Mohon tunggu...
Andi Chairil Furqan
Andi Chairil Furqan Mohon Tunggu... Menelusuri Fatamorgana

Mengatasi Masalah Dengan Masalah Baru

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Pak Wishnutama, Industri Kreatif Bisa Dimaksimalkan Perannya Menghadapi Covid-19!!!

30 Maret 2020   17:24 Diperbarui: 30 Maret 2020   17:42 71 0 0 Mohon Tunggu...

Salah satu terobosan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (yang dipimpin oleh Pak Wishnutama) dalam penanganan wabah COVID-19 yang patut diacungi jempol adalah adanya inisiatif untuk menjalin kerjasama dengan jaringan pengusaha hotel dan transportasi untuk menyediakan fasilitas akomodasi dan transportasi bagi tenaga medis dan gugus tugas yang menjadi garda terdepan dalam penanganan wabah COVID-19. 

Selain itu, sebagaimana siaran pers Kemenparekraf tanggal 23 Maret 2020, juga telah dihimbau kepada para pelaku sektor ekonomi kreatif: seperti televisi, film, rumah produksi, konten kreator, radio, animasi, desain grafis, artis, seniman, juga berbagai komunitas dan jeraring kreatif di berbagai daerah, agar aktif terlibat membantu pemerintah dalam menyosialisasikan langkah pencegahan penyebaran COVID-19 kepada masyarakat.

Namun demikian, selain itu, sebenarnya masih banyak lagi industri kreatif atau terkait kepariwisataan yang harus dibina ataupun dimaksimalkan perannya agar tetap bisa bertahan dan berperan aktif dalam menghadapi mewabahnya COVID-19 ini, diantaranya usaha kuliner dan usaha konveksi ataupun usaha lainnya yang terkait.

Usaha kuliner misalnya, Kemenparekaf dapat bekerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk membina para pengusaha kuliner dalam meningkatkan kualitas standar kesehatan/higienitas produk-produk makanan, baik dalam penyediaan bahan baku, proses produksi maupun sampai kepada pelayanannya, termasuk kualitas packaging dan proses pengantaran makanannya ke konsumen. 

Hal ini perlu mendapat perhatian sesegera mungkin, karena salah satu bisnis yang saat ini terancam adalah industri kuliner. Anjuran Pemerintah untuk lebih banyak tinggal (bekerja, belajar dan beribadah) di rumah telah memungkinkan masyarakat untuk memasak sendiri di rumah. Selain itu, dengan adanya "ketakutan" penularan melalui "makanan" dan/atau "kurir" juga menjadikan bisnis kuliner menjadi sepi orderan. Oleh karena itu, Kemenparekaf harus bisa berkontribusi nyata agar bisnis kuliner ini masih tetap bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.

Begitupula terkait dengan usaha konveksi, berkurangnya kegiatan masyarakat di luar rumah menyebabkan bisnis ini menjadi sepi orderan. Namun demikian, apa yang telah dilakukan oleh Pengusaha Anne Avantie ataupun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menciptakan produk Alat Pelindung Diri (APD) medis dapat memberikan angin segar bagi pengusaha konveksi di Indonesia. Tentunya selain untuk misi kemanusiaan, Kemenparekaf seharusnya bisa mengkampanyekan ataupun memfasilitasi agar pengusaha konveksi tetap bisa berproduksi. Pengusaha konveksi ataupun balai-balai pelatihan kerja (BLK) yang ada di seluruh daerah Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia harus di dorong untuk dapat menciptakan produk yang saat ini dibutuhkan dalam penanganan COVID-19. Dalam hal ini, Kemenparekaf dapat bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Pemerintah Daerah atau pihak lainnya dalam hal peningkatan kualitas SDM, kapasitas produksi maupun penyediaan bahan bakunya, sehingga hasilnya dapat memenuhi kualitas standar kesehatan. Selain dapat membantu pengusaha konveksi, hal ini juga akan lebih mengefektifkan dan mengefisienkan kerja Pemerintah/Pemerintah Daerah dan tenaga medis. Bahkan, jika dilakukan secara massif di seluruh Indonesia, bisa saja tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, mungkin impor pun dapat dilakukan (mengingat hal ini menjadi kebutuhan mendesak seluruh negara saat ini), sebagaimana yang telah dilakukan oleh China saat ini. 

Kembali ke masalah penyediaan akomodasi bagi tenaga medis yang bekerjasama dengan pengelola hotel yang ada di Indonesia. Selain itu, sebaiknya Kemenparekaf juga saat ini menjalin kerjasama dengan kementerian kesehatan beserta kementerian/BUMN terkait dan seluruh Pemerintah Daerah, guna merancang agar di seluruh Daerah di Indonesia memiliki tempat isolasi khusus bagi ODP ataupun PDP yang harus mendapatkan pengawasan dari tenaga medis, sebagaimana Wisma Atlit yang ada di Jakarta. 

Keberadaan Asrama/Penginapan pada Balai Pendidikan dan Pelatihan yang ada di Daerah baik yang dimiliki oleh Kementerian maupun oleh Pemerintah Daerah (ataupun fasilitas-fasilitas Pemerintah lainnya), seharusnya telah dipersiapkan untuk berjaga-jaga seandainya kapasitas rumah sakit di suatu daerah tidak mencukupi lagi. Dalam hal ini, Kemenparekaf memiliki sumber daya dalam membantu terciptanya suatu pelayanan akomodasi yang maksimal dan sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku, sehingga dapat lebih proaktif mendorong Kementerian/Pemerintah Daerah, BUMN/BUMD bahkan Pengusaha untuk bersama-sama memaksimalkan dan mengefektifkan pemanfaatan sumber daya yang telah dimiliki saat ini guna dalam penangangan COVID-19.

Tentunya masih banyak potensi-potensi industri kreatif dan kepariwisataan lainnya dibawah kewenangan Kemenparekaf yang perlu dipertahankan keberadaan dan dimaksimalkan perannya dalam menghadapi mewabahnya COVID-19 ini.

Yang perlu diingat adalah untuk saat ini dan ke depan, potensi pariwisata akan sangat bergantung pada sistem kesehatan suatu negara/daerah.
Tidak cukup dengan keindahan alam atau keunikan/kekayaan budaya semata, untuk menentukan tujuan wisatanya, kedepannya Para turis/wisatawan juga akan lebih mempertimbangkan sejauhmana suatu Negara/daerah memiliki sistem kesehatan yang mumpuni, memiliki fasilitas kesehatan yang berkualitas, memiliki lingkungan yang sehat, mampu memberikan jaminan higienitas produk-produk yang dihasilkan.

Karenanya, Pola Hidup dan Lingkupan Sehat saat ini telah menjadi kepentingan bagi Kemenparekaf, demi mewujudkan pariwisata yang hebat dan negara yang kuat.

Selamat Bertugas Pak Wishnutama, anda pasti bisa menghadapi tantangan ini... Semoga sehat dan sukses selalu...

VIDEO PILIHAN