Mohon tunggu...
SITUMORANG YOSUA
SITUMORANG YOSUA Mohon Tunggu... Akuntan - To celebrate life, to do something good for others

Writing is living in eternity. Your body dead, your mind isn't.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Tukang Makan Babi yang Mati Dibakar Api Neraka

16 Agustus 2022   02:52 Diperbarui: 16 Agustus 2022   10:11 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

 Yang saya ceritakan ini merupakan pengalaman pribadi saya, menyikapi banyaknya kasus viral akhir-akhir ini, dimana sekolah, khususnya sekolah-sekolah negeri, yang memaksakan atribut agama tertentu untuk dipakai saat di sekolah, tanpa memandang apa keyakinan yang dianut. Hal ini sangat miris, mengingat negara menjamin kebebasan beragama kepada seluruh rakyatnya. Namun tekanan pada kaum minoritas, khususnya dari segi agama, bukan hal baru di negeri ini.

Ini adalah hal yang sebenarnya sudah ada sejak lama, namun masih jarang terekspos. Saya sendiri mengalaminya secara pribadi ketika saya berusia delapan tahun, ketika saya duduk di kelas delapan sekolah dasar. Pekerjaan orangtua saya yang seringkali berpindah-pindah tempat dinas membuat kami sekeluarga harus ikut berpindah tempat tinggal juga. Dan seringkali, tempat orangtua saya berdinas tidak memiliki sekolah swasta atau sekolah dimana keyakinan yang saya anut adalah mayoritas.

Sampai saat ini, perlakuan tidak menyenangkan itu masih terekam dengan jelas di pikiran saya. Tulisan ini saya buat semata-mata agar menjadi bahan perenungan dan membuka mata semua pihak yang tidak percaya intoleransi, sehingga bisa menjadi pembelajaran kita bersama. Sekarangpun saya bertanya-tanya, kenapa saat itu isu ini tidak populer? Apa mungkin karena kaum-kaum minoritas sudah terbiasa dengan perlakuan kurang menyenangkan, sehingga tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang mereka alami? Atau mungkin karena saking seringnya diperlakukan tidak baik, dan tidak tahu harus mengadu kemana, akhirnya kaum-kaum minoritas ini, khususnya para pelajar yang dari segi usia masih relatif muda, menerima saja dengan ikhlas perlakuan kurang menyenangkan yang diterima atau dialami ketika mengenyam pendidikan di sekolah, khususnya sekolah negeri, baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, bahkan Sekolah Menengah Atas. Untuk perguruan tinggi, pengalaman saya ketika berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri, saya tidak terlalu mengalami pemaksaan. Namun tetap saja, ada bau-bau amis intoleransi yang akan saya ceritakan di bagian yang lain.

Sampai saat ini, saya tidak pernah menceritakan masalah yang saya alami kepada orang tua saya, terkait perlakuan-perlakuan tidak menyenangkan tersebut. Untungnya saya dapat mengatasinya dengan cukup baik. Entah bagaimana untuk pelajar-pelajar lain yang tidak mampu membela dirinya dengan baik. Sekilas, meskipun ada unsur bullying, namun saya pribadi lebih melihat hal ini sebagai sikap yang intoleran. Seperti sudah saya jelaskan diawal, kejadian kurang menyenangkan terkait pemaksaan atas agama atau keyakinan tertentu kepada agama atau keyakinan lain, maupun perlakuan kurang menyenangkan dari pemeluk agama atau keyakinan lain kepada saya yang memiliki keyakinan berbeda, pertama kali saya alami ketika saya duduk di sebuah sekolah dasar negeri di sebuah kabupaten di provinsi J, provinsi tempat Brigadir J berasal. Tidak mengherankan, kejadian-kejadian serupa banyak terjadi di provinsi yang berbatasan persis dengan provinsi tempat saya tinggal, seperti provinsi SB dan R.

Ayah saya yang bekerja di sebuah BUMN perkebunan saat itu, baru saja pindah dinas dari kabupaten lain di provinsi yang sama. Tidak ada perasaan aneh apapun saat itu. Saya yang sudah beberapa kali ikut ayah saya pindah tugas tidak sulit untuk beradaptasi. Kendala bahasa yang saya alami di awal-awal saya bersekolah di tempat tersebut juga dengan cepat saya atasi.

Singkat cerita, kejadian kurang menyenangkan saya alami dari salah satu teman saya. Sebenarnya ada beberapa yang memperlakukan saya dengan kurang baik terkait keyakinan yang saya anut, namun ada satu orang yang sangat getol menyindir saya. Namanya Wira kalau tidak salah. Seingat saya pada saat itu, ayahnya seorang aparat, namun saya lupa persisnya. Wira sering sekali, hampir setiap hari mengolok-olok saya dengan mengatakan saya tukang makan babi, Tuhan saya tidak ada, nanti kelak kalau saya mati saya akan tersiksa di kuburan, dimakan cacing (iya juga sih), terbakar api neraka, disiksa dengan dikeluarkan isi perutnya, dicambuk sampai mati, dan lain sebagainya. Persis seperti cerita-cerita tentang siksa neraka dan kubur yang bisa kita jumpai di buku-buku cetakan murahan. Entah itu karena kepolosannya sebagai seorang anak-anak yang tidak mau temannya mengalami hal yang tidak menyenangkan setelah meninggal, atau memang Wira merupakan bibit-bibit intoleransi yang akan panen dalam 20-30 tahun mendatang. Walaupun saya masih anak-anak, saya bisa merasakan ada dorongan halus agar saya berpindah keyakinan mengikuti keyakinan yang mereka anut. Padahal mereka pun tidak tahu apa-apa, hal ini yang membuat saya muak.

Meskipun masih berumur delapan tahun pada saat itu, saya berpikir ,"Kenapa anak ini jahat sekali? Apa salah yang saya buat? Saya tidak pernah mengolok-olok keyakinan yang dia anut, kenapa dia berbuat demikian pada saya?". Pikiran-pikiran ini sudah bermunculan di kepala saya, walaupun saya masih anak-anak."Bukankah kalau memang beragama, seharusnya dia bersikap baik pada orang lain, apalagi orang yang tidak berbuat jahat dengannya?" Untungnya saya cukup mahir membela diri pada saat itu, dan saya cukup berprestasi, sehingga meskipun saya sering di olok-olok, saya yakin mereka tetap memiliki rasa respect pada saya. Ini juga saran saya pada adik-adik yang mengalami kejadian serupa. Ubah hal-hal tidak menyenangkan itu menjadi motivasi untuk menutup mulut mereka. Prestasi memang cara terbaik untuk meredam suara-suara sumbang.

Selain itu, setiap kali kami akan pulang dan pelajaran akan selesai, kami diajarkan berdoa dari satu agama atau keyakinan tertentu, yaitu keyakinan mayoritas. Pada saat itu saya bahkan dapat melafalkannya dengan fasih. Padahal, saat ini setelah dewasa saya berpikir, kenapa tidak berdoa secara umum saja? Walaupun saya adalah satu-satunya (kalau tidak salah) siswa minoritas di kelas itu, bukan berarti kita harus berdoa dengan cara agama tertentu 'kan? Bukankah harusnya guru atau tenaga pengajar saat itu mencontohkan toleransi dan mengajarkan sikap menghargai perbedaan? Toh itu bukan sekolah berbasis agama, itu sekolah nasional, yang dibiayai oleh negara yang terdiri dari banyak suku, ras dan agama? Jadi kenapa condong ke satu ajaran keyakinan saja?

Kalau dipikir-pikir hal tersebut sangat menyedihkan, mengingat sekolah saya dicap sebagai sekolah negeri terbaik di kabupaten tersebut. Lokasinya juga berada di tengah kota, bukan di perkampungan atau gunung yang jauh dari informasi. Maka tidak heran, kasus-kasus yang muncul di sekitar tahun 2020-an, dimana ada beberapa siswi di daerah tertentu dipaksa menggunakan atribut dari satu agama atau keyakinan tertentu, karena saya sudah mulai mengalami hal tersebut sejak tahun 1999, di awal 2000-an. Malah bisa jadi, itu sudah terjadi jauh sebelumnya, hanya saja keterbatasan informasi pada saat itu membuat hal-hal semacam ini tidak ter ekspos.

Meskipun terlihat sepele, tapi hal-hal ini sudah merupakan tanda-tanda yang harus diwaspadai, bahaya laten yang belum terlihat. Bayangkan, anak umur delapan tahun, yang tentu saja pemahaman agamanya masih dangkal, sudah menebar kebencian pada pemeluk agama atau keyakinan lain. Usut punya usut, adik saya yang paling kecil juga mengalami kejadian serupa, namun ini terjadi di kompleks perumahan tempat tinggal kami. Menurut pengakuan adik saya, temennya ini disuruh oleh pemuka agama yang dia anut untuk berkata buruk tentang keyakinan yang kami anut agar adik saya takut. Miris sungguh miris.

Saya yakin, dari sejumlah kasus yang akhirnya terungkap ke publik, masih banyak kasus yang tidak diungkapkan. Malah banyak korban yang mungkin akhirnya mengalah karena malas untuk ribut. Saya juga yakin, teman-teman minoritas yang lain banyak yang relate dengan cerita saya, khususnya yang memeluk agama atau keyakinan mayoritas dan minoritas "sepersepupuan".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun