Mohon tunggu...
Andi Muhammad Asbar
Andi Muhammad Asbar Mohon Tunggu... Dosen -

Pengajar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mahasiswa sebagai Generasi Intelektual

26 Juli 2017   07:40 Diperbarui: 26 Juli 2017   08:54 5683 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Tahapan penerimaan mahasiswa baru telah usai, saatnya kampus menyuguhkan apa visi dan misinya terhadap para mahasiswa yang diterima agar potensi-potensi tersebut dapat dikembangkan. Potensi mahasiswa inilah yang dibina dan dibimbing, agar kelak nanti menjadi ulil amr (pemimpin/ahli) di berbagai disiplin ilmu yang digelutinya.

Mengawali tulisan ini, perlu ditegaskan bahwa mahasiswa adalah pewaris ilmu (regenerasi) intelektual dimasa akan datang. Amanah ini harus diketahui oleh mahasiswa, sebab kualitas bangsa Indonesia akan ditentukan oleh mahasiswa yang ditelurkan oleh kampus atau perguruan tinggi tempat mereka dikecimpun.

Secara umum dapat dikatakan, mahasiswa adalah bagian dari generasi muda atau anak bangsa yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Dengan demikian, sejatinya seorang mahasiswa harus tercatat dan aktif dalam pergulatan dinamika yang dikembangkan perguruan tinggi dengan segala aturannya, sebagai tempat melakukan olah pikir dan pengasahan daya nalar.

Perguruan tinggi dengan segala komponennya serta mahasiswa dengan berbagai atributnya, harus terjalin sikap dan komunikasi dua arah. Perguruan tinggi yang diwakili oleh  para dosennya dituntut memberikan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi kiprah dan perjalanan mahasiswanya; dalam hal ini seorang dosen tidak saja memberi pelajaran sekedar memenuhi kebutuhan kurikulum, tetapi bagaimana memberikan rangsangan pemikiran kepada mahasiswanya untuk dapat mengetahui, menelaah, sekaligus menganalisa dinamika kehidupan yang terjadi. Artinya seorang dosen tidak saja  "mengajar" atau "mendidik" peserta didiknya, tetapi juga dapat menjadi teman diskusi dan dialog bagi mahasiswanya; Sebaliknya seorang mahasiswa juga dituntut aktif  memberi masukan dan menggali setiap fenomena yang muncul, terutama karena derasnya perubahan kehidupan. Dengan demikian, baik perguruan tinggi di satu pihak maupun mahasiswa dipihak lain telah terjadi akumulasi dan proses pembelajaran yang sedemikian rupa, sehingga keduanya telah terjadi proses saling menerima dan memberi (take and given).

Dengan demikian perguruan tinggi dimaknai sebagai tempat berkumpulnya individu-individu yang merdeka dan independen dengan relasi hubungan dan komunikasi yang cair dan mengurangi kekakuan formalitas yang mengitarinya. Untuk lebih memberi bobot dari sikap dan perilakunya, maka sosok mahasiswa harus memiliki setidaknya empat identitas yaitu:

Pertama,mahasiswa sebagai insan  relegius. Identitas ini, maka seorang mahasiswa harus memiliki landasan moral yang kuat sebagai manifestasi dan pengejewantahan dari ajaran agama yang digelutinya. Mahasiswa yang demikian dalam setiap kiprahnya tidak saja dituntut menampilkan pikiran-pikiran jernih, tetapi bagaimana aktualisasi dari pikiran itu mendorongnya untuk mengamalkannya sebagai bagian dari ajaran agama yang menyeru kepada kebajikan serta mencegah kemungkaran.

Kedua,mahasiswa sebagai insan akademis. Identitas ini harus dipahami sebagai pendorong untuk mengisi diri dengan berbagai kemampuan intelektual. Pengisian itu tidak terbatas kepada disiplin ilmu yang digeluti, tetapi juga terhadap ilmu lain yang dapat dicapai dan membawa manfaat terhadap dirinya maupun orang lain. Pengisian itu juga tidak boleh dibatasi
oleh waktu dan ruang akademik saja, tetapi olahan-olahan ilmu harus senantiasa digali sepanjang kemampuan yang dimiliki. Justru harus diketahui bahwa ilmu dan bacaan yang tidak pernah kering untuk digali adalah lingkungan dan masyarakat yang ada disekeliling kita. Mahasiswa sebagai insan akademis juga harus diartikan sebagai sosok yang bebas menentukan sikap; ukurannya adalah objektifitas dalam mengemukakan argumen: cinta kebenaran dan keadilan. Dengan pemahaman yang demikian maka ilmu yang dimiliki betul-betul menyentuh kebutuhan masyarakat banyak, sebab ilmu itu bukan untuk ilmu tetapi ilmu adalah untuk diamalkan.

Ketiga, mahasiswa sebagai insan sosial. Dengan konsep ini seorang mahasiswa senantiasa menyadari akan hakikat dan keberadaannya, bahwa ia hadir dalam ruang yang tidak hampa. Ia dikelilingi oleh insan-insan lain dengan pelbagai persoalan dan latar belakangnya masing-masing. Dengan kapasitas dan pemahaman keilmuannya, ia pun harus memberikan kontribusinya terhadap setiap persoalan yang dihadapi lingkungannya.

Keempat, sebagai insan yang mandiri. Salah satu yang harus terpatri dalam diri mahasiswa adalah kesadaran akan kemandiriannya. Tuntutan ini lebih pada kemampuan mengolah hasil pikirannya tanpa dipengaruhi oleh kekuatan lain. Sehingga objektifitas dan independensi dari tindakannya senantiasa terjaga. Dengan kemandirian yang dimiliki ia bebas memainkan perannya sesuai dengan kebenaran yang diyakininya sendiri dan tuntutan nuraninya. Kesadaran ini harus dibangun dan diasah terus menerus, sebab ketika kemandirian itu ternodai maka obyektifitas perilaku akan dipertanyakan yang pada gilirannya tindakannya tidak lagi berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Keempat identitas di atas harus dipahamai secara komprehensif dan saling bersinergi menjadi satu keutuhan, sehingga nantinya muncul satu citra yang positif yang tergambar dari pikiran dan perilakunya. Citra itu adalah sosok mahasiswa yang berilmu, mempunyai sifat keterbukaan, dinamis dalam bertindak, tegas dalam perilaku, serta jujur dan konsekuen. Jika mahasiswa tidak sadar atas peran-peran tersebut, maka regenerasi intelektual hanyalah wacana belaka yang sulit tercapai. Cita-cita itu hanya akan menjadi mimpi, negarapun akan jatuh bangun atas inkonsistensi membangun generasi pelanjutnya, sebab generasi yang ada hanyut dengan capaian pendahulunya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan