Mohon tunggu...
Andi Anto Patak
Andi Anto Patak Mohon Tunggu...

Andi Anto Patak was born in a small village, Kasiwiang, Luwu Regency. In 1998, he passed the Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN). He was accepted in Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar. In 2000, he decided to transfer to Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni. He has been working as an academic staff at Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra since 2007

Selanjutnya

Tutup

Digital

Facebook Kian Fenomenal

13 April 2012   09:57 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:39 501 0 0 Mohon Tunggu...

Asal-usul facebook

Sebagaimana yang dilansir A+E Television Networks dalam situsnya, www.biography.com, bahwa gagasan "facebook" berawal dari dibuatnya program CourseMatch oleh Mark Zuckerberg. Marck Zuckerberg membuat program ini di tahun kedua ia kuliah di Harvard University untuk membantu mahasiswa memilih kelas berdasarkan pilihan mata kuliah pengguna lainnya. Dia juga membuat program Facemash untuk membandingkan dua foto mahasiswa dan memperkenankan pengguna untuk memilih foto yang lebih menarik. Program ini menjadi popular, tetapi kemudian ditutup oleh admin kampus karena dianggap kurang pantas. Desas-desus ini terlacak oleh tiga orang seniornya, yakni Divya Narendra dan dua saudara kembar Cameron dan Tyler Winklevoss. Ketiga seniornya ini mengajak Mark Zuckerberg mencari cara mewujudkan ide situs jejaring sosial. Bersama dengan teman-temannya, Mark Zuckerberg membuat situs yang memungkinkan penggunanya membuat profile sendiri, unggah foto dan berkomunikasi dengan pengguna lain. Kelompok pertama yang mengelola situs ini disebut "The Facebook" yang berkantor di luar asrama mahasiswa Harvard sampai bulan Juni 2004. Setelah dua tahun kuliah di Harvard University inilah, Mark Zuckerberg memilih Drop Out demi mengabdikan diri sepenuhnya untuk "Facebook". Bersama teman-temannya, yakni Dustin Moskovitz, Chris Hughes dan Eduardo Saverin, Zuckerberg akhirnya memindahkan kantornya ke Palo Alto, California. Di akhir tahun 2004, "Facebook" memiliki 1 juta pengguna.



Dampak sosial

Mark Zuckerberg, sang legenda hidup penemu jejaring sosial telah berhasil menghipnotis jutaan manusia di seluruh dunia lewat inovasinya yang fenomenal. Kini, fenomena facebook telah menjadi candu yang melintasi batasan umur, tidak pandang bulu, sanggup menembus sekat ruang dan tidak mengenal waktu. Saking fenomenalnya jejaring sosial ini, penggunanya pun mulai dari anak yang masih bau kencur yang terpaksa manipulasi umur saat sign up, hingga mereka yang sudah hampir "expired" alias lanjut usia. Jejaring sosial ini juga digandrungi oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga jenjang Doktor. Mulai dari rakyat jelata sampai seorang presiden pun punya akun facebook. Awalnya sekadar tidak mau dicap kolot, kurang gaul, suka menyendiri, hingga akhirnya punya ribuan teman lintas pulau, Negara dan bahkan benua.

Hampir semua elemen masyarakat keranjingan facebook. Anak sekolahan banyak yang bolos sekolah karena mau "fesbukan" (bahasa gaul remaja Indonesia yang bermakna mengakses facebook). Rutinitas dimulai dengan update status sampai tertidur mendengkur. Bangun tidur langsung kembali update status, chatting hingga bermain game tanpa rasa bosan. Demikian seterusnya, seakan waktu 24 jam dalam sehari semalam fesbukan tetap dirasakan tidak cukup.

Waktu berlalu begitu cepat, teman bertambah banyak, sehingga tiada hari tanpa facebook. Hal ini menunjukkan semakin berpengaruhnya situs ini dari hanya sekadar iseng, bernarsis ria, tag foto sampai berkomentar pedas yang membuat telinga memerah panas. Banyak facebooker yang terjebak dalam perangkap menyambung silaturahmi dengan teman-teman lama. Namun, lama kelamaan tergoda untuk menonjolkan diri sendiri. Berlomba-lomba mengupdate status di akun facebook masing-masing. Hingga tanpa sadar sudah membeberkan tentang seluk beluk dirinya seakan tidak ada lagi privacy dalam hidup.

Bagi orang yang sudah keranjingan jejaring sosial ini, mungkin efeknya melebihi candu rokok bahkan mungkin ganja sekalipun. Kondisi keterasingan masyarakat global menyebabkan gejala kecanduan muncul terhadap dunia khayal. Realitas getirnya dunia nyata dalam bingkai teka-teki menuntun manusia mencari dunia baru. Momen ini ditangkap oleh facebook sebagai media yang menawarkan gaya hidup dunia baru. Mulai dari sebagai media ekspresi diri untuk mendapatkan banyak pujian hingga sebagai media pelampiasan kekecewaan karena frustasi. Postingannya pun mulai dari ekspresi kebahagiaan hingga ungkapan narsis,sinis dan pedis yang lahir dari jiwa yang galau mungkin akibat manajemen waktu yang kacau.

Tidak jarang manager di kantor dibuat uring-uringan akibat ulah bawahannya yang fesbukan saat jam sibuk. Staff pengajar gerah dengan ulah peserta didiknya fesbukan dalam kelas pada saat jam pelajaran berlangsung. Peserta didik dongkol karena staff pengajar lupa jam mengajar akibat keasyikan chatting dan bermain game online. Siswa dan mahasiswa banyak memilih fesbukan ketimbang membaca buku di perpustakaan. Akses internet gratis di institusi pendidikan menjadi tidak maksimal fungsinya karena peserta didik dan mungkin bahkan staff pengajar asyik main game online di facebook.

Tidak jarang suami selingkuh setelah berteman dengan perempuan yang tidak beres. Demikian pula sebaliknya, banyak istri yang sudah bosan dengan rutinitas suami yang "gaptek" alias gagap teknologi. Para ibu rumah tangga seakan mendapat proyek baru karena hari-harinya sarat dengan kesibukan sebagai arsitek yang sedang mendesain rumah virtual (maya/khayal) di facebook. Mereka lupa eksistensinya sebagai ibu rumah tangga. Lebih banyak waktu dihabiskannya bermain game di facebook ketimbang mengurusi anak dan suaminya.

Banyak anak-anak yang tidak peduli lagi dengan nasihat orang tua. Komunikasi secara personal pun praktis berkurang intensitasnya. Komunikasi tatap muka telah tergantikan dengan komunikasi massal di facebook. Facebook membuat orang jadi kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Para facebooker lebih sering berinteraksi dengan dunia maya daripada dengan dunia nyata.

Facebooker beramai-ramai memajang status dirinya, foto terbaru dan perasaan terkini serta semua aktifitasnya ke publik. Mereka berharap teman facebooknya ramai-ramai mengklik "like" plus mengomentari postingannya. Jika postingnya sepi komentar, biasanya langsung dihapus dan diganti dengan postingan lain yang diyakini akan dikomentari banyak orang.

Demikianlah hari demi hari dilalui oleh banyak facebooker. Akibatnya, produktivitas kerja menurun. Mereka yang sudah kecanduan facebook sulit diajak berkomunikasi karena godaan facebook yang membuat penggunanya terlena. Facebooker seakan tidak merasakan kalau sejam, sehari, sepekan dan bahkan sebulan telah berlalu sampai pada akhirnya hidup terasa hampa karena tidak ada karya nyata. Facebook sebagai sebuah revolusi teknologi informasi menggiring manusia ke gaya hidup yang didikte oleh interaksi sosial dunia maya.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok sosial banyak bermunculan di facebook berdasarkan minat dan hobi di dunia nyata. Fenomena ini menjadi peluang komunitas sosial untuk mencari pendukung. Partai politik menjadikan jejaring sosial ini sebagai media komunikasi pelbagai problem yang dialami oleh kadernya. Tantangan dan peluang maju sebagai kandidat yang ingin menduduki posisi penting dalam partai politik, pemerintahan, organisasi sosial kemasyarakatan dan institusi pendidikan bisa dipantau melalui jejaring sosial ini. Bahkan, kecendrungan masyarakat menjatuhkan pilihannya terhadap figur tertentu bisa dideteksi sedini mungkin dengan banyaknya facebooker yang mengklik tanda "like" di situs publik figur yang sudah terkoneksi dengan facebook.

Bagaimanapun, facebook sebagaimana layaknya jejaring sosial lainnya memiliki dua sisi yang berbeda, yakni baik dan buruk. Tentu saja, facebook akan berpengaruh positif jika digunakan secara proporsional, namun juga bisa berpengaruh negatif jika penggunaannya melampaui batas kewajaran.

Euphoria jejaring sosial seharusnya menjadi momentum yang mencerdaskan bukan sebaliknya melenakan. Para ilmuan dapat memanfaatkannya untuk share hasil penelitian terbaru. Para politisi mempublikasikan karya nyata ke konstituennya untuk menanamkan keyakinan bahwa mereka tidak akan salah pilih. Para juru dakwah memposting nasihat yang menyegarkan pikiran dan hati ummat. Para pendidik membuat kelompok belajar untuk mencerdaskan anak didiknya. Para pustakawan memanfaatkannya dengan posting buku atau jurnal terbaru yang dapat diakses oleh anggota perpustakaan. Ibu rumah tangga dapat memanfaatkannya sebagai radar untuk mendeteksi dan memonitor kegiatan anaknya. Tukang becak/ojek dan supir taxi untuk dihubungi pelanggannya.

Akhirnya, facebook sebagai sebuah inovasi media komunikasi, sepatutnya menjadikan penggunanya saling pengertian. Sesuai harapan Jurgen Habermas dengan teori kritis paradigma baru bahwa komunikasi adalah tindakan saling pengertian. Jejaring sosial serperti facebook telah membawa nuansa baru dalam kehidupan masyarakat modern. Beragamnya fitur yang ditawarkan facebook, menjadikannya sebagai sarana komunikasi paling diminati mulai dari anak ingusan sampai orangtua ubanan.

Sejatinya, para facebooker mengakses facebook secara proporsional sesuai teori "Hirarki Kebutuhan Maslow". Memposisikan kebutuhan secara hirarki, mulai kebutuhan dasar, rasa aman, dicintai dan disayangi, dihargai sampai kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Sejatinya, facebooker mengakses facebook secara wajar. Facebooker selayaknya menjadikan facebook sebagai media silaturrahmi untuk membantu sesama. Facebooker sewajarnya mengomentari postingan temannya sehingga tidak menimbulkan huru hara. Akhirnya, seorang facebooker juga harus mempertimbangkan sebaik-baiknya setiap posting atau komentarnya di facebook sehingga tidak menebarkan benih kebencian.




Oleh:

Andi Anto Patak

Dosen Business English FBS UNM

Sedang lanjut study di UTM

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x