Mohon tunggu...
Andre Ratuanak
Andre Ratuanak Mohon Tunggu... Akademisi Hukum

Penulis adalah Peneliti dan Pengajar Hukum Pidana dan Administrasi Negara

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Perayaan Kemerdekaan dalam Sunyi

18 Agustus 2019   01:33 Diperbarui: 18 Agustus 2019   09:28 0 1 0 Mohon Tunggu...
Perayaan Kemerdekaan dalam Sunyi
dokpri

Dalam perjalanan ke Kalibata saya menemukan banyak kemeriahan perayaan hari kemerdekaan. Dari gang-gang kampung sampai ke mal-mal dan plaza kita bisa menemukan kemeriahan yang sama. Semua larut dalam ria dan rasa syukur akan kebebasan dari belenggu penjajahan.

Kurang lebih jam satu siang saya sampai di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Setelah mengisi buku tamu saya lalu ditanya, mau bersiarah di makam siapa? saya menjawab, Karel Sadsuitubun! Setelah memohon izin untuk membeli bunga tabur, kemudian saya diantar oleh petugas yang menjaga makam kepada lokasi tujuan saya.

Suasana di Taman Makam siang ini sangat kontras dengan yang di luar, sunyi, hening dan tenang. Dalam hati saya bergumam, "mereka benar-benar merdeka!". Kalau saja mereka masih hidup saat ini, perasaan mereka pasti akan sangat terjajah oleh dengki generasi "merdeka" saat ini yang lidahnya ringan meluncurkan kata-kata hinaan melesat dari sela-sela gigi keluar melalui mulutnya yang penuh kebencian kepada mereka yang dianggap berbeda. 

Untung saja mata fisik mereka tidak sempat melihat "generasi durhaka" yang menganiaya cita-cita luhur mereka mewujudkan Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan, untuk mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tujuh Belas Agustus hari ini saya memilih merayakan kemerdekaan bersama mereka. Mereka yang telah merdeka dan terhindar dari siksa bathin hidup diantara manusia-manusia durhaka yang terlahir sebagai "pembenci", generasi yang benar-benar gila. So mad, so really really mad.

Saya teringat pernyataan seorang filsuf dari Jamaika, Robert Nesta Marley: "Emancipate yourselves from mental slavery because none but ourselves can free our minds. Have no fear for atomic energy, 'Cause none of them can stop the time ."

Maukah kamu membantunya bernyanyi lagu tentang kemerdekaan? Lagu Penebusan.

Semoga arwah para pahlawan yang mengorbankan dirinya untuk mempertahankan martabat bangsa ini beristirahat dalam ketenteraman karena kerahiman Tuhan. Amin.

Tabe.