isn't.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

The World Is Unfair Since Day 1

14 September 2023   19:51 Diperbarui: 14 September 2023   20:11 49
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lyfe. Sumber ilustrasi: FREEPIK/8photo

Orang-orang yang menginginkan keadilan yang seadil-adilnya di dunia ini sepertinya harus gigit jari. Ya, dunia ini memang tidak adil. Sejak hari pertama. Perlu dicatat, soal adil adilan ini adalah soal kehidupan. Terutama soal kedaan finansial, kesempurnaan jasmani, dan status sosial yang berbeda-beda antara satu pribadi dan pribadi lainnya. Setiap orang memang tidak berada di garis start yang sama.

Mengutip cerita dari buku karangan Darmadi Darmawangsa dan Imam Munadhi berjudul "Fight Like A Tiger Win Like A Champion", ada sebuah perlombaan yang melibatkan tiga orang pelari. A, B, dan C. Di hadapan ratusan penonton yang bersorak sorai, ketiganya mempertontonkan pertarungan sengit yang menarik. 

Sangat kompetitif. A memimpin, disusul B, dan C. Tampaknya, jika tidak ada hal yang mengganggu, A akan memenangi perlombaan ini. Namun, di sebuah tikungan terjadi benturan antara A dan B. A yang merasa terganggu memperlambat laju larinya, dan mencoba melakukan protes pada wasit. Karena pertandingan yang begitu intens, wasit tidak terlalu memperhatikan insiden kecil tersebut, dan tetap fokus menyaksikan perlombaan yang sekarang di pimpin oleh B & C. Sementara A semakin tertinggal di belakang.

Tidak penting siapa yang memenangkan pertandingan tersebut. Yang penting adalah nasihat dibalik cerita tersebut. Kadang ketidakadilan memang sering terjadi dalam hidup kita. Misalnya, proses rekrutmen pegawai yang kita ikuti tidak memihak kita, karena kita tidak punya koneksi. Atau keterbatasan finansial yang membatasi kita untuk bisa berkembang karena tidak punya dana untuk ikut les ini itu. Banyak yang akhirnya memilih untuk tidak mau berjuang atau berhenti dengan alasan "ah udahlah, ga punya koneksi" atau "ah udahlah, ga punya uang mau ikut kursus, paling nanti gagal kalau dites".

Sudah tentu juga tidak semua dari kita lahir dari keluarga yang kaya secara materi yang dapat dengan mudah melakukan ini dan itu. Atau kita tidak diberikan kesehatan dan kesempurnaan jasmani seperti kebanyakan orang yang membuat kita terhambat dalam beraktivitas. Daripada mengeluhkan keadaan kita yang mungkin tidak seberuntung orang lain, lebih baik kita fokus pada hal-hal baik yang masih ada pada diri kita, dan mengembangkan hal tersebut secara maksimal.

Mereka yang akan menang adalah mereka yang punya attitude atau sikap yang tepat dalam merespons setiap peristiwa atau keadaan yang dialami atau dihadapi dalam hidup. Sikap yang tepat akan memberikan hasil yang maksimal dan membuat kita mampu terus bertahan, terutama dalam situasi-situasi yang tidak menguntungkan kita. Daripada meletakkan fokus kita pada hal yang menjadi kelemahan atau kekurangan, sebaiknya kita fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan memberi keuntungan pada kita.

Saya mengutip cerita teman saya ketika ia hampir tidak mampu kuliah karena keterbatasan dana. Menjelang lulus SMA, teman saya yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan strata 1 sadar bahwa orang tuanya tidak punya cukup dana untuk  menguliahkannya. Berbekal rapor pendidikan SMA nya, ia mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di provinsi tempat ia tinggal, dan mengatakan bahwa ia ingin kuliah tetapi tidak memiliki biaya. Singkat cerita, ia dibantu untuk bisa kuliah dengan beberapa persyaratan yang mampu ia penuhi dan lulus sebagai seorang sarjana.         

Teman saya bisa saja menyerah dan memutuskan untuk tidak berkuliah. Tapi ia memilih untuk berjuang. Ia tahu potensi dirinya, bahwa ia memiliki bekal yang cukup untuk bisa mendapatkan beasiswa. Dan ketimbang menyalahkan keadaan keluarganya, ia memilih untuk berusaha maksimal dengan potensi yang ia miliki.             

Cerita diatas mungkin tidak terkesan terlalu wah tetapi itu kejadian nyata yang terjadi di sekitar kita, dalam hal ini di sekitar saya. Cerita tersebut juga mungkin tidak akan relate dengan orang-orang yang tidak pernah pusing dengan biaya kuliah. Tapi jika melihat latar belakang teman saya yang berasal dari keluarga tidak mampu dan bisa mencapai level yang sama dengan saya pada saat itu, seharusnya saya malu karena dengan fasilitas lebih sudah sewajarnya kalau saya seharusnya berada pada posisi yang lebih baik.

Mungkin cerita dari Marcus Aurelius, sang kaisar Romawi yang juga dikenal sebagai Tokoh Stoikisme bisa menginspirasi kita. Ketika ada orang yang membicarakan hal buruk tentang dirinya, ia tidak serta merta marah pada orang tersebut. Yang ia lakukan adalah memeriksa ke dalam dirinya, apakah yang dikatakan orang tentang dia benar. Jika ia tidak menemukan tuduhan itu di dalam dirinya, maka ia tidak ambil pusing dengan perkataan orang tersebut.

Bagaimana dengan diri saya sendiri? Saya juga merasakan hal yang sama. Saya merasa ada beberapa ketidakadilan yang terjadi disekitar saya. Saya juga punya pilihan untuk menyerah dan mengutuki orang yang saya anggap berkontribusi pada keadaan saya sekarang, atau memilih berusaha dan berdoa. Berusaha untuk terus memperbaiki kemampuan  dan kompetensi diri, mungkin memang ada yang kurang dari diri saya sendiri, juga berdoa dan menyerahkan segala sesuatunya dalam penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun