Mohon tunggu...
Andhika Zulkarnaen
Andhika Zulkarnaen Mohon Tunggu... Penggiat Media Online, Pemerhati Branding/Marketing, Penikmat Kopi, Musik dan Film.

Penggiat Media Online, Pemerhati Branding/Marketing, Penikmat Kopi, Musik dan Film. Founder www.cultura.id

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Media Sosial, Arena Pertemuan Berbagai Kepentingan

5 April 2020   17:43 Diperbarui: 10 April 2020   10:35 228 10 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Media Sosial, Arena Pertemuan Berbagai Kepentingan
Ilustrasi bermain media sosial. (Photo via Pexels)

Laporan Digital Around The World yang dirilis oleh Hootsuite awal tahun 2019, menunjukkan bahwa dari total 268,2 juta jiwa penduduk Indonesia terdapat sekitar 150 juta jiwa yang merupakan pengguna Internet. Jumlah ini meningkat sekitar 13% atau naik sekitar 17 juta jiwa dibandingkan tahun 2018. 

Begitu juga dengan data pengguna media sosial aktif di Indonesia yang tercatat sekitar 150 juta jiwa. Angka ini meningkat 15% atau sekitar 20 juta jiwa dari tahun 2018. 

Artinya, kurang lebih ada setengah dari total jumlah keseluruhan masyarakat Indonesia yang memiliki akses internet dan sekaligus menggunakan media sosial secara aktif.

Namun, glorifikasi statistik tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas. Toh, ruang besar bernama media sosial memberi kesempatan pada algoritma untuk bekerja.

Statistik Pengguna Digital Dan Internet Indonesia 2019 | via Hootsuite
Statistik Pengguna Digital Dan Internet Indonesia 2019 | via Hootsuite

Bagaimana Algoritma bekerja?

Algoritma mengkomputasikan jejak-jejak digital dan menggiring kita untuk tahu apapun dari manapun dalam waktu yang sangat singkat. Mulai dari informasi yang kita inginkan, sampai pada informasi yang justru hanya merugikan kita. 

Algoritma adalah semacam "perintah" yang dirancang untuk menghasilkan "keputusan" tertentu. Keputusan-keputusan yang dihasilkan berasal dari pembacaan riwayat aktivitas kita selama berselancar di dunia maya. 

Riwayat aktivitas yang dimaksud seperti informasi apa yang dicari, musik apa yang didengar, video apa yang dinonton, hal-hal apa yang dibagikan, dengan apa dan siapa kita berjejaring, dll. 

Keseluruhan aktivitas daring ini disebut digital path. Digital path-lah yang dikomputasi oleh algoritma. Hasilnya adalah gelembung penapis (filter bubbles) dan atau ruang gema (echo chamber).

"Polarisasi pun tidak terhindarkan. Sekarang, pemilihan umum telah usai. Namun apakah "ribut-ribut" juga selesai? Jawabannya, tentu tidak."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x