Mohon tunggu...
Andi Ronaldo Marbun
Andi Ronaldo Marbun Mohon Tunggu... Pemerhati dan pencinta dunia politik, hiburan, ekonomi, dan olahraga

Silence is not always golden. Sometimes, it is not the confrontation or endless argument that hurts, but the silence that eats us up like a termite and makes us emotionally hollow.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Olimpiade Jakarta 2032: Realistis atau Mimpi Belaka?

26 Agustus 2020   08:00 Diperbarui: 27 Agustus 2020   18:17 234 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Olimpiade Jakarta 2032: Realistis atau Mimpi Belaka?
Upacara Pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta

Keberhasilan Jakarta dan Palembang menjadi tuan rumah Asian Games 2018 sepertinya meningkatkan kepercayaan Indonesia melalui pemerintah dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk menyelenggarakan acara olahraga serupa ke depannya. Hal ini terbukti dengan keinginan besar Indonesia melalui pernyataan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Jakarta sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas (Olimpiade) 2032. Pada 1 September 2018, Presiden mengumumkan secara resmi di Istana Bogor, bersama dengan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), bahwa Jakarta akan mengikuti proses bidding tuan rumah Olimpiade 2032. Pengumuman tersebut dikonfirmasi lebih lanjut dengan pengiriman surat resmi dari Presiden kepada IOC di Lausanne pada 19 Februari 2019. Lantas bagaimana sebenarnya peluang Jakarta untuk terpilih dalam bidding tuan rumah Olimpiade 2032?

Hingga saat ini, telah terdapat setidaknya enam kota/region termasuk Jakarta yang mengkonfirmasi ketertarikan mereka untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Kota atau region tersebut meliputi Jakarta (Indonesia), Mumbai (India), Doha (Qatar), Rhine-Ruhr (Jerman), Madrid-Valencia (Spanyol), dan Queensland (Australia). Sebagai perhatian awal, proses bidding tuan rumah Olimpiade 2032 akan berbeda dengan edisi-edisi bidding Olimpiade sebelumnya mengingat IOC telah melakukan perubahan pada sistem yang berlaku sebagai upaya untuk menciptakan simplifikasi, inklusivitas, dan fleksibilitas. Perubahan tersebut meliputi satu paket tuan rumah Olimpiade yang dapat menggunakan sistem joint-bid atau melibatkan lebih dari satu kota/region/negara, dari yang sebelumnya hanya memperbolehkan satu kota/region dari satu negara. Selain itu, IOC juga sekarang menggunakan sistem dialog dengan entitas (kota/region/negara) potensial untuk menciptakan ketertarikan dari entitas tersebut dalam mencalonkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade, dibandingkan dengan konsep 'natural' yang diterapkan sebelumnya di mana ketertarikan dari suatu entitas akan muncul sendiri dari kota/region/negara yang biasanya ingin menunjukkan supremasi masing-masing di komunitas internasional. Dan terakhir, deadline pengumuman tuan rumah Olimpiade juga dihilangkan dari yang sebelumnya tujuh tahun dari tahun penyelenggaraan Olimpiade terkait. Perubahan ini memang tidak signifikan memengaruhi peluang dari pihak yang telah 'matang' dalam mempersiapkan segalanya menuju penyelenggaraan Olimpiade, namun sedikit berpengaruh dalam distribusi suara di antara kota/region yang berpartisipasi dalam bidding.

Determinan dalam Proses Penentuan Tuan Rumah Olimpiade

Penentuan tuan rumah Olimpiade dilakukan dengan sistem voting tertutup yang dilakukan oleh anggota-anggota aktif IOC. Sebagai catatan, proses voting tersebut tidak akan mengikutsertakan anggota-anggota IOC dari negara yang merepresentasikan kota/region yang ikut dalam proses bidding. Dengan demikian, anggota-anggota IOC dari Indonesia, India, Australia, Jerman, Spanyol, dan Qatar (jika ada) tidak akan ikut serta dalam voting penentuan tuan rumah Olimpiade 2032 jika enam kota/region yang telah disebutkan di awal menjadi candidate cities berdasarkan penentuan oleh IOC. Saat ini, terdapat 154 anggota IOC tetapi hanya ada 104 anggota yang memiliki hak suara karena di antara anggota-anggota IOC tersebut terdapat 47 honorary members, dua honor members, dan satu honorary president yang tidak memiliki hak suara dalam keputusan resmi IOC. Dari 104 anggota IOC yang memiliki hak suara, terdapat 10 anggota yang akan kehilangan hak suara secara otomatis karena berasal dari Indonesia, India, Australia, Jerman, Spanyol, atau Qatar, ditambah dua anggota lainnya yang dinyatakan self-suspended/suspended, sehingga candidate cities nantinya akan memperebutkan 92 suara. Sistem pengumpulan suara akan menggunakan exhaustive ballot yang mengharuskan kota/region untuk memperoleh suara mayoritas (tidak kurang dari 50%) agar dapat dinyatakan sebagai pemenang bidding dan tuan rumah Olimpiade 2032.

Secara teoritis, penentuan tuan rumah Olimpiade dilakukan berdasarkan kualitas presentasi dari candidate cities dalam berbagai aspek, seperti konsep games dan venues kompetisi, keberadaan dan aksesibilitas dari/ke athlete village(s), pengalaman dalam penyelenggaraan sports events, lingkungan, keamanan, dukungan publik dan pemerintah, birokrasi hukum dan imigrasi, energi, serta finansial dan marketingAkan tetapi, pada praktiknya penentuan tuan rumah Olimpiade hampir tidak pernah lepas dari aspek politis antara kota/region/negara dari candidates terkait dengan anggota-anggota IOC. Dari proses bidding yang pernah dilakukan hingga bidding untuk Olimpiade Musim Panas 2028, tercatat ada beberapa aspek yang dianggap memengaruhi sistem politik Olimpiade yang juga tidak akan lepas dari penentuan tuan rumah Olimpiade 2032: stabilitas ekonomi yang utamanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dari negara terkait dalam beberapa tahun terakhir; populasi kota dan negara terkait sebagai ukuran potensi pasar (sebagai audiences) pada Olimpiade 2032; bias kultur dan geografis dari anggota-anggota IOC terhadap candidate cities ataupun kedekatan pada organisasi politis antar-negara; 'so-called ethical' bribe; hingga pergerakan tren 'European-centric' menjadi 'Asian-centric' pada beberapa periode terakhir.

Stabilitas ekonomi menjadi suatu determinan yang sangat penting dalam pemilihan tuan rumah Olimpiade 2032 untuk menghindari 'kehancuran' negara ataupun 'kebangkrutan' kota yang terjadi karena menjadi tuan rumah Olimpiade. Penyelenggaraan Olimpiade membutuhkan operating budget yang sangat besar dan tidak jarang menjadi beban jangka panjang bagi kota/region/negara yang menjadi tuan rumah. Sebagai perhatian khusus, penyelenggaraan Olimpiade Rio 2016 menghasilkan kerugian finansial hingga 2 miliar dolar AS, Athena 2004 hingga 14,5 miliar dolar AS, dan Sydney 2000 hingga 2,1 miliar dolar AS, belum termasuk krisis dan gangguan stabilitas politik dari negara terkait yang dirasakan hingga beberapa tahun sejak penyelenggaraan Olimpiade. Populasi kota dan negara terkait menjadi faktor penting sebagai sumber pemasukan potensial dengan adanya penyelenggaraan Olimpiade. Meskipun penonton dari setiap pertandingan pada Olimpiade nantinya bisa berasal dari kota atau negara lain, potensi tersebut belum bisa menutupi kebutuhan yang akan menjadi sumber pemasukan dari penyelenggaraan Olimpiade 2032. Sebagai perbandingan, persentase tiket yang berhasil terjual pada Olimpiade Beijing 2008, London 2012, dan Rio 2016 masing-masing lebih dari 90%, sedangkan pada Olimpiade Barcelona 1992, Atlanta 1996, dan Athena 2004 masing-masing kurang dari 80%. Angka-angka tersebut berbanding lurus dengan jumlah penduduk dari kota terkait pada tahun penyelenggaraan Olimpiade dengan Beijing, London, dan Rio dengan jumlah penduduk masing-masing lebih dari sembilan juta jiwa, dibandingkan dengan Barcelona, Atlanta, dan Athena dengan jumlah penduduk yang jauh lebih kecil. Bias kultur dan geografis bisa dijelaskan sebagai upaya untuk mengangkat 'derajat' dari kultur atau wilayah terkait dan kondisi ini tidak selalu bisa dianggap sebagai bentuk rasisme atau diskriminasi. Sebagai contoh, terpilihnya Jakarta sebagai tuan rumah Olimpiade juga akan mengangkat Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok karena kedekatan kultur dan geografi dari ketiga kota tersebut dengan Jakarta. Turis mancanegara yang akan menonton Olimpiade di Jakarta bisa transit atau berkunjung ke kota Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok sebelum/setelah mengunjungi Jakarta. Upaya 'bribe' banyak dilakukan oleh sejumlah kontingen pada bidding Olimpiade edisi-edisi sebelumnya, yang dikategorikan sebagai upaya etis karena aksi yang dilakukan dianggap hanya sebagai bentuk 'terima kasih' atas kerja keras dari anggota-anggota IOC dalam menilai setiap aspek dari candidate cities terkait secara langsung. Pertumbuhan dramatis dan kemunculan negara kuat baru dari kawasan Asia belakangan ini mengubah tatanan sosio-politik dunia yang menjadi lebih 'Asian-centric' dan kondisi ini mungkin akan tetap berlanjut dalam penentuan tuan rumah Olimpiade 2032. Kawasan Asia terakhir kali menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2018 dengan Pyeongchang sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin, dan kembali akan menjadi kawasan tuan rumah untuk Olimpiade Musim Panas 2020 di Tokyo dan Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing.

Peluang Jakarta untuk Menjadi Tuan Rumah Olimpiade 2032

Dengan adanya perubahan pada sistem bidding untuk tuan rumah Olimpiade 2032 dan determinan utama yang telah dijelaskan, serta asumsi bahwa Mumbai (India), Doha (Qatar), Rhine-Ruhr (Jerman), Madrid-Valencia (Spanyol), dan Queensland (Australia) akan menjadi pesaing Jakarta, analsisi peluang dari Jakarta dapat dilakukan dalam beberapa langkah.

Candidate Cities dalam Angka

Untuk mengetahui kota/region 'unggul' di antara Mumbai, Doha, Rhine-Ruhr, Madrid-Valencia, dan Queensland, perbandingan dapat dilakukan pada aspek-aspek populasi, konektivitas internasional, ataupun kesiapan infrastruktur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x