Mohon tunggu...
Andi R Rumbiak
Andi R Rumbiak Mohon Tunggu... Tertarik dengan isu sosial dan kebudayaan

Mengabdi di Papua

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

"Masak, Macak dan Manak" Realitas Perempuan dalam Pasungan Patriaki

7 Juli 2020   17:45 Diperbarui: 8 Juli 2020   09:33 423 32 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Masak, Macak dan Manak" Realitas Perempuan dalam Pasungan Patriaki
(Foto: AP/John Locher)

Fritjof Capra, seorang pemikir serba bisa asal Amerika kelahiran Austria pernah mengungkapkan bahwa, selama beberapa abad ini, kebudayaan Patriaki telah memainkan peranya dalam mengkostruksi, bahasa, adat kebisaan, tata pergaulan dan etika, dimana peran apa yang boleh dilakukan dan tidak dapat dilakukan oleh perempuan.

Akar kekerasan simbolik terhadap perempuan sering menjadi, samar namun nyata. Dominasi wacana menjadi arena reproduksi nilai, mengenai apa yang boleh, apa yang tidak boleh, apa yang pantas apa yang tidak pantas, apa yang ideal apa yang tidak ideal. Senyatanya menjadi simbol-simbol realitas yang dipatenkan dalam banyak kebudayaan terhadap peran perempuan.

Ideologi Patriaki

Ideologi patriaki menjadi arena reproduksi dan monopoli kekuasaan atas cara berpikir dalam wujud ideal seorang perempuan. Semuanya tampak dalam kehidupan sehari-hari. 

Namun sang "korban" yaitu pihak perempuan sendiri, kadang tidak meyadarinya. Melakukan Pelanggengan praktek-praktek Hegemoni patriaki kepada sesamanya, melakukan ketidak adilan pada kaumnya sendiri.

Dalam sepenggal bait yang bermakna, Annie Leclerc  pernah mengungkapkan perasaanya: "Aku mengidamkan agar kaum perempuan belajar menilai apapun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki".

Saya ingat pengalaman waktu kuliah dulu di Surabaya, seorang wanita paruh baya, tetangga yang bersebelahan dengan kost-kosan yang saya tempati saat itu, bertengkar dengan putrinya. Apa yang di pertengkarkan cukup menarik untuk disimak, Kalimat si Ibu kira-kira begini:

"Koen iku arek  Wedok gak usah Sekolah tinggi-tinggi. Saiki Ndang tak rabikno, mumpung oleh Calon bojo mapan. Sing penting pinter masak, macak dan iso manak pasti uripmu bahagia."

(Kamu itu perempuan, Tidak usah sekolah tinggi-tinggi. Sekarang sudah langsung saya kawinkan saja, mumpung dapat calon suami mapan. yang penting pintar masak, merias diri dan mempunyai keturunan, pasti hidupmu akan bahagia).

"Masak, macak dan manak" menjadi simbolisasi kekuasaan patriaki lewat bahasa. Bahasa menjadi semacam konstruksi yang "tak netral", mengambil peran yang ingin di oposisikan antara peran Publik-Domestik, Superioritas-Inferioritas, Maskulin dan Feminim sebagai sebuah relasi tinanda yang tidak seimbang.  Ungkapan dalam bahasa sehari-hari ini menjadi gambaran realitas dominasi maskulinitas atas perempuan.

Arena dapur, ranjang dan wilayah reproduksi menjadi ranah feminim yang dikontrol oleh wacana. Sebagai kewajiban, sebuah kepantasan budaya yang harus di pikul oleh perempuan. Penguasaan wacana menjadi dominasi laki-laki, seakan- akan sebagai sesuatu yang alamiah dan bisa diterima. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN