Mohon tunggu...
Andi Muhammad Asbar
Andi Muhammad Asbar Mohon Tunggu...

Pengajar

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Napak Tilas, Menuju Indonesia Merdeka

7 Agustus 2016   20:48 Diperbarui: 7 Agustus 2016   21:15 0 1 1 Mohon Tunggu...

Kemerdekaan merupakan atas berkat rahmat Allah swt. sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 oleh sebab itu, kita wajib mensyukuri kemerdekaan yang telah kita nikmati sebagai rakyat Indonesia. Para pendahulu telah berjuang bertahun-tahun lamanya untuk mencapai Indonesia merdeka dari tangan kaum penjajah. Perjuangan mereka memakan korban yang tidak sedikit baik harta, tenaga bahkan nyawa. Generasi demi generasi telah berganti, ribuan bahkan puluhan ribu pahlawan telah gugur sebagai syuhada dalam berbagai bentuk perjuangan ikut mempertahankan NKRI sungguh sebuah peristiwa yang memilukan betapa sulitnya pendahulu kita meraih sebuah kemerdekaan untuk segenap rakyat Indonesia.

Masyarakat Indonesia harus mengetahui gambaran sejarah negaranya. Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 merupakan buah sejarah dan puncak perjalanan panjang perjuangan bangsa Indonesia. Setiap peristiwa memiliki keterkaitan dan benang merah yang kuat antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya.

Presiden Soekarno dalam Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia tanggal 18 Agustus 1945 berkata “Negara Indonesia harus dibangun dalam satu mata rantai yang kokoh dan kuat dalam lingkungan kemakmuran bersama. Kebangsaan yang dianjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri dan hanya mencapai Indonesia merdeka, tetapi harus menuju pula pada kekeluargaan bangsa-bangsa menuju persatuan dunia”. Pidato tersebut memberikan pesan kepada generasi penerus bangsa untuk bahu-membahu membangun bangsa dalam kerangka persatuan dan kesatuan tidak untuk bercerai-berai.

Seiring dengan perkembangan kehidupan global dan tuntutan sebagai akibat dari kemajuan dari segala bidang, kemerdekaan bangsa harus diterjemahkan dalam format pembentukan kedaulatan ekonomi dan demokratisasi. Indonesia boleh jadi merdeka dari penjajah bangsa lain tapi merdeka dari  penyakit kemiskinan, keterbelakangan, korupsi, kolusi dan nepotisme serta berbagai bentuk ketidakadilan lainnya justru datang dari bangsa sendiri.

Kelemahan bangsa dalam menghadapi liberalisasi sebagai buah dari globalisasi dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai ekses negatif, salah satunya yakni krisis ideologi yang akhirnya akan menggerus jati diri sebuah bangsa yang Pancasilais. Apabila tidak direspon secara arif, khususnya para elite politik kita, justru akan mengancam makna kemerdekaan di tingkat  individual masyarakat. Olehnya itu, pengukuhan terhadap nilai-nilai dasar Nasionalisme yang telah dibentuk sejak awal kemerdekaan, yaitu kecintaan terhadap pluralisme bangsa, solidaritas dan persatuan, merupakan ikhwal yang esensial untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mengisi kemerdekaan.

Ibnu Khaldun mengibaratkan Negara adalah suatu makhluk hidup yang lahir, mekar menjadi tua dan akhirnya hancur. Negara mempunyai umur seperti makhluk hidup lainnya. Menurutnya umur suatu Negara adalah tiga generasi, yakni sekitar 120 tahun. Satu generasi dihitung umur yang biasa bagi seseorang yaitu 40 tahun. Ketiga generasi tersebut ialah, Pertama, Generasi perintis atau pembangun mereka hidup dalam keadaan primitif yang keras dan jauh dari kemewahan dan kehidupan kota, masih tinggal di pedesaan. Segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. Saat Belanda berhasil menguasai Indonesia untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya sementara Bangsa Indonesia mengalami penderitaan lahir batin. Penjajah melakukan dominasi politik, oksploitasi ekonomi dan memperlakukan rakyat Indonesia dengan sewenang-wenang dengan berbagai cara. Generasi inilah yang berjuang melakukan perlawanan keras kepada para penjajah untuk mengusirnya dari tanah air Indonesia dan akhirnya rakyat Indonesia yang diwakili oleh tokoh pejuang bangsa berhasil menyerukan Proklamasi Kemerdekaan yang disusun oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo. Inilah hasil perjuangan dari generasi perintis Kemerdekaan Republik Indonesia untuk mewujudkan peradaban yang baru pasca penjajahan.

Kedua, Generasi Penikmat, yakni mereka yang larut dengan kemerdekaan karena telah diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Nilai-nilai agama dan budaya bangsa tidak dijadikan sumber etika dalam berbangsa dan bernegara oleh sebagian masyarakat. Hal ini kemudian melahirkan krisis akhlak dan moral yang berupa ketidakadilan, pelanggaran hukum dan pelanggaran hak asasi manusia. Perilaku ekonomi yang berlangsung dengan praktik KKN, serta kurangnya keberpihakan terhadap kelompok usaha kecil menengah, sehingga menyebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan, utang besar yang harus dipikul oleh Negara, pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat serta kesenjangan sosial-ekonomi yang makin melebar.

Ketiga, generasi penghancur sebab generasi ini tenggelam dalam kemewahan, penakut dan kehilangan makna kehormatan, dan keberanian. Generasi ini tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan negaranya. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa mempedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun proses ini berlangsung sekitar satu abad lamanya. Tahapan-tahapan di atas kemudian terulang lagi, dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lainnya.

Boleh jadi apa menjadi pendapat Ibnu Khaldun dapat menimpa Negara Indonesia serta bangsa-bangsa lainnya, dengan mencermati kondisi masa lalu, masa kini dan tantangan dimasa yang akan datang perlu kiranya untuk memperkokoh kembali rasa kebangsaan dan tanggung jawab dalam menjaga kehormatan serta martabat bangsa (Hubbul Wathan Minal Iman).

Tag lineRevolusi Mental” oleh pemerintahan Jokowi-JK sangat urgen untuk diimplementasikan dalam berbagai aspek Negara Indonesia. Mental rakyat Indonesia yang lemah, akan memudahkan bangsa lain untuk menjajah kembali NKRI tapi dalam wujud yang lain yang perlahan tapi pasti. Kemerdekaan bukanlah even ceremonial belaka yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus, tetapi kemerdekaan adalah peralihan tugas kenegaraan dari generasi pendahulu ke generasi selanjutnya mempertahankannya adalah harga mati dan memakmurkannya adalah kewajiban bagi seluruh bangsa Indonesia.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x