Mohon tunggu...
Andy Tirta
Andy Tirta Mohon Tunggu... Peace comes from within, don't seek it without.

Peace comes from within, don't seek it without.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Apa yang Kau Tanam Itulah yang Akan Kau Petik

7 Agustus 2019   08:40 Diperbarui: 7 Agustus 2019   08:44 0 1 0 Mohon Tunggu...

Dalam mimpiku 2 malam yang lalu,  aku bertemu dengan seorang lelaki tua namun terlihat gagah, berpakaian putih, jenggotnya panjang dan memutih.

Beliau berkata dengan suara pelan, lembut namun berwibawa :

"Ketahuilah, mas Andy, mengapa tanah tempat lahirmu yg disebut Nusantara dan jauh-jauh hari sebelum  bernama Republik Indonesia itu pernah dijajah oleh bangsa-bangsa asing dalam waktu yg lama serta acapkali terjadi bencana alam, banjir, gempa, gunung meletus, demo-demo berjilid, radikalisme dan pertumpahan darah??"

Lelaki tua itu mengelus-elus jenggotnya lalu melanjutkan kata-katanya :
"Itu karena hukum sebab akibat yg dikenal sebagai hukum karma. Hukum karma inilah yang menyebabkan semua hal itu bisa terjadi di Nusantara ini, bumi Indonesia ini."

"Sebelum negeri ini dimerdekakan, sempat dijajah oleh Belanda dan Jepang. Ini karena hukum karma akibat dari mental manusia-manusia yang sebagian mentalnya buruk, yang mencari aman diri sendiri, mudah diadu-domba, penjilat, munafik, hipokrit, mudah disuap dan disogok, bagai perahu layar yg ikut angin, membela yg punya duit dan kekuasaan meskipun yg berduit dan berkekuasaan itu penjahat, koruptor. Mereka membiarkan dan bahkan membela segelintir manusia-manusia serigala yang haus tahta dan harta yang mengataskan tahta di atas segalanya sehingga nekad bertindak apa saja demi untuk meraih tahta serta mengkultusindividukan fulus."

Jubah putihnya bergerak-gerak dihembus angin semilir. Saya dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata Beliau.
"Banjir, bencana alam, tsunami, gunung meletus, bukan sekadar fenomena alam, tetapi ya itu, akibat hukum karma. Atmosfer dan aura langit dan bumi Nusantara ini sudah terlalu kelam. Kelam dan menghitam. Akibat kelakuan dan perbuatan manusia-manusia Indonesia yg mudah diadu-domba, penjilat, hipokrit, saling membenci, saling menjahati, saling  melukai, tejadi intoleransi, korupsi, dimana ada fulus dan tahta kesanalah mereka berpaling, meskipun yg berfulus dan bertahta itu orang-orang jahat. Mereka membela yg berduit dan bertahta.
Mereka terus-menerus menyusahkan dan membuat menderita banyak orang yang tidak berdosa!!
Sebagian dari mereka terus-menerus korupsi dan pungli untuk memperkaya diri dan mempermiskin serta mempersusah hidup sebagian besar rakyat."

"Mereka bahkan menambah berat dosa mereka dengan melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Tuhan Yang Maha Suci, Maha Besar dan Maha Pengasih."

"Hal-hal jahat itu dibiarkan berlarut-larut. Atmosfer dan aura langit dan bumi Nusantara ini kelabu, kelam dan hitam.
Maka, Sang Karma pun datang berupa segala pembalasan itu."

"Sebab prinsip Hukum Karma ialah : Apa yang kau tanam itulah yang akan kau petik. Kau tanam  perbuatan baik, kau pun pasti akan memetik buah kebaikan. Begitulah sebaliknya. Kau tanam perbuatan buruk dan jahat, pasti akan datang kepadamu kejahatan dan keburukan dan musibah pula."

"Ketika lahir seorang pemimpin yg buruk yang tidak mengutamakan Rakyat dan melanggar Konstitusi, itupun adalah akibat Hukum Karma. Itu karena sebagian besar masyarakatnya berbuat kesalahan, berbuat kejahatan. Mereka menanam keburukan dan kejahatan, maka, buah keburukan dan kejahatan pula yg akan dipetik oleh mereka itu."

Seusai berkata demikian lelaki tua berjubah putih itu tersenyum sambil mengibaskan kain yang melilit di tubuhnya dan sekonyong-konyong ada petir menyambar dan cahaya berkilauan dari langit. Aku tersentak bangun, ranjangku bergerak-gerak, ruang kamarku bergoyang-goyang. Aku terkejut, buru-buru bangkit dan duduk di tepian ranjang. Kupikir kepalaku vertigo. Aku lalu lari turun ke lantai bawah. Hp berbunyi, aku raih hp kulihat sudah jam 19.15 dan membaca Whatsaap yg masuk, seorang kawan kirim berita ada gempa dan para penghuni rumah susun di kawasan dekat rumahku pada lari keluar dari unit-unit mereka, begitu tulisnya.

Rupanya Jakarta dan Banten didatangi tamu tidak diundang, Sang Gempa Bumi.

Akupun bersyukur dalam hati Sang Gempa hanya mampir untuk sekadar memberi peringatan dan isyarat. Beliau untunglah tidak menginap di Jakarta atau Banten.

Aku buru-buru pergi mandi karena jam 20.00 ada acara kopdar dengan Sahabat-sahabat di Jetski PIK.