Mohon tunggu...
Andi R Rumbiak
Andi R Rumbiak Mohon Tunggu... Tertarik dengan isu sosial dan kebudayaan

Mengabdi di Papua

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"New Normal" dalam Prespektif Keindonesiaan Kita

2 Juli 2020   22:39 Diperbarui: 2 Juli 2020   22:30 39 0 0 Mohon Tunggu...

Dunia kesehatan Indonesia saat ini diperhadapkan dengan 'infected emerging' yang menyebabkan Kejadian Luar biasa (KLB). Kedaruratan kesehatan yang dialami hampir keseluruh wilayah, dari lingkungan perkotaan hingga ke pelosok tanah air.  Ujung Barat Aceh hingga ujung Timur Papua.

Persoalan yang kita hadapi saat adalah, dimana prinsip-prinsip dalam pendekatan epidemiologi kesehatan modern termasuk intervensi non-medis (prefentif) dalam kerangka kebijakan pembatasan-pembatasan sosial seperti physical distancing atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan dalam situasi pandemi ini, dapat berkeselarasan dengan prinsip-prinsip budaya dengan jumlah keberagaman etnis dan karakteristik kelompok sosial yang ada di negara tercinta ini.

Bila menyoal pada pembatasan sosial yang kemudian ditransformasikan dalam 'kenormalan baru' yang di gadang-gadang menjadi tatanan perilaku melalui konsensus yang akan diadaptasikan pada perikehidupan masyarakat Indonesia, menjadi sesuatu yang pada kenyataanya akan sulit dihadapi. Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai kondisi dilematis pasti muncul akibat tatanan baru tersebut.  

Karakteristik kultural sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia tentunya membutuhkan beragam pendekatan transversalitas (dalam hal ini saya menolak konsep-konsep yang bersifat universalitas) dalam memetakan eco-socio-religio-cultural atas problem-problem sosial yang di hadapi kelompok sosial dan kelompok etnik yang membentuk rasionalitas berperilaku dari sudut pandang masing-masing. Tentunya juga berkaitan dengan aspek struktural sebagai akar persoalan di aras lokal.

Bila kita menganggap New normal sebagai bentuk transformasi perilaku, maka sebuah transformasi selalu ditandai dengan 'acuan yang terbelah' yang menciptakan kebenaran yang 'bertegangan (tensional truth). Pada tataran akar rumput,  sesuatu perilaku yang dianggap sebagai bentuk 'kenormalan baru' pada suatu masyarakat bisa jadi dianggap "abnormal" bagi sebagian masyarakat lainnya.

Masalahnya menjadi cukup pelik karena kondisi faktual dilapangan seringkali terjadi benturan antara konsep pembatasan yang berimplikasi pada pembentukan rasionalitas baru ini yang vis a vis  dengan dengan premis-premis sosial kebudayaan masyarakat yang merepresentasikan berbagai prinsip hidup, norma dan dasar perilaku dalam kebudayaan Indonesia.

Telah kita saksikan 'perlawanan' masyarakat berulang-ulang terhadap kenormalan baru saat ini. Mulai dari pemulangan paksa jenasah Covid-19 oleh pihak keluarga, ketidak percayaan pada pemulasaraan jenazah yang dianggap "kurang normal" atau aktivitas berkumpul yang masih dilakukan dalam acara-acara sosial hingga benturan nilai antara keyakinan hakiki manusia sebagai mahluk bertuhan dengan aturan-aturan yang mensyaratkan batasan-batasan tertentu pada aktivitas berkeyakinan individu atau kelompok masyarakat.

Perilaku ini kadang sangat berkaitan dengan etika, norma dan nilai-nilai sosial yang telah berakar di masyarakat dan di praktekkan turun-temurun menjadi "way of life". Sebuah kepatutan sosial yang secara kultur menjadikan seseorang menjadi manusia sepantasnya dan bernilai dalam komunitasnya..

Hal ini menjadi sebuah fenomena sosial yang perlu di pertimbangkan dalam sejumlah kebijakan yang akan di lakukan.  Kebijakan ini bukan hanya dilihat melulu dari pendekatan struktural  kesehatan saja namun sangat berkaitan dengan pendekatan sosiologis, psikologis, ekonomi maupun kultural yang senyatanya merupakan landasan atau kerangka acuan (frame of refrence) yang berisikan petunjuk-petunjuk bahwa pengambilan tindakan (blue print of behavior) telah berakar cukup kuat melalui proses sosialisasi dalam kelompok bersangkutan sehingga sulit sekali mengalami perubahan.

" New Normal" pada akhirnya tidak hanya berpegang pada tingkat kepatuhan melalui kontrol negara, namun sangat tergantung pada kesadaran tentang kesehatan yang berbasis komunitas (Community Base Awareness Control) yaitu perilaku sehat komunitas atas kesadaran dan tampak sebagai aktivitas yang dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari persoalan kesehatan. Stimulus yang mengarah pada "Community Base Awareness Control" yang menjadi akar pemikiran dari pendekatan pembatasan fisik maupun sosial ini memang harus diakui membutuhkan waktu panjang.

kita tidak dapat sekejap merubah pola orientasi nilai masyarakat termasuk aktivitas-aktivitas berkumpul terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan budaya. Pendekatan pembatasan fisik maupun sosial akan bersinggungan langsung dengan basic value, keyakinan atau karakteristik bentuk-bentuk solidaritas sosial di masyarakat termasuk ikatan-ikatan keguyuban, pola interaksi intim yang terkoneksi dengan aktivitas sosial dan ekonomi yang masih dilakukan berkelompok yang mecirikan kehidupan sosial kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x