Mohon tunggu...
Andityo Triutomo
Andityo Triutomo Mohon Tunggu...

Civil Society

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Apakah Sharing Economy Akan Mengalahkan Konglomerasi?

5 Agustus 2016   08:44 Diperbarui: 5 Agustus 2016   09:41 591 1 1 Mohon Tunggu...

Akhir-akhir ini sering kita mendengar, membaca, dan melihat kata-kata mengenai sharing economy.  Mungkin banyak dari kita yang masih belum paham pengertian dari sharing economy itu sendiri.  Ada juga sebagian dari kita ketika mendengar sharing economy, akan langsung terafiliasi oleh beberapa aplikasi transportasi dan akomodasi online seperti GoJek, Uber, Airbnb, dan beberapa aplikasi lainnya. Tidak salah memang apabila banyak masyarakat langsung mengafiliasi kata-kata sharing economy dengan aplikasi-aplikasi tersebut.  Dan memang aplikasi tersebut mengusung sistem sharing economy.

Sharing economy atau sering disebut juga dengan collaborative consumption atau peer-economy adalah sebuah kegiatan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial dengan cara berbagi (sharing) manfaat terhadap satu orang dengan orang lain. Sharing yang dimaksud adalah sharing assets, goods, and services yang dimana orang lain dapat memanfaatkannya.

Di era digital ini, sharing economy system sangat cepat perkembangannya karena dibantu dengan tekonologi informasi.  Dengan adanya teknologi informasi yang semakin canggih, akses sharing economy pun semakin terbuka luas aksesnya.  Akses masyarakat untuk dapat melakukan kegiatan sharing economy pun semakin mudah karena dapat langsung diakses oleh smartphone.  Jumlah pengguna smartphone saat ini pun akan mencapai 100 juta pengguna pada tahun 2018. Tumbuhnya sharing economy scheme di era digital ini tentu dibantu dengan semakin murahnya smartphone, semakin terjangkau paket data internet, dan meningkatnya kualitas layanan mobile.  Hal tesebut tentu akan membuka peluang bagi siapapun untuk dapat membuat peluang bisnis baru.

Kita sebut saja Uber, perusahaan transportasi terbesar tanpa memiliki asset utama yang biasanya dimiliki oleh perusahaan transportasi lainnya, yaitu kendaraan.  Berikutnya Airbnb, perusahaan akomodasi terbesar tanpa memiliki properti nya sendiri.  Alibaba pun menjadi perusahaan retail terbesar tanpa memiliki inventory.  Perusahaan-perusahaan ini hanya menjadi market place bagi pencari barang dan jasa yang diinginkan.  Mereka pada dasarnya mempertemukan antara masyarakat yang memiliki asset yang bisa di utilize oleh masyarakat lainnya yang membutuhkan.  Sehingga kita bisa melihat saat ini banyak sekali perusahaan-perusahaan baru (start-up company) yang ingin mengakomodir hal tersebut.

Karena memang saat ini trend nya adalah trend sharing economy, banyak sekali investor ingin menginvestasikan kepada perusahaan yang menjalankan skema sharing economy.  Bahkan perusahaan-perusahaan dunia skala besar pun sudah mulai melakukan hal yang serupa.  Perusahaan besar sudah mulai khawatir bahkan sudah kena imbas dari efek bisnis skema sharing economy.

Sebut saja perusahaan taxi konvensional yang sangat besar, sudah terkena imbas dari adanya perusahaan transportasi yang menggunakan skema sharing economy seperti Uber, Gojek, Grab, dan lainnya.  Tidak hanya itu, usaha perhotelan pun terkena imbas dari adanya perusahaan akomodasi yang menggunakan skema sharing economy seperti Airbnb.  The biggest hotel chain seperti Hyatt pun sudah ketar ketir menghadapi hal ini dan mereka invest ke perusahaan start-up untuk dapat mengalahkan Airbnb.

Maka dari itu, untuk menghadapi persaingan bisnis seperti ini, perlu diberlakukannya collaborative system, tidak bisa mengalahkannya dengan conglomeration system.  Apabila sistem konglomerasi ini tidak cepat beradaptasi untuk melakukan sistem kolaborasi, tentu akan habis terlibas oleh perusahaan-perusahaan yang berskala kecil tetapi mengadaptasi sistem kolaborasi.  Karena sekarang bukanlah yang besar mengalahkan yang kecil, melainkan yang cepat mengalahkan yang lambat.

Salam,

ANDITYO TRIUTOMO

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x