Edukasi

Making Teachers 4.0

12 Oktober 2018   08:00 Diperbarui: 12 Oktober 2018   08:14 545 0 0

Making Teachers 4.0

 

Ketika menulis tulisan ini saya baru saja membaca dua artikel di sebuah surat kabar. Tulisan pertama memaparkan pentingnya 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam rangka membekali peserta didik pada tingkat pendidikan dasar dan menengah dengan keterampilan abad ke-21 yakni berpikir kritis, kolaboratif, komunikatif dan kreatif. Sedangkan tulisan kedua mengulas bagaimana mempersiapkan mahasiswa menghadapi era Revolusi Industri 4.0 yang sudah dicanangkan.

Bisa disimpulkan bahwa pendidikan merupakan gerbang atau wadah untuk mempersiapkan generasi penerus untuk memasuki era tersebut. Selain itu, disiratkan bahwa harus terbangun sinkronisasi dan kesinambungan antara pendidikan dasar dan menengah hingga pendidikan tinggi. 

Output yang dihasilkan dari pendidikan dasar akan menjadi input/intake pada pendidikan tingkat menengah, demikian pula menengah ke tinggi dan dari pendidikan tinggi ke dunia kerja. Singkatnya, ada link and match yang dibangun.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2017 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menjabarkan dengan jelas keempat kompetensi yang harus dimiliki (dan kembangkan) yakni kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian dan  sosial. 

Secara singkat, memiliki kompetensi pedagogis berarti guru akan mampu memahami peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasinya sehingga dapat memaksimalkan potensi peserta didik. 

Kompetensi profesional mengharuskan guru menguasai disiplin ilmu atau bidang studi yang diampunya pada hal mana proses pembelajaran di kelas bermuara. Berikutnya, sosok guru yang mencerminkan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, menunjukkan etos kerja dan menjunjung tinggi kode etik profesi diantaranya merupakan gambaran guru dengan kompetensi kepribadian yang didambakan. Sedangkan kompetensi sosial menuntut guru untuk diantaranya tidak diskriminatif, melainkan obyektif terhadap peserta didik, teman sejawat, dan lingkungan sekitar dan mampu berkomunikasi secara efektif, santun dan empatik.

Keempat kompetensi ini ditopang dengan keterampilan atau penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang tidak bisa ditawar-tawar lagi mengingat perkembangan teknologi yang begitu cepat di era disruptif yang sudah terasa saat ini. Apalagi dengan karakteristik peserta didik zaman now yang disebut-sebut digital-native. Selain TIK, guru pun berkewajiban menerapkan pembangunan dan pengembangan karakater peserta didik yang kelak mampu bersaing di era Revoulusi 4.0.

Menerawang tren yang ada saat ini dan yang akan datang, Technopedagogical and Content Knowledge (TPACK) mengemuka sebagai salah satu alternatif dalam dunia pendidikan secara khusus para guru dalam rangka menyesuaikan sekaligus mempersiapkan diri terhadap tren tersebut.

TPACK merupakan istilah yang dimunculkan oleh P. Misra dan M. J. Koehler dengan mengembangkan gagasan Shulman di tahun 1980an. TPACK seperti merangkum semua kompetensi yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh para guru. 

Secara khusus, penguasaan dan keterampilan dalam TIK menjadi isu sentral pada era sekarang dan Revolusi 4.0 nantinya. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sudah merupakan 'sarapan' di kelas. Dengan hadirnya Internet, guru sudah bukan lagi sumber utama belajar, melainkan salah satunya. Sedangkan perihal pengetahuan pedagogis dan keilmuan/profesionalnya, bagi guru itu sudah menjadi keharusan.

Nah, bagaimana supaya guru memiliki TPACK (keempat kompetensi tersebut plus penguasaan TIK dan pengembangan karakter peserta didik) tersebut? Jawabannya, ada dua inisiator yang terlibat.

Inisiator pertama adalah guru yang bersangkutan. Tak pelak lagi, guru merupakan pembelajar sepanjang hayat disamping menjalankan tugas dan tanggung jawabnya mentransfer ilmu dan mendidik. Pendidikan yang diperoleh di perguruan tinggi menjadi modal dasar untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalamannya. Tapi tentu saja itu belumlah cukup.

Guru diharapkan memiliki intrinsic motivation (motivasi dari diri sendiri) yang kuat untuk terus belajar. Beragam pilihan bisa ditempuh seperti studi lanjut, pelatihan, workshop, dan in-house training (IHT). 

Tidak hanya secara tatap muka, pembelajaran pun kini bisa ditempuh secara daring atau online. Pengetahuan, pengalaman dan keilmuan dari guru yang terus belajar tak lekang oleh zaman dan tak akan lapuk oleh usia. 

Dengan kata lain, jangan menjadi guru yang menghuni zona nyaman yang dikhawatirkan berujung pada situasi yang digambarkan oleh H. Douglas Brown sebagai fossilization, yakni situasi dimana guru tidak mau berubah atau diubah. Sebaliknya, cenderung teguh pada pola-pola mengajar yang itu-itu saja, sudah membatu alias fossilized

Jika dalam dunia industri, Revolusi 4.0 diklaim menggerus perusahaan-perusahaan besar yang cenderung sulit untuk berubah (baca: berinovasi atau beradaptasi dengan zaman), maka dalam dunia pendidikan, guru yang membatu dengan gaya lama juga akan tergerus dan bahkan tak berdaya. Dan one important point to ponder, diberlakukannya MEA mengharuskan para guru untuk update dan upgrade karena jika tidak, serbuan guru ekspatriat akan menjadi ancaman bagai guru lokal. Atau malah sudah?   

Selain inisiasi dari guru secara individual, pemenuhan akan TPACK perlu melibatkan inisiator yang lain, inisiator eksternal. Setidaknya ada empat pihak yang menjadi inisiator eksternal, yakni: sekolah tempat guru bernaung, yayasan (terutama bagi sekolah swasta), MGMP dan asosiasi guru. 

Keempat inisiator eksternal ini diharapkan menelurkan program-program nyata secara periodik dan berkesinambungan. Porsi professional development dan enrichment program yang diusung oleh kelompok inisiator eksternal ini harus lebih besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2