Andi Harianto
Andi Harianto lainnya

Tinggal di Kota Kecil Bantaeng, 120 Kilometer, arah Selatan Kota Makassar. Setiap orang adalah guru ku dan setiap tempat adalah sekolahku Sebagian tentang saya, ada di http://bungarung.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Hankam

Tentara Vs Polisi Makassar Bentrok, Tanya Mengapa ?

28 November 2010   04:49 Diperbarui: 26 Juni 2015   11:14 6514 3 0
Tentara Vs Polisi Makassar Bentrok, Tanya Mengapa ?
12909190451836706307

[caption id="attachment_77350" align="alignright" width="300" caption="Ilustrasi:https://www.tribun-timur.com/read/artikel/138575/TNI-Polri-Tegang-Hingga-Dini-Hari "][/caption] Sepotong penggalan Orde Baru, sempat saya nikmati. Saat Dwi Fungsi ABRI belum ditiadakan. Tentara memang jumawa dan polisi inferior. Kini keadaan mulai berbalik. Polisi berkuasa atas pengamanan, TNI hanya membantu. Itupun jikalau diminta. Saya tidak hendak mengatakan bahwa Dwi Fungsi itu salah. Apalagi hendak mengatakan bahwa itu sumber konflik tentara-polisi. Masalahnya adalah arogansi institusi, bisa jadi kesejahteraan, bisapula iri hati, dan yang pasti ini masalah moalitas. Karena kekerasan sungguh tidak bermoral. Briptu Kasman (24) anggota Dit Samapta PAM Opsus Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulselbar, dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Jumat (26/11). Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka bacok pada bagian kepala, lengan kanan dan jari kiri yang nyaris putus. Pundak sebelah kanan korban serta bagian paha sebelah kiri Kasman juga mengalami luka yang cukup parah dan menganga akibat sabetan sangkur yang diduga digunakan para pelaku. Demikian berita yang dilansir tribun-timur.com. Walau pelaku kejadian yang diidentifikasi sebanyak sepuluh oang berambut cepak itu, namun pelaku penganiayaan seorang polisi ini, ditampik Kapolda Sulsel-Sulbar, Inspektur Jenderal Johny Wainal. Menurutnya, kasus ini sementara dalam penyelidikan. “"Saya tidak mau berspekulasi. Siapa pun bisa memiliki rambut cepak," ujarnya tersenyum, saat diwawancarai salah satu media local Makassar. Pernyataan Bapak Kapolda itu, dapat dimaklumi. Beliau berusaha menenangkan keadaan. Walau tidak dapat dipungkiri, telah terjadi bentrok antara polisi dan tentara saat laga PSM melawan Persiwa Wamena di Stadion Andi Mattalatta pada hari Rabu malam (24/11). Walau pernyataan Kapolda itu dapat dipahami, setidaknya saya sebagai konsumen berita bisa menebak dengan pasti, bahwa bentrokan ini adalah rangkaian kejadian pada hari sebelumnya. Ketika bentrok telah terjadi. Seperti biasanya, maka semua petinggi akan berusaha menenangkan. Baik itu Kapolda, Pangdam VII Wirabuana dan Walikota Makassar. Semua seolah berusaha mengaburkan subtansi kejadian, agar tercipta ketenangan, tetapi bara itu tetap saja tersimpan. Nah, siapa yang salah? Dan apa penyebabnya? Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan Kepala Staf Kodam VII Wirabuana Brigjen Subakti, insiden bermula ketika ada oknum polisi --yang bertugas menjaga keamanan di luar stadion—datang bersama kawan-kawannya sesama polisi.  Mereka memaksa masuk meski tidak memiliki tiket. Namun anggota TNI yang menjaga pintu tidak mengizinkan. Terjadilah bentrok. Dilain kesempatan, seusai salat Jumat digelar, imam masjid Polda Sulsel mengumandangkan salawat badar. Sejak siang kemarin, polisi diminta untuk tidak memakain pakaian dinas. Polisi lalu lintas juga hanya bertugas di pusat kota. Dari berita ini, dapat kita pahami siapa yang memulai konflik. Tetapi terlepas dari semua ini, bentrok telah menyusahkan rakyat yang selayaknya diamankan oleh yang bentrok. Macet bahkan terjadi dimana-mana. Bahkan sampai melumpuhkan Jl. Urip umohajo-Perintis kemedekaan selama 4 jam. Bahkan ketegangan terus terjadi sampai dini hari, sejak hari Jumat-Sabtu (26-27/11). Jarak antara Bantaeng dimana sekarang saya berada dengan Makassar, sekitar 120 km. tetapi bentrok ini ramai dibicarakan di tempatku kini. Berbagai analisa awam muncul. Ada yang menyalahkan tentara ada juga yang menghujat polisi, bahkan panitia pelaksana pertandingan bola, tak lepas kena imbas.Pihak yang menyalahkan TNI, memberi alas an. Bahwa tidak seharusnya TNI yang menjaga pintu masuk. Tugas pengamanan ada pada polisi. TNI hadir ketika polisi memintanya. Pihak yang menyalahkan polisi, mengatakan “akh, begitu memang polisi. Ada ji gaji na, kenapa mau gratis. Dimana-mana polisi begitu. Mengandalkan pakaian dinasnya untuk gratis. Memalukan”., kenyataannya memang demikian. Setidaknya sering terdengar aparat polisi gratis. Namanya juga pengamanan. Tidak gratis maka tidak aman. Mungkin ada benarnya kata Daeng Sese tetanggaku itu. Saat berbincang-menjelang magrib di teras rumahku kemarin. Nah, sekarang giliran panitia yang disalahkan, yang menyalahkan itu saya. Si tukang protes. Panitia juga salah. Menurutku, kalau memang aturannya polisi yang menjaga kemanan,kenapa memanggil tentara. Kesan ini memunculkan persepsi bahwa tentara lebih jumawa. Polisi kalah pamor. Kondisi inilah yang mungkin memicu ketersinggungan dua institusi aparat negara berseragam keamanan itu. [caption id="attachment_77351" align="alignleft" width="331" caption="https://www.surya-majapahit.co.cc/2010/10/65-tahun-tentara-nasional-indonesia.html"]

12909193752083325452
12909193752083325452
[/caption] Terlepas dari salah-membenarkan di atas, yang pasti kejadian bentrok polisi-tentara sering terjadi. Di Bantaeng juga terjadi tiga tahun lalu, juga dengan kasus sepele. Di Makassar juga sering terjadi. Bahkan di seluruh nusantara ini banyak dicederai bentrok kedua institusi ini, termasuk bentrok kecil di tempat-tempat hiburan malam, yang juga biasanya menggunakan aparat TNI untuk membantu keamanan. Polisi menggerebek. Terjadilah konflik. Kabar selentingan nya, bahwa penyebab konflik adalah ‘perebutan lahan’. Persis sama dengan bentrok tukang parkir atau preman pasar. Tidak semua polisi jahat karena beliaulah yang menangkap penjahat. Tidak semua tentara itu pengacau, karena merekalah yang mengamankan negara. Menjaga marwah kedaulatan. Saya tekadang terenyuh melihat pak polisi dipagi hari memandu anak sekolah menyebrang jalan. Berpanas dan berpeluh disiang hari mengatur lalu-lintas. Demikian halnya TNI, saya begitu salut saat melihat mereka menembus medan bencana dengan gagahnya. Mengevakuasi dengan nurani kemanusiaan, dan ikut kerja bakti bersama rakyat. Tolong jangan digeneralisir.

Bantaeng, 28 November 2010

Sumber tautan berita :

https://www.tempointeraktif.com/hg/sepakbola/2010/11/27/brk,20101127-295013,id.html //https://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/11/25/brk,20101125-294474,id.html https://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/11/25/brk,20101125-294372,id.html//https://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/11/24/brk,20101124-294318,id.html https://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/11/26/brk,20101126-294737,id.html https://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/bentrok_polisi_tni070925-redirected