Mohon tunggu...
Andi R Rumbiak
Andi R Rumbiak Mohon Tunggu... Tertarik dengan isu sosial dan kebudayaan

Mengabdi di Papua

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Perihal Infrastruktur: Catatan Ringan Perjalanan di Pedalaman Papua

9 Juli 2020   18:07 Diperbarui: 10 Juli 2020   05:09 290 35 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perihal Infrastruktur: Catatan Ringan Perjalanan di Pedalaman Papua
Perjalanan di Pedalaman Papua. (Dokumen Pribadi)

Sembari melepas penat, saya bersama beberapa kawan sekegiatan, ngaso di warung yang berada di sebuah pasar, suatu wilayah di Pedalaman Papua.

Minum kopi sambil numpang nonton TV, maklum hampir seminggu terisolasi dari dunia luar. Warung tersebut milik seorang Madura, saya bisa tahu karena dialeknya yang khas. Dialek yang tidak bisa saya lupakan, cukup akrab ditelinga saat bertahun-tahun lalu sempat bermukim di Kota Surabaya.

Nongkrong di pasar tradisional menjadi suatu kenikmantan tersendiri. Pasar rakyat di pedalaman Papua umumnya menjadi tempat bermacam aktivitas, mulai dari aktivitas ekonomi, tempat nongkrong kaum pria sekedar melepas lelah hingga beredarnya gosip-gosip antar mama-mama Papua asli atau emak-emak Papua keturunan nusantara, tentang isu-isu menarik seputar kampung mereka.

Pasar juga menjadi tempat pertemuan muda-mudi pencari jodoh yang memanfaatkan seputar lingkungan pasar, sebagai ajang mencari kesempatan. Tentunya kami nongkrong di pasar tidak dengan tujuan demikian.

Lagi santai mencicipi kopi tubruk yang nikmat dan baru akan menyalakan sebatang rokok, tiba-tiba. beberapa orang bergerombol membahas sesuatu. saya jadi curiga, jangan-jangan ada sesuatu yang membahayakan, maklum situasi di pedalam kadang tak terduga. 

Ada apa pak, Tanya saya, Itu pak ada mobil jatuh ke jurang, kasihan sopir, kernet dan beberapa penumpangnya mungkin nggak bisa tertolong. mobilnya masih di bawah (jurang), belum diangkat, termasuk korbanya juga. kami kesini cari bantuan, kasihan katanya salah satu korbanya ada seorang ibu dan bayinya.

Duh, miris sekali. Kok bisa masuk jurang ya Pak, tanya saya. Iya pak itu sopirnya belum pengalaman, orang baru. Sudah tahu kalau ngambil jalur sini medannya sulit. Mesti sopirnya orang lama (berpengalaman), yah kalau mau coba-coba, ya begini akibatnya. Memang hasil pendapatannya besar tapi resikonya juga besar, pungkasnya sambil beranjak tergesa-gesa mencari bantuan.

Jalan Rawan, apalagi di musim penghujan (Dokumen pribadi)
Jalan Rawan, apalagi di musim penghujan (Dokumen pribadi)
Percakapan sore itu membekas hingga tiga hari kemudian, saat mau kembali ke ibu kota. Saya jadi kepikiran, semalaman nggak bisa tidur, makan pun nggak lahap, takut terjadi apa-apa di perjalanan pulang, mana anak masih kecil-kecil lagi dirumah, dan Jalan satu-satunya cuma perjalanan darat. Nggak ada alternatif lain.

Kesesokan harinya, saya tetapkan harus pulang. mau nunggu sampai lebaran kuda pun tetap nggak ada alternatif lain. Sekuat tenaga memastikan langkah, meskipun hati ini gentar juga.

Untung sopir kami sangat menetramkan, dia tersenyum-seyum saja saat melihat wajah tegang kami dari kaca spion.

Sopir yang mengantar kami adalah seorang keturunan bugis yang baik hati, bernama Agus, sebagai pangilan akrab, kami sematkan gelar "Daeng" di depan nama kecilnya "Daeng Agus".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN