Mohon tunggu...
Andi Samsu Rijal
Andi Samsu Rijal Mohon Tunggu... Penggiat Kajian Sosial Humaniora

Sedang Kuliah dan Mengajar di UIM, Penerjemah di LPK GAU ASE

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengenal Komunitas Tutur

31 Maret 2020   16:22 Diperbarui: 18 April 2020   18:55 82 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenal Komunitas Tutur
sosiolinguistik-5e9aec22097f36331f05ae62.png

Komunitas Tutur 

Sosiolinguistik sebagai cabang ilmu bahasa yang menghubungkan keterkaitan antara bahasa dengan faktor di luar bahasa atau faktor kemasyarakatan menjadikannya sebagai sesuatu kajian yang tidak berdiri sendiri dan sangat kopleks. Wijana (2011) menggarisbawahi bahwa kompleksitas bahasa tidak bisa lepas dari faktor sosial budaya dan juga faktor lain seperti siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, kepada siapa berbicara, kapan dan dimana/ situasi berlangsungnya pembicaraan.

 Masyarakat sebagai komunitas penutur bahasa tertentu menjadikan bahasa sebagai representasi dari bahasa itu sendiri dan sosial budaya masyarakat. Para pakar sosiolinguistik seperti Holmes, Hymes, Labov dan Wardaugh  (dalam Mohammad & Al-harahsheh (2015) telah menghubungkan antara bahasa dan masyarakat sebagai fenomena sosial budaya masyarakat. Oleh sebab itu komunitas tutur menjadi representasi bahasa dan budaya masyarakat. 

Bagaimana bahasa diproduksi dan dikembangkan oleh individu melalui interaksi komunikasi budaya. Sehingga studi studi tentang komunitas tutur merupakan bagian inti dari pemahaman tentang manusia atas bahasa dan pemaknanaannya.

Komunitas tutur, guyub tutur, komunitas wicara (speech community) merupakan kelompok yang mewakili nilai nilai dan sikap tentang kegunaan bahasa, varian bahasa dan praktiknya di dalam masyarakat. Menurut Morgan bawha komunitas tutur telah menjadi interpretasi dan representasi terhadap masyarakat dan situasi yang ditandai dengan perubahan, perbedaan dan perkembangan teknologi sehingga berkembang terus menerus melalui interaksi yang berlangsung lama dalam masyarakat dengan sistem nilai yang ada. Mulai dari manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mempelajari bahasa, begituhalnya budaya dan masyarakat yang dibingkai dengan proses pembelajaran tentang bagaimana kita berinteraksi ke sesama manusia. 

Kerangka tersebut secara ekslusif berlangsung dengan interaksi antar indvidu dalam komunitas dengan latar belakang budaya dan bahasa yang sama. 

John Gumperz (dalam Morgan) menggarisbawahi bahwa komunitas tutur tak lain sebagai konstruksi sosial, dan eksistensi suatu komunitas tutur ditandai dengan adanya interkasi tatap muka dan saling kontak bahasa. Gumperz juga mengakui bahwa terkadang ada persamaan dan perbedaan variasi tutur dalam suatu komunitas tutur yang pada akhirnya terbentuk semacam system keteraturan karena mereka saling berinteraksi antarindividu guna membentuk system keteraturan yang diberlakukan dalam masyarakat.

Namun seiring perjalanan dan perkembangan kehidupan, sehingga tidak menutut kemungkinan komunitas tutur tidak hanya berlaku satu system keteraturan dalam berbahasa namun bisa saja menjadi heterogen karena adanya faktor komunikasi antar budaya. Hal tersebut terjadi bisa saja karena adanya regulasi dari pemerintah seperti relokasi, migrasi, transmigrasi penduduk, bahkan teknologi dan globalizasi yang kini telah menjadikan masyarakat lebih kompleks dan transformatif. Dengan situasi dan kondisi tersebut menjadikan masyatakat dalam komunitas tutur berpotensi sebagai penutur dwibahasawan atau multibahasawan.

Labov menginterpretasi nilai komunitas tutur yang menghargai perbedaan sosial individu di dalam masyarakat begitu juga dominasi dari pandangan berbeda atas norma atau keteraturan dalam masyarakat. Dell Hymes sendiri tidak membatasi konsep komunitas tutur sebagai keterkaitan antara bahasa dan situasi sosial masyarakat atau adanya system keteraturan penggunaan bahasa, namun lebih pada konsep fundamental atas keterkaitan antara bahasa, tutur, dan struktur sosial. Sehingga Hymes beranggapan bahwa definisi komunitas tutur bukanlah sesuatu definis yang paten. 

Pada dasarnya Hymes melalui tawaran model komunikasi etnogarfinya mengingatkan atas pentingnya dalam hal penguasaan kompetensi komunikasi dan pengetahuan yang harus dimiliki bagi penutur agar ia dapat tergabung dalam komunitas tutur. Kompetensi komunikasi dimaksudkan sebagai kemampuan bagi penutur dalam penggunaan bahasa dan bersosialisasi dalam masyarakat, sehingga kompetensi komunikasi tak lain sebagai hubungan bahasa kode komunikasi yang digunakan dalam masyarakat (Morgan, 2014).     

Konsep komunitas tutur tidak hanya fokus pada kelompok penutur bahasa yang sama, melainkan konsep tersebut menjadikan fakta bahasa sebagai representasi partisipasi di dalam bermasyarakat dan berbudaya. Ferguson dan Fishman (dalam Spolsky, 2010) telah merieview beberapa artikel milik Hudson dan Fernandez, dan pada akhirnya mereka mengungkapkan beberapa kelebihan pada kajian sosiolinguistik dan kesulitannya terletak pada komunitas tutur. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN