Mohon tunggu...
Andalasia
Andalasia Mohon Tunggu... Think Sharp

Peduli, Mengamati, Mempelajari, Memahami, Menulis

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Bandungku Kini Di Luar Ekspektasi

16 Juli 2020   22:01 Diperbarui: 17 Juli 2020   11:43 115 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bandungku Kini Di Luar Ekspektasi
gedung-sate-5f10650bd541df542843a762.jpg

Dok: Today.line

Keindahan alam, keelokan budaya dan letak geografis kota Bandung memang sangat mengagumkan. Kota metropolitan berjuluk Parijs Van Java ini telah lama menjadi tujuan dan primadona para perantau dari berbagai penjuru Nusantara bahkan dunia.

Keindahan alam kota Bandung memang tiada duanya serta sulit dicari tandingan serupa kota-kota lain di Indonesia. Kota ini dikelilingi pegunungan yang bersambung sehingga membentuk semacam mangkuk alam raksasa pada ketinggian lebih 800 meter di atas permukaan laut. Walau tergolong kota besar, namun Bandung memiliki hawa sejuk terutama di bagian utara dan selatan yang mempunyai suhu udara harian rata-rata 210C. Keadaan yang demikian membuat dunia pariwisata khususnya pariwisata alam tumbuh bak jamur dimusim hujan.

Dunia pariwisata yang bertumbuh pesat kemudian diikuti sektor bisnis dan industry berupa perhotelan, wisma, villa, property, kuliner, fashion dan berbagai usaha sektor kecil dan menengah yang beraneka ragam. Tidak hanya itu, jarak kota Bandung ke pusat pemerintahan negara di Jakarta yang relatif dekat, infrastruktur yang cukup memadai, kemudahan akses teknologi informasi, fasilitas kesehatan yang lebih baik, ketersedian lapangan kerja serta kualitas pendidikan yang tergolong tinggi telah menjadikan kota Bandung menjadi tujuan belajar dan bekerja ratusan ribu manusia baik dari dalam maupun luar negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) kota Bandung mencatat hingga tahun 2020 kota Bandung yang hanya memiliki luas 167 Km2 telah dihuni 2.507.888 jiwa penduduk. Angka ini menjadikan kota Bandung menjadi kota terbesar ke-3 di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya berdasarkan jumlah penduduk dan kota berpenduduk terpadat ke-2 di Indonesia setelah Jakarta. Jumlah ini belum termasuk penduduk tidak tetap seperti warga dari daerah-daerah penyangga yang bekerja di Bandung, wisatawan dari luar kota, pelajar dan mahasiswa serta kunjungan-kunjungan lain yang tidak terdata sebagai warga ber-KTP kota Bandung.

Namun, potensi luar biasa yang dimiliki kota ini sampai sekarang belum dikelolah sepenuhnya secara maksimal dan bijaksana. Disektor pariwisata kita melihat pengelolaan brand Bandung sebagai Parijs Van Java cenderung stagnan bahkan semakin lama semakin memudar dan tidak ada evaluasi yang berarti dari waktu ke waktu. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya inovasi, strategi dan perbaikan yang signifikan untuk mempertahankan Bandung sebagai Paris di tanah Jawa.

Tentu tidak akan berlebihan jika banyak orang berekspektasi, kota Bandung sebagai Paris di tanah Jawa pasti menyediakan fasilitas dan ruang publik yang sangat baik, indah dan tertib. Kenyataannya ekspektasi memang tidak selalu sesuai dengan realita. Realita yang ada sekarang, berbagai fasilitas umum yang tersedia di Bandung seperti jalan raya, trotoar, jembatan, taman, pasar, tugu, halte dan fasilatas publik lainnya banyak dibiarkan dalam keadaan rusak bahkan ada yang terkategori rusak parah.

Jalan raya berlobang, bergelombang, kotor yang menjadi tumpukan sampah tidak sulit ditemukan di ruas-ruas jalan utama bahkan jalan-jalan protokol di kota Bandung, seperti Jalan Ir Djuanda, Jalan Otto Iskanar Dinata, Jalan Peta, Jalan Pasupati, Jalan A yani, Jalan PHH. Mustafa, Jalan H Samsudin, Jalan Astana Anyar, Jalan Dipati Ukur, Jalan Raya Kopo dan jalan-jalan utama lainnya. Disisi lain sistem lalu lintas di kota Bandung juga tidak diatur dengan sistem pengaturan lalu lintas yang baik dan efektif. Marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas yang sudah memudar dan usang, bus Trans Metro Bandung yang menaik-turunkan penumpang di tengah jalan raya akibat halte bus yang rusak/tidak berfungsi, lampu penerangan jalan yang belum memadai, pepohonan pinggir jalan yang tidak tertata (rawan/sering roboh ketika cuaca lagi tidak baik) serta penegakan disiplin dan peraturan lalu lintas yang menurut saya masih tergolong setengah hati. Lihat saja, di Bandung mungkin lebih banyak Pak Ogah yang "berdinas" dibanding para petugas lalu lintas.

Dalam hal pengelolaan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan parkir liar, petugas kita juga kurang bertaring menertibkan katakanlah preman, pemalak dan bekingan yang menjadi penyebab tidak terkendalinya PKL dan parkir liar tersebut. Dimana-mana mesin pembayaran parkir rusak atau mungkin memang sengaja dirusak, sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Adapun jembatan-jembatan juga tidak mendapat perawatan yang lebih baik. Aksi vandalisme dan pengrusakan dapat ditemui hampir di semua jembatan di kota Bandung. Bahkan jembatan Pasupati yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu pun tidak luput dari aksi vandalisme. Coretan dan pengrusakan dapat ditemui di sepanjang sisi jembatan. Jembatan layang ini dibeberapa titik aspalnya juga sudah ada yang berlubang, sangat berbahaya bagi para pengendara terutama roda dua yang kurang beruntung apalagi di malam hari karena penerangan di jembatan itu juga tidak begitu baik.

Alhasil, dalam hal lalu lintas, kota Bandung menempati peringkat kota paling macet se-Indonesia dan peringkat paling macet ke-14 se Asia menurut laporan Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2019 lalu.

Fasilitas lain berupa taman, pasar, tugu sebagian besar juga terbilang jauh dari kata tertib, layak, indah dan bersih. Pasar-pasar kotor yang tumpah ke bahu bahkan ke badan dan tengah jalan dapat dijumpai dimana-,mana. Taman-taman kota yang pada mulanya dibuat sebagai tempat bermain, berkumpul berdiskusi warga kota justru beralih fungsi jadi lapak-lapak PKL. Tugu-tugu kusam menjadi pemandangan lumrah sehari-hari bagi warga kota Bandung dan para wisatawan yang datang dari luar kota bahkan luar negeri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x