Andi Wi
Andi Wi Pencari Sebab

www.guebaca.com

Selanjutnya

Tutup

Novel Artikel Utama

Novel | Bagian-bagian yang Kita Sederhanakan

20 April 2016   23:34 Diperbarui: 23 April 2016   02:20 309 7 2

[caption caption="Ilustrasi: Shutterstok"][/caption]

Cerita sebelumnya

Apa pun khayalanmu tentang hari buruk, mereka tetap saja menuntut kita tersenyum. Semua hari adil bagi mereka yang tersenyum manis maupun getir.

Setelah acara makan siang yang tidak pernah direncanakan kami pulang. Bumi pulang ke rumahnya sendiri, sementara aku pulang ke rumah orang tuaku. Aku lulusan sarjana ekonomi tiga tahun lalu. Pernah bekerja di sebuah pabrik percetakan alat-alat berat sebagai assistance manager. Satu tahun enam bulan di sana dan mengundurkkan diri dan mencari pekerjaan lain. Pontang-panting menenteng ijazah SMA dan di terima di sebuah pabrik pisau cukur sebagai operator produksi selama hampir tujuh bulan. Setelah itu, membawa serta-merta ijasah SMP, memutuskan bekerja sebagai cleaning service di sebuah mall pusat kota. Percayalah, ibu tak menyukai pendapatku bahwa aku ingin merasakaan bagaimana orang-orang menyukai titik nyamannya, ketika ibu bertanya dan berkata, “Kau seperti belalang sembah mencari makan saja?” Setelah itu, ibu menyerahkanku pada Tuhan dan waktu.

Waktu terus melaju seperti laju kereta yang disiplin dan dingin, menabrak apa saja di hadapannya bahkan ketika kau tak sempat mengelak dan menyelamatkan diri.  

Bekerja sebagai guru TK, ibu adalah perempuan cantik yang pertama kulihat ketika lahir, bangun dan tidur setiap hari. Sosok perempuan yang senantiasa terjaga tengah malam untuk kesedihan anaknya yang menganggur dan beranjak tua. Seperti yang kau tahu, ibumu cerewetnya ya ampun. Ketika dalam sehari ibumu dapat menghasikan berjuta-juta kosa kata dan menganggap semua perkataannya adalah penting. Dengan penuh kesadaraan, demi waktu dan demi kebaikanmu, semua kata-katanya memanglah penting—masih menurut ibumu. Ibuku tidak, ia membatasi dirinya sendiri untuk sedikit berbicara.

Minggu pukul 10 pagi, ketika aku pulang dan masuk rumah, ibu sedang duduk di kursi sofa malasnya dengan tenang sekali. Ia sedang menonton televisi—siaran ulang pertandingan bola Liverpool melawan Manchester United—sambil ngemil ubi goreng. Liverpool team kesayangan ibu. Kebiasaan ibu dengan team Livepoolnya itu membuat tetangga yakin bahwa kami pendukung fanatik partai politik yang memiliki lambang banteng bertanduk itu. Karena cat rumah kami berwarna merah. Menjelang hari besar Idul Adha, teman-teman ibu secara manis dan dengan dana iuran mereka, menyeret seekor banteng gemuk dan bertanduk ke halaman depan rumah kami. Teman ibu baik, namun mereka konyol. Pertama, banteng tidak suka disembelih di waktu Idul Adha. Kedua, ibu yang ketika itu mengenakan kaos oblong berwarna merah nyaris saja tewas disruduk banteng kalau saja binatang mamalia itu masih memiliki ambisi keras bahwa ia menganggap warna adalah benar-benar musuhnya. Ibu dirawat beberapa hari di rumah sakit dan pulang dengan membawa luka yang cukup menjawab bahwa waktu menyembuhkan segalanya—secara berkala.

Ayah jarang pulang, aku bahkan tak tahu kini dimana dia berada. Aku adalah anak satu-satunya dan kukatakan pada ibu, “Kau tak perlu khawatir, aku akan merawatmu.” Aku merawatnya dan memutuskan mengundurkan diri sebagai tukang sapu di mall pusat kota itu. “Maaf merepotkan.”

Semuanya kembali pulih seperti yang dijanjikan waktu. Satu-satunya yang belum ia tepati adalah kepulangan Ayah. Dua puluh tahun lalu ia pergi meninggalkan aku dan meninggalkan ibu dengan secarik kertas yang kucurigai adalah kertas tabungan. Ibu selalu berdoa dan bermimipi ingin berangkat ke tanah suci bersama ayah. Namun belakangan ibu lebih banyak menangis sedih ketimbang menangis bahagia. Kau tentu dapat membedakan kedua-duanya, bukan? Kau tentu lebih tahu daripada aku. Aku tak yakin pada diriku sendiri dan rasa ingin tahu membuatku naik pitam dan ketika ibu sedang tak ada dirumah, aku memeriksanya. Dan yah, itu adalah surat cerai. Namun sampai saat ini mereka belum secara resmi bercerai.

Kepergian, kau tahu, membuat orang-orang sekitarmu khawatir. Aku ingin sekali mereka yang pergi dapat berpikir bahwa setiap kepergian dapat membuat mereka berakhir dan berpikir bahwa keberadaannya selalu dirindukan dalam rumah. Kuharap semua orang dapat berpikir seperti itu. Aku mengenal ayah sebagai seorang pelaut dari cerita-cerita ibu dan album-album lama yang sering ibu bersihkan dari debu.

Setiap sore, satu hari setelah kepergian ayah, ibu suka menyetel lagu yang sama berulang-ulang yang dihasilkan dari DVD dan speker ruang tengah di rumah kami. Bary Manilow seperti keyakinan ibu, mewakili suara hatinya. Sambil mengepel lantai rumah, ia menari dan bernyanyi dan berdansa dengan dirinya sendiri, menirukan setiap bagian-bagian lirik lagu yang menurutnya adalah bagian terdalam dalam hidupnya. 

I can’t smile without you...

Who would have believed that you were part of dream

Now it all seems light years away

I can’t smile without you...

Now some people say happiness takes so very long to find

Well, I’m finding it hard leaving your love behind me...

I can’t smile without you...

Sementara itu aku menonton saat ia menari. Suatu kali ibu bertanya pendapatku tentang tariannya? Kujawab, “Lumayan.”

Lambat laun ibu mulai jarang menyel lagu itu setiap hari, kadang menjadi seminggu sekali, lalu sebulan sekali, lalu menjadi dihari ulang tahun pernikahan mereka. Aku tak tahu alasan yang pasti, mungkin bosan atau bisa jadi ia telah menemukan kebahagiaan lain. Seperti kebahagiaan yang habis-habisan ingin ia capai, namun ia tahu ia tak akan sampai, sehingga ia memutuskan dalam usaha kerasnya melalui titik pencapiannya tersebut dan  meyakini bahwa ia telah cukup bahagia. Selanjutnya, ia hanya perlu menyadari.  

Sementara ketika ibu mulai melupakan lagu itu, aku justru menyukainya dan diam-diam pula di tengah malam ketika sedang merindukan ayah dan ibu, aku memutar lagu itu sendiri di dalam kamar dan menari dan menyanyi. Aku bahkan pernah membayangkan mereka berdansa bersama. Namun seringnnya, mereka berdansa di alam mimpi.

Jauh di dalam diriku menolak menjauhkan mereka dan berusaha melibatkan apa saja dalam hidupku setiap waktu. Setelah kematian ibu, aku benci harus menjadi sendiri dan kesepian setiap saat. Aku sengaja membiarkan televisi di ruang tengah terus menyala sepanjang hari, setiap hari, hanya untuk menjauhkan sepi jauh-jauh dari rumah ini.

Cangkir kopi yang kemarin belum sempat kukembalikan ke dapur masih tertata rapi di atas meja bersama ubi goreng yang kumakan beberapa potong. Kau tahu, ibu tak ada di sini. Tak ada ia yang tengah menonton televisi dan pertandingan team kesayangannya. Tak ada. Kecuali aku menciptakan ibu dalam dunia pikiranku.

Sebelum menciptakan ibu, aku sempat ingin menciptakan ayah, namun ketika ingin dan berusaha memulai, ibu, telah lebih dulu pergi di suatu sore yang rintik. Semenjak saat itu, ingatan tentang ibu, tarian ibu, suara cempreng ibu, sandal-sandal yang menopang kaki-kaki ibu, kucing setia milik ibu, seluruhnya adalah milik ibu tanpa ayah. Tak ada sesuatu yang berarti yang ditinggalkan ayah di rumah ini. Setidaknya di kepalaku. Ia dulu memang ada, kuat, seperti pohon jambu air mandul yang tumbuh dan ditanamnya sendiri di depan pekarangan rumah kami, sementara karena si pemilik lelah menunggu pohon itu berbuah, akhirnya ia berhenti berharap dan dilupakan. Aku telah melupakannya namun ia tetap diijinkan tinggal, tentu di luar pekarangan rumah kami, di luar pekarangan pikiran kesadaran kami.   

Aku menuju sofa tempat ibu menonton televisi dan duduk di sampingnnya. Mengambil sepotong ubi goreng yang dingin. “Kau dari mana, sih?! Bau begini,” tanya ibu sambil mendengus dan menjepit hidungnnya dengan telunjuk dan ibu jari tangan kiri.

“Hutan,” jawabku sambil memasukan ubi goreng ke dalam mulut dan berbaring di paha ibu—yang sesungguhnya adalah boneka beruang cokelat besar.

“Semalam ada temanmu yang ke sini.”

“Siapa?”

“Perempuan. Ih, mandi gih!”

Ibu bangkit dari sofa. Aku menyangka ibu kecewa karena team kesayangannya mustahil dapat menambahkan 2 gol terakhir di menit-menit kritis di akhir babak dua. Atau barangkali, ia tak tahan menahan tubuhnya lebih lama mencuim aroma bau busuk manusia purba di dalam tubuhku.

“Kau mau kemana?”

Ibu menuju ke dapur. “Bikin teh. Kau mau?”

“Boleh!”

Aku menuju ke dapur. Menanak air. Sambil menunggu air panas, aku mengecek hape. Ada tiga belas panggilan masuk yang tak terjawab dari nomor tak dikenal dan dua pesan berisi, satu, ucapan terimakasih mekanis dari layanan jaringan kepada pungguna; kedua, dari nomor sama, nomor pemanggil yang tak dikenal. Di akhir pesan singkat itu ia menuliskan namanya: Kalani. Maafkan aku, aku tak bisa memberitahumu apa isi pesan itu. Tapi ijinkan aku bersiul dan bernyanyi? Percayalah keadaan seperti ini jarang sekali terjadi, setidaknya dalam sepekan, mungkin seumur hidupmu. Tunggu! Tapi bagaimana aku bisa sangat yakin bahwa itu benar-benar dari Kalani? Lama sekali ia telah menghilang dan kini ia muncul kembali ke permukaan, kataku dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala karena bingung dan gatal. Terakhir kali kami bertemu, sepuluh tahun lalu, di sebuah kedai kopi, ia bilang, ia akan pergi. “Kemana?” tanyaku.

Ia hanya menggeleng tak sanggup menjelaskan alasan mengapa ia harus pindah rumah bersama kedua adiknya dan mengikuti ibunya karena kedua orang tua mereka sepakat berpisah.

“Apa itu artinya kita harus berpisah?” Ia tak lagi menggeleng, tak juga mengangguk, hanya menunduk. Seperti telihat di dalam kepalanya tersimpan kesedihan yang amat besar yang bahkan membuatnya tak sanggup menopang kepalanya sendiri. Ia hanya diam dan diamnya berkata-kata. Air mata perempuan di depanku menitik dan masuk ke dalam cangkir kopi. Aku mengamati cangkir kopi itu dan berusaha keras menerjemahkan air matanya yang jatuh—yang telah terkontaminasi dengan kopi—yang semakin lama semakin deras. 

Tiga hal yang dapat kubaca dari air mata kopinya bahwa (1) Ia tak tahu apa yang ia pikirkan dan harus ia rasakan (2) Ia ingin sendiri, pergi  ke suatu tempat lain yang sepi—mungkin sebuah gunung batu atau sebuah pantai dan berteriak pada batu karang dan mungkin mulai bicara dengan tebing (3) karena ia ingin bicara dengan tebing—dan menganggap manusia sudah tak dapat lagi memahami bahasa hatinya—maka aku diam, karena aku bukan tebing. Sebab melalui air matanya ia menyuruhku untuk diam dan tak memikirkan apa pun dan melarangku untuk turut menangis. “Biarkan aku mengalami kesedihan ini sendiri saja. Kau jangan!”  

Maka aku tak menangis. Tujuh minggu berturut-turut setelah itu, kami terus berkirim surat—dan ia selalu melarangku untuk tidak meminta nomor telepon pribadinya melalui surat agar kami perlahan dapat saling melupakan, alasannya, lalu ia menghilang. Tujuh tahun setelah itu, melalui surat, ia bilang bahwa ia akan menikah. Dan aku merasa perlu menangis. Kami tidak membicarakannya lagi setelah surat-surat yang sempat terkirim berikutnya mengenai apa pun yang melibatkan soal cinta, setelah pernikahannya.

Namun, kau tahu, dari seorang teman dan sumber terpercaya mengatakan bahwa sebenarnya Kalani belum menikah. “Sama sekali?” tanyaku datar, sama sekali tak terkejut. Tapi cukup membuatku hampir menangis lagi.  

“Atau kau ingin mendengar aku menikahinya?”

Aku menendang bokong lelaki itu sampai ia terjungkal ke trotoar dan mentraktirnya kopi.

Terlepas dari itu semua tetap saja membuat kepalaku pusing. “Kalani, o, Kalani,” kataku dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalaku yang mula-mula tak gatal menjadi sangat gatal. Baiklah, aku harus mandi.

Air mulai mendidih. Aku membuat teh manis dalam gelas ukuran kecil dan membawanya ke ruang tengah, dan menyisakan lebih banyak air panas untuk mandi. Butuh waktu lima puluh menit berendam membersihakan badan sampai aku merasa bersih dan tidak gatal—namun berendam selama itu, mungkin malah cukup membuat lumut-lumut menempel pada tubuhmu.

Dengan tubuh terlilit handuk aku menuju kamar dan kembali lagi ke kamar mandi karena pikiranku tertinggal di sana—lupa gosok gigi. Aku mengenakan pikiranku dan kembali memikirkan perempuan itu. Sambil masih tetap bersiul, telanjang setengah dada mengenakan handuk, aku mencatat sesuatu yang penting ke dalam buku saku tentang yang kupikirkan mengenai keberadaan waktu yang, lebih banyak berbualnya ketimbang menepati janjinya. Aku melakukan kegiatan ini—mencatat—setiap saat atas dorongan seperti kebanyakan manusia pada umumnya dan atas dorongan sifat manusia pada khusunya yaitu, yah, sekedar mencatat apa saja yang menurutku memang perlu dicatat. Siapa tahu berguna. Dan kadang memang berguna, untuk mengenang misalnya. Tapi lebih banyak tidak ada gunanya.       

Belum sempat mencatat, di ruang tengah, telepon berdering. Dari Bumi. “Apa lagi? Biarkan aku mencatat dulu barang satu kalimat!”

“Tentu, Caius! Tapi kalau kau tak keberatan—“ Sambungan kumatikan. Bumi menelpon lagi. Dia memang keras kepala, kukira.

“Dengar!” katanya, “Apa kau merasa gatal-gatal?” Di ujung telepon, Bumi, bertanya dengan nada timbul tenggelam.

“Kenapa kau tanyakan itu?” tanyaku sambil menggaruk-garuk lumut di punggungku dengan tangan kiri.

“Aku lupa memberitahumu.”

“Tunggu dulu! Apa ini ada kaitannya dengan daging ular tadi pagi?” Punggungku, kini, benar-benar gatal. Kepalaku, tanganku dan dadaku dan seluruhnya.

“Demi Tuhan! Jangan mandi dulu! Tunggu sampai—“

“Nah, aku baru saja selesai mandi.” Aku memindahkan gagang telepon ke kuping kiri, karena kuping kanan gatal sekali. “Lalu apa masalahnya?”

“Jangan katakan bahwa kau mandi pakai air hangat.”

“Kukatakan aku baru saja mandi dengan air hang—“

“Aku akan ke rumahmu,” katanya cepat, ”... lebih cepat dari seekor siput di muka bumi.” Setelah bicara seperti itu ia mematikan teleponnya.

Tiga puluh menit berlalu, Siput itu telah memarkir motor bebeknya di depan rumahku. Siput naik Bebek, lucu juga. Tapi, terlambat karena kini bentuk tubuhku lebih mengerikan dari orang yang terserang cacar air. Bumi menjelaskan, ini adalah akibat awal pengalaman pertama anatomi tubuhku berkenalan dengan daging ular. Tubuh Bumi baik-baik saja, karena mereka cukup berpengalaman mencerna daging ular.

“Untung belum sekali terlambat!” katanya sambil menyodorkan gelas berisi air berwarna putih, yang ia yakini adalah ramuan yang dapat menetralizir racun dalam tubuhku yang amatir.

“Apa maksudmu?” Aku meraih gelas itu sambil tentu saja masih terus menggaruk tubuh.  

“Jika lebih lama, kau tahu, cacar-cacar di tubuhmu dapat berubah jadi sisik!”

Sungguh aku tak ingin mempercayainya. Namun aku langsung meminumnya dengan rakus. Dan mengenai obat penawar itu, rasanya, tak ada berbeda dengan air putih biasa.

Sejarak lengan tangan dewasa, di depanku, Bumi tertawa puas. Aku menginjak kakinya kuat-kuat. Ia tak menghindar. Ia menyumpal mulutku dengan sebatang rokok dan menyalakannya dengan sebatang korek.

Mujarab, aku dapat merasakan obat penawar itu bekerja dengan cepat, merontokkan benih-benih sisik yang sebelum sempat tumbuh dan mereka telah lebih dulu memusnahkannya. Saking cepatnya tubuhku sampai tak dapat mengimbangi cara bekerja mereka. Tubuhku berusaha mengimbangi namun mereka terlalu cepat dan pada akhirnya ketika tubuhku dapat mengimbangi mereka, tubuhku telah lebih dulu kehilangan banyak tenaga. Dan itu membuatku merasa sangat lelah dan menimbulkan hasrat untuk beristirahat dan aku tertidur. Bumi telah pulang.   

Cukup mencengangkan bahwa ketika kau merasa sakit, kau berupaya untuk menyembuhkan karena kau masih ingin hidup. Hal-hal semacam itu, kupikir, kau harus memiliki alasan cukup kuat mengapa kau masih ingin hidup? Terus terang saja, aku tak tahu alasan apa yang membuatku untuk tetap bertahan hidup, setidaknya hingga sekarang. Tapi aku ingin meyakini bahwa untuk hidup aku tak perlu memiliki alasan, bahkan alasan paling lemah sekalipun. Sebab, ketika dilahirkan, aku tidak memiliki alasan menolak untuk tidak dilahirkan, bukan?

Sesederhana itu, alasanku.