Andi Wi
Andi Wi Pencari Sebab

Mengelola www.guebaca.com. Buku keduanya terbit di bulan Agustus 2018: Gas Air Mata dan Tawa. Tidak sibuk apa-apa kecuali sibuk sendiri. Pemilik chanel Youtube: Pesawat Kertas. Bermukim di Ajibarang - Banyumas. Email: Andozshort@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel Artikel Utama

Bagian-bagian yang Kita Sederhanakan

28 April 2016   17:08 Diperbarui: 2 Mei 2016   01:03 39 6 4
Bagian-bagian yang Kita Sederhanakan
Sumber ilustrasi : pulpn.com

Setelah acara makan siang yang tidak pernah kami rencanakan. Aku tidur siang sebentar di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari area sungai. Kemarin malam hari yang melelahkan. Tidur di atas pohon mengharuskan sebagian lain dari kesadaranmu untuk tetap terjaga atau kau akan terjatuh jika tak waspada. Mungkin ini menjelaskan mengapa Sloth, monyet pemalas yang memiliki tiga jari dan hidup di atas pohon, menghabiskan sebagian besar waktunya sekitar 15 jam sampai 20 jam untuk tidur. Dan itulah sebabnya aku kembali tidur. Aku tak tahu apa yang dilakukan Bumi ketika aku tidur.

Hanya sebentar, sebelum akhirnya manusia bertubuh gempal itu membangunkanku. Bumi membangunkanku dengan cara yang, entah dari mana ia mendapatkannya, mengisi celana dalamku dengan seekor belut kecil—yang kupikir adalah seekor ular.

Binatang melata yang hobi makan sambil tiduran itu ada di dalam celanaku. Aku dapat merasakannya, meskipun aku tak benar-benar yakin dapat merasakan kehadirannya. Di dalam celana dalamku ia menggeliatkan tubuh licinnya itu dengan heboh, seolah ia baru saja menemukan tempat yang lembab dan cocok untuk bercinta—jika ia adalah seekor belut betina genit dan berpikir bahwa penisku yang tertidur dan terkulai adalah seekor belut pejantan yang gagah. Ia tak sepenuhnya salah! Belut milikku memanglah gagah, namun ia sedang tidak ingin bercinta karena ia sedang tidur siang.

Maka aku berusaha merontokkan belut sialan itu setelah menyadari keberadaannya sungguh menganggu tidur siangku. Bumi yang duduk setia di bawah pohon kelapa, menunggu reaksiku terbangun dari tidur, terpingkal-pingkal di ujung sana.

Aku terus bersijingkat ke sana ke mari, melompat, seperti kijang yang ekornya terbakar api dalam usaha kerasku membuka celana. Berhasil! Binatang melata yang kukira ular itu keluar dari dalam celanaku, yang kujatuhkan ke tepi sungai. Belut itu melata menuju permukaan sungai dan melata lagi dan menceburkan dirinya sendiri ke dasar sungai—mungkin ia merasa sangat kecewa karena cinta murninya ditolak oleh penisku. Sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Binatang yang malang!

 Lelaki bertubuh gempal di depanku suka bercanda memang, tapi cara bercandanya keterlaluan. Aku tak bisa membayangkan, jika belut betina kecil tadi—aku yakin ia betina karena menurut buku yang pernah kubaca, semua belut ketika lahir adalah betina, saat setelah mereka dewasa dan lingkungan sekitar akan mempengaruhi jenis kelamin mereka—mengigit penisku alih-alih mencium penjantannya. Rasanya pasti sakit! Membayangkan hal itu aku merasa perlu marah kepada Bumi.

“Itu sama sekali tak lucu!” Kataku kesal.

Seperlu-perlunya aku marah, Bumi tahu aku tidak akan benar-benar bisa marah. Sebab kemarahan hanya akan membuatmu nampak seperti orang tolol. Satu-satunya alasan yang barangkali pantas membuatmu marah adalah dilahirkan. Tapi dengan siapa kau akan marah? Ibumu? Ayahmu? Nenek dan Kakekmu yang telah melahirkan ayah dan ibumu? Adam dan Hawa yang telah tergoda bujukan iblis? Atau kau ingin marah dengan iblis? Iblis pun diciptakan oleh Tuhan? Jadi dalam kasus ini kau ingin marah dengan Tuhan?

Sebagian orang percaya adanya Tuhan dengan segala kekuasaan, yang dengan kekuasaan-Nya Ia dapat berkehendak bebas sesuai ingin-Nya. Sementara Ia besar sekali dan kau hanya mahluk kecil murung tak berdaya, seperti nyamuk, kukira. Dan sewaktu-waktu Ia murka, kau bisa saja ditepuk dan kau berdarah-darah dan kau... mati. Jangan tolol! Aku belum ingin mati.

Namun sebagian orang lainnya percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Jadi kau ingin marah pada Sesuatu yang tidak ada? Kuulangi... Jangan tolol!    

Bumi dengan langkahnya yang shaleh mengambil celanaku yang tergeletak di tepi sungai dan melemparkannya ke arahku. Aku menangkapnya.

“Kau keasyikan bermimpi, sih!”

Aku memang sempat bermimpi.  Tapi, “Sejak kapan orang melarang bermimpi?”

Aku membalikan badan dan mengenakan celana dalamku kembali. Aku tidak ingin terlihat telanjang di depan seseorang yang bukan kucintai. Sambil memasukkan kaki ke dalam lubang celana, tiba-tiba bayangan tentang belut betina itu melintas lagi di kepalaku. Buru-buru aku menghapusnya dan berusaha membayangkan hal lain, yang mungkin lebih menyenangkan; seperti bagaimana dulu ketika kita begitu kecil belajar cara memakai celana dengan benar. Seluruh ibu di dunia tentu mengajari anak mereka untuk mendahulukan kaki kanan lebih dulu ketimbang kaki kiri mereka.

 Namun hal-hal menyenangkan semacam itu mendadak berubah ketika kita dewasa. Kita menjadi begitu terburu-buru melawanwaktu; pergi ke kantor karena kesiangan, pacar yang tiba-tiba ingin dijemput, atau mungkin berlari dari maut, sehingga kita mudah melupakan prosedur mengenakan celana yang dulu telah diajarkan ibu, hanya karena seolah ada sebuah perang besar yang menuntut untuk kita dimenangkan. Tapi pada kenyataannya, secara sadar dan tidak sadar kita telah mengakui kekalahan kita sendiri melawan waktu. Dipecat, diputuskan pacar dan mati.

Bumi tertawa melihat celana dalamku bergambar Bathman.Kukatakan padanya, ini bukan gambar Bathman, tapi memang bolong. Cuaca yang tiba-tiba berubahlah penyebabnya. Aku hidup sendirian, sering ketiduran dan tetangga-tetangga dekat yang tiba-tiba tidak ramah dan tetangga-tetangga jauh yang, sama sekali tidak ramah; tidak sudi membantu mengangkatkan jemuran atau sekedar berhenti menggunduli bumi.   

Bumi masih terkikik di balik punggungku, sementara aku mengenakan celana luarku.

Pilihan kanan dulu atau kaki yang lain bukan lagi masalah besar. Kau hanya perlu mengincar lubang celanamu, memastikan arah kiblat celana supaya tidak terbalik, kemudian arahkan kakimu ke dalam lubang itu sambil menjaga diri agar tetap seimbang. Dan taram! Berhasil. Kau memang harus berhasil, jika ibumu tidak ingin menganggap anaknya idiot.

Tapi tunggu, kurasa Bumi tidak sedang menertawakan penampilan celana dalamku. Itu telah usai. Aku menatapnya curiga. Oh, ya ampun... ia menaruh seekor belut lagi di saku celana kiriku. Sialan!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4