Andi Wi
Andi Wi Pencari Sebab

Mengelola www.guebaca.com. Buku keduanya terbit di bulan Agustus 2018: Gas Air Mata dan Tawa. Tidak sibuk apa-apa kecuali sibuk sendiri. Pemilik chanel Youtube: Pesawat Kertas. Bermukim di Ajibarang - Banyumas. Email: Andozshort@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Harga Sebuah Masa Lalu

12 Mei 2018   12:39 Diperbarui: 14 Mei 2018   03:22 2175 9 8
Cerpen | Harga Sebuah Masa Lalu
Ilustrasi: shutterstock

Aku tadi tiba-tiba memikirkanmu ketika menyebrang jalan. Tapi syukurlah aku bisa selamat. Seorang pengendara tiba-tiba kehilangan kendali. Dia berhenti sebentar, memutar lehernya seperti burung hantu lalu memakiku, "Bangsat!"

Tapi kurasa dia masih sangat kesal. Kemudian untuk menyalurkan kekesalannya lagi, sebelum dia melajukan kendaraannya kembali, dia menambahkan, "Kalau jalan liat-liat ya, Sial!"

Aku tidak mengangguk. Tak juga menggeleng. Aku lelaki yang sudah cukup tua untuk membalas makian dengan makian.

Hari ini kau ulang tahun. Aku bingung ingin memberi kado apa. Tapi kurasa aku tak perlu memikirkannya karena kekasihmu pasti sudah memikirkan ini jauh hari sebelum aku sempat memikirkannya.

Dulu, saat menjelang ulang tahunmu dan aku bertanya padamu kau mau apa, kau selalu jawab: kau tak ingin apa-apa. Kau cuma ingin bersamaku di hari ulang tahunmu. Saat itu aku cuma tersenyum. Ternyata kebahagiaanmu mudah sekali. Dan saat kau ulang tahun, aku selalu menyempatkan diri untuk ada di sampingmu. Untuk mengabulkan permohonanmu yang simpel dan super murah itu.

Tapi waktu ternyata bukan hanya berlalu tapi melintas. Dan tak ada satu pun lampu merah yang mampu menghentikannya sampai kemudian pun kita juga memutuskan melanjutkan hidup masing-masing. Kau dengan orang yang kau cintai dan aku dengan diriku sendiri. Kau ke arah barat sementata aku ke arah timur. Kau terus melaju, begitu juga denganku. Tapi meski bumi ini bulat kita tak akan pernah bertemu lagi.

Lalu hari ini pun sampai. Di hari ulangmu, seperti dulu kau bilang hanya ingin bersamaku, aku kepikiran tak bisa mewujudkannya; kebahagiaanmu itu yang simpel dan super murah.

Pelajaran pertama. Ternyata apa yang kita yakini murah dan simpel akan jadi amat mahal jika itu melibat waktu.

Hari ini mungkin harga es cendol tiga ribu rupiah, tapi lima tahun ke depan nominal itu mungkin tak pernah sama lagi.

Benar. Sambil menunggu angkotku masuk ke jalurnya, aku memang sedang memesan segelas es cendol di pinggir jalan. Satu bulan lalu harganya masih tiga ribu rupiah, tapi hari ini harganya sudah melambung. Mungkin statistiknya akan terus merangkak sampai tingkat yang mengkhawatirkan.

Aku membayangkan di tahun 2090 harga cendol bisa mencapai satu juta rupiah. Harga yang menggiurkan untuk memulai buka usaha sendiri. Sungguh tolol apa yang sedang kupikirkan.

Tapi memangnya siapa yang tak suka makan es cendol siang panas terik begini? Dan mumpung masih bisa membelinya dengan harga murah, bagaimana kalau kita makan sebanyak-sebanyaknya? Sungguh sebanyak-banyaknya sampai kita mungkin saja bisa berubah diri  jadi Hulk? Hulk. Monster bertubuh hijau itu. Kau tahu kan?

Ya, aku tahu itu memang tidak lucu. Karena kau selalu ingin sesuatu yang lucu 'kan? Begini. Aku punya ide. Bagaimana kalau kita memikirkan manusia sewaktu bayi sangat menggemaskannya tapi setelah pengalaman dan hari buruk yang dilaluinya mengubah hidupnya cenderung ke arah kaku dan berubah ke arah yang sama sekali  tak lucu lagi? Sumpah. Aku sama sekali tak sedang mengecohmu. Tapi itulah yang terjadi. Kalau saja aku tahu caranya kembali ke masa dan menjadi anak kecil lagi aku mungkin bisa membuatmu tertawa. Bahkan saat aku cuma terdiam dan mengantuk. Tapi sayang aku tidak tahu cara melakukannya.

Tapi sebenarnya aku sering memikirkan kalau "pintu lorong waktu" itu sekecil lubang sedotan es cendol. Jadi jika kita bisa mengecilkan diri sekecil cendol yang lentur kita mungkin bisa masuk ke dalamnya dan kemudian memilih waktu kita sendiri kemana kita ingin kembali.

Jika hal itu terjadi. Aku ingin memungkinkan kembali ke tahun dimana, saat-saat kau selalu melibatkanku dalam hidupmu. Tapi hal itu tak mungkin tercapai kan? Tak ada bayi lucu, tak lorong waktu, dan tak ada jalan ke masa lalu.

Pesanmu hari itu masih kuingat betul: Apa yang kita inginkan ternyata bukan yang kita butuhkan.

Semua orang mungkin ingin kembali ke masa lalu. Tapi mereka tak pernah benar-benar membutuhkannya, selama mereka sadar bahwa setiap hari adalah waktu yang indah untuk memulai.

Lilin sudah ditiup, dadu telah dilemparkan.

Oh. Baiklah. Itu angkutanku sudah datang. Aku harus segera naik dan mengakhiri lamunanku. Kau selamat menjalani hari baru ya. Pesanku: jangan merasa kesepian di tempat ramai. Aku tinggal tidur dulu.

Andi Wi