Mohon tunggu...
Andi R Rumbiak
Andi R Rumbiak Mohon Tunggu... Tertarik dengan isu sosial dan kebudayaan

Mengabdi di Papua

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Kisah Sedih Guru Honorer di Kampung Terpencil

5 Juli 2020   18:29 Diperbarui: 6 Juli 2020   09:31 1582 41 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Sedih Guru Honorer di Kampung Terpencil
Bu guru Lusi dan murid-muridnya (Dokumen Pribadi)

Guru bernama Timotius, seorang pria keturunan Toraja berjalan perlahan menuju lapangan upacara. Anak-anak yang tadinya semburat perlahan-lahan merapat ke barisan. Hari ini senin, upacara bendera merupakan rutinitas yang dilakukan. 

Sebuah kebiasaan turun-temurun yang kita lakukan semenjak sekolah dasar hingga saat jadi pegawai negeri. Pak Timotius tidak sendiri, Ia ditemani oleh seorang guru lain, Pak Felix namanya, seorang warga lokal yang mengisi posisi wakil Kepala sekolah.

Upacara dilakukan dengan hikmat oleh puluhan murid-murid, ditemani oleh kedua guru tersebut. Seorang guru honorer dan wakil kepala sekolah. ya, hanya dua guru, menghadapi sekian puluh remaja SMP yang masih labil dan perlu bimbingan mendalam baik akhlak maupun ilmu.

Upacara selesai dan di mulailah kegiatan rutin oleh mereka berdua. Pak Timotius  dan rekanya  tersebut bahu-membahu berkejaran dengan waktu memberikan materi dari kelas ke kelas. 

Menguras energi dan psikologis tentunya, belum lagi berhadapan dengan beberapa siswa bengal yang tidak patuh dalam kelas, bermain tanpa mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, saat kedua guru tersebut mengisi materi di ruang kelas lainnya.

Saya memang sengaja berada di situ, meminta ijin kepada kedua guru tersebut untuk mengamati kegiatan  mereka. Bagaimana kegiatan belajar mengajar di Kampung tersebut. Saya tertarik, sepintas mengamati untuk mengisi waktu luang setelah tugas lain yang saya lakukan telah selesai.

Upacara bendera di sekolah kampung (Dokumen Pribadi)
Upacara bendera di sekolah kampung (Dokumen Pribadi)
Dengan keingintahuan yang lebih besar. Keesokan harinya saya mampir sebentar di Sekolah dasar yang kebetulan tepat bersebelahan dengan SMP yang kemarin saya kunjungi. 

Aduh, Ternyata kondisinya lebih runyam, Hanya seorang Ibu guru yang berjuang menaklukan enam kelas. Kelas satu hingga kelas enam, dengan murid-murid yang hampir semua "hiperaktif", maklum mereka adalah anak-anak kecil, dunia bermain adalah keseharian mereka.

Ibu guru tersebut teryata sangat ramah, di sela-sela kesibukanya ia masih menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar dengan saya. Beliau bernama Ibu Lusi, masih bertetangga kampung dengan Pak Timotius, guru SMP yang saya temui kemarin. 

Sama-sama dari Toraja, sebuah wilayah di Propinsi Sulawesi Selatan. Bu Lusi adalah guru honorer, baru dua tahun di Papua, Cukup baru untuk dapat memahami situasi yang terjadi.

Setelah Ngobrol panjang lebar dengan beliau, ternyata banyak masalah yang dihadapi oleh para guru honorer. Kalimat yang langsung dapat saya tangkap dari keluh kesah beliau adalah masalah pengangkatan PNS dan kesejahteraan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x