Mohon tunggu...
Andre Vincent Wenas
Andre Vincent Wenas Mohon Tunggu... Pelintas Alam | Kolomnis | Ekonomi | Politik | Filsafat | Kuliner

Pelintas Alam | Kolomnis | Ekonomi | Politik | Filsafat | Kuliner

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Kritiklah Pemerintah Sekeras-kerasnya dan Bantulah Sekuat-kuatnya!

12 Juli 2020   16:22 Diperbarui: 13 Juli 2020   07:11 543 23 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kritiklah Pemerintah Sekeras-kerasnya dan Bantulah Sekuat-kuatnya!
Presiden Joko Widodo (tengah) memimpin rapat kabinet terbatas mengenai percepatan penanganan dampak pandemi COVID-19 di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (29/6/2020). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/Pool/wsj. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay via KOMPAS.com)

Kita sangat setuju dengan panggilan paradoksal yang berbunyi, "kritiklah pemerintah sekeras-kerasnya, dan bantulah ia sekuat-kuatnya!"

Karena memang begitulah seorang sahabat sejati. Bicara apa adanya di depan orangnya, bukan omong manis di depan tapi bicara buruk bahkan menghasut di belakangnya untuk kemudian malah menikam punggung sahabatnya.

Kritik itu berfungsi untuk mengingatkan, juga untuk menyampaikan pandangan dari perspektif yang berbeda. Sehingga gambaran realitasnya jadi lebih utuh. Tentu kritik sangatlah berbeda dengan menghina. Menghina itu cuma bertujuan untuk menyakiti hati, tanpa pretensi untuk mengoreksi apalagi membangun.

Kritik berangkat dari daya kritis (kecerdasan dan niat baik), sedangkan hinaan berangkat dari kebencian (bentuk kebodohan moral dan niat buruk). Kritik yang benar, yaitu yang berangkat dari daya kritis, adalah untuk mengoreksi, merapatkan kembali kesenjangan (gap) antara yang ideal dengan kondisi faktual yang mulai melenceng jalannya.

Karena kita sadar sepenuhnya bahwa definisi problem atau masalah itu adalah kesenjangan (gap) antara yang ideal (yang seharusnya) dengan kenyataan yang sedang terjadi sekarang. Sehingga segala data atau informasi yang faktual mesti bisa disajikan demi merefleksikan realitas yang sesungguhnya.

Maka kritik yang benar itu hanya bisa datang dari seorang sahabat sejati, yang tidak rela melihat sahabatnya jatuh.

Sedangkan musuh dalam selimut akan membiarkan sahabatnya minum racun manis, bahkan dengan memberhalakan posisi temannya agar tidak boleh dikritik.

Di titik inilah kita mengajak masyarakat luas untuk semakin menajamkan daya kritis. Yaitu kemampuan untuk menjadi obyektif, dengan tetap mencintai bangsa ini dan mereka-mereka yang sedang berjuang untuk membereskan segala persoalan sengkarut yang menimpa bangsa ini. Tentu, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing, tanpa sikap memberhalakan orang, partai, atau organisasi tertentu.

Yang wajar-wajar saja, jangan sampai kompas moral kita sendiri dibuat tidak mampu untuk menunjukkan 'the true north' (arah yang baik dan benar) lantaran dihalangi oleh fanatisme semu. Atau akibat pekatnya berbagai kepentingan tertentu yang akhirnya malah melaburkan pandangan yang jernih.

Teristimewa dalam masa pandemi ini kita perlu merapatkan barisan, solidaritas total dalam mengawal program pemulihan ekonomi nasional. Mengawal semua program yang sudah dicanangkan menjadi tepat sasaran tanpa ada penyimpangan sedikit pun. Mengawal dengan dukungan yang kritis, bukan dukungan membabi-buta atau dengan kaca mata kuda.

Ini situasi krisis, maka daya kritis amat sangat diperlukan. Bukan tataran berpikir dan bersikap yang biasa-biasa saja! Harus extra-ordinary juga. Dalam situasi krisis, penyimpangan yang sedikit saja bakal besar dampak destruktifnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN