Mohon tunggu...
Andrean Ilham
Andrean Ilham Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Sriwijaya dan Pertukaran Mahasiswa Merdeka UGM

Seorang pria yang sangat menyukai ilmu pengetahuan, jadi di dalam artikel ini saya akan menulis segala sesuatu yang saya ketahui dan akan saya bagikan.

Selanjutnya

Tutup

Seni

Kota Gede Sebagai Salah Satu Peyangga Budaya di Yogyakarta

19 September 2022   21:03 Diperbarui: 19 September 2022   21:08 147 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Seni. Sumber ilustrasi: Unsplash

 Kotagede merupakan salah satu kawasan yang ada di Yogyakarta yang saat ini menjadi Kawasan Cagar Budaya. Kotagede sendiri baru dikenali secara luas mulai dari abad ke-16 Masehi, yaitu pada masa Kerajaan Mataram Islam masih berdiri. Awalnya kawasan ini merupakan hutan yang bernama Mentaok yang kemudian berkembang pesat menjadi kawasan penduduk. Wilayah ini  merupakan wilayah yang dekat dengan Kerajaan Mataram sehingga penduduk mengandal sector perdagangan dan kerajinan sebagai mata pencaharian dari Kerajaan Mataram berdiri sampai masa-masa Kolonialisasi. Kerajinan utama dari Kotagede sendiri adalah kerajinan perak. Adanya usaha kerajinan ini diperkirakan sudah ada semenjak Kotagede menjadi ibukota Kerajaan Mataram kurang lebih dari abad ke-16 sampai abad ke-17. Pada awalnya pengrajin perak merupakan abdi dalem dari kraton, yang mana hasil dari kerajinannya menjadi alat dan barang-barang rumah tangga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan kraton. Ketika ada pemindahan ibukota dari Kotagede para pengrajin ini lebih memilih untuk tetap tinggal disana (Dinas Kebudayaan Jogjakarta). Kotagede merupakan daerah budaya dengan banyak peninggalan sejarah yang dapat terlihat dari bentuk arsitektur bangunan maupun kehidupan social-masyarakat. Sebagai daerah yang menjadi tujuan wisatawan baik itu wisatawan dalam negeri maupun dari mancanegara hal inilah yang membuat wilayah ini sangat ramai dikunjungi (Abrar, 2012).

Sebelum berdiri menjadi Kotagede sebelumnya wilayah ini berupa kawasan hutan yang bernama Mentaok yang pada saat itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajang. Enam abad setelah ditinggalkan penduduk Kerajaan Mataram Hindu membuat wilayah ini berada di wilayah Kekuasaan Sultan Hadiwijaya yang kemudian menghadiahkan Hutan Mentaok kepada Ki Gede Pemanahan sebagai hadiah atas keberhasilannya mengahlakan musuh. Melalui berbagai pergolakan dan pertempuran akhirnya membuat Mataram mampu menjadi kerajaan yang menggantikan dominasi dari Kerajaan Pajang itu sendiri.  Kotagede sampai sekarang masih eksis sebagai kota lama yang mampu bertahan dengan berbagai dinamika yang terjadi. Pada masa Kerajaan Kotagede menjadi pusat kegiatan politik hal ini dikarenakan pusat pemerintahan berada disana dari masa Senopati hingga masa Sultan Agung yang akhirnya memindahkan ibukota kerajaan ke Kerta. Adapun warisan dari Kotagede adalah Pasar Kotagede, Masjid Mataram, Kompleks Makam Pendiri Kerajaan, Reruntuhan Benteng, Sendang Seliran, dan Kedhaton (Hakim, 2018). Untuk Masjid Mataram sendiri menjadi pusat pengajaran agama islam, bentuk arsitektur dari Masjid Mataram sendiri merupakan akulturasi budaya antara Hindu dan Islam yang dapat dilihat dari depan Masjid terdapat gapura yang menyerupai candi hal ini karena umat hindu iku serta dalam membuka hunian di hutan mentaok. Di dalam Masjid Mataram juga terdapat sebuah mimbar pemberian dari Sultan Mahmud Badaruddin dari Kesultanan Palembang kepada Sultan Agung ketika Sultan sedang mengunjungi Palembang, hal ini menandakan bahwa adanya hubungan diplomatik yang dilakukan oleh Sultan.

Disebelah barat dari Masjid terdapat sebuah kompleks pemakaman para pendiri Kerajaan Mataram Islam yang disekitarnya dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan kokoh. Terdapat gapura ke kompleks makam ini mempunyai arsitektur Hindu. Di setiap gapura terdapat pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran-ukiran. Ketika ingin memasuki wilayah kompleks pemakaman diwajibkan untuk mengenakan pakaian adat, dilarang mengambil gambar/video ketika sudah masuk ke dalam komplek pemakaman. Segala kearifan di lokal di Kotagede sampai sekarang masih terjaga, pengunjung masih dapat menemukan pengrajin perak, mengunjungi makam para Raja Mataram. Hal inilah yang membuat Kotagede dapat menjadi Peyangga Budaya di Yogyakarta. Masjid Mataram yang menggabungkan dua budaya yaitu Hindu dan Islam menjadi nilai jual tersendiri untuk masjid tersebut, ditambah itu menunjukan bentuk toleransi yang dilakukan oleh Raja Mataram Islam untuk pemeluk agama Hindu yang tinggal disana.    

Bibliography

Abrar, A. (2012). kajian karakter visual koridor Jalan Karang .

Dinas Kebudayaan Jogjakarta. (n.d.). Retrieved September 19, 2022, from https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/kawasan-cagar-budaya-kotagede

Hakim, M. F. (2018). Pelestarian Kotagede Sebagai Pusat Pariwisata Heritage Kota Tua Di Yogyakarta. Jurnal Khasanah Ilmu Vol. 9 No. 1, 14.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Seni Selengkapnya
Lihat Seni Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan