Mohon tunggu...
Kaseenoer Saja
Kaseenoer Saja Mohon Tunggu... -

Sebuah persoalan yang belum terungkap ketika dipertanyakan tentang siapa diriku karena sulit bagi ku untuk mengenali diriku sendiri. namun Yang pasti aku masih anak ibuku hingga kini dan hingga akhir hayatku. dan aku tahu dengan pasti dan yakin ada yang sangat mengenal diriku selain ibuku yakni Dia.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Tutup Tahun

16 Juli 2011   18:01 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:37 264
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Ini adalah cerpen yang dimuat oleh Mingguan Yudha pada hari Minggu, 3 Maret 1974 Karya  Sugiono. dan sengaja saya tulis ulang untuk mengingat kembali masa-masa dulu dan memberikan gambaran akan kondisi diera kala itu hal ini bisa dilihat dari tutur yang disampaikan penulis cerpen ini dan untuk selanjutnya saya akan lebih sering mengangkat kembali Karya Tulis Tempo Dulu. Semoga bermanfaat.

<<>>

TUAN PURNOMO duduk dikursi goyang serambi rumahnya. sebenta2 badannya yang gemuk bagaikan bola lemak tergoyang2 oleh goncangan kursinya sambil mulutnya komat-kamit entah mengumpat atau menghitung laba perusahaan. Diantara jari tangan kanannya terselip rokok cerutu dari aharga yang mahal - lebih mahal dari cerutu Havana - terbakar tinggal separo dan asapnya gentayangan mengembara pada ruangan.

He emmmm - ia menghisap rokoknya dalam2, seolah mau menikmatinya sampai rasa harum gurih itu merambat keseluruh sungsum2nya.

Hidup memang sulit dan penuh tantangan. orang bisa terperosok kepusaran arus yang menjerat bila tidak hati2. Tapi sekali mendapatkan jalan dan bila mampu mengendalikan, hem disanalah akan menemukan surga - pikirnya dalam   merenungi keadaannya dulu dan kenyataan yang dialami kini.

Ia menghitung2. Dalam usianya yang sudah hampir delapan puluh tahun ini, dengan kedudukannya sekarang: pemimpin perusahaan, pemimpin rumah tnagga, pemimpin kampung setempat, pemimpin sekelompok masyarakat kecildari anak2, menantu2 dan cucu2nya, ia merasa sebagai dewa yang disanjung oleh mereka. Tiga orang putra putri dan dua orang laki2, semuanya sudah berumah tangga adalah dagingnya yang dihasilkan bersama istri tercinta. Kini putra putrinya telah berumah tangga dan cucu2 tuan Purnomo telah banyak yang tumbuh kekar sebagai remaja dan remaja putri.

Rambut telah berubah warna, jenggot dan alispun memutih. Kerut didahi dengan jelas mengatakan ketuaan tapi kulit Tuan ini masih tampak sedikit lebih segar dari pada usianya. Ii berkat rawatan dan kemakmuran yang melimpah  pada diri pemimpin perusahaan tersebut.

Duduk begini biasa dilakukan sore2  yang disentuh oleh semilir angin  dengan hamburan bau wewangian kembang2 di pekarangan.  Tapi sore ini tidak hanya kebiasaan itu saja. Selain langit cerah dan burung2 gereja beterbangan emnikmati kebebasan serta bercanda dengan alam, terlebih karena sore ini tanggal 31 Desember, jadi sore pernytaan ganti tahun. Sebentar makam telah hilang tahun ini dan tertumpuk dalam gundukan2 kenangan pada arsip manusia penuh suka atau duka dan berbarengan dengan itu lahirlah wajah baru, tahun baru yang bakal membawakan serentetan cerita baru. Dan pada kebiasaan tutup tahun demikian ini, banyak hadiah mengalir,  berdatangan dari semua sahabat2nya, koneksi2nya, anak2nya baik anak resmi maupun cuma mengaku sebagai anak dan mem"bapak kan tuan Purnomo. Sejak tadi hadiah telah berdatangan. Ada yang berupa kartu ucapan selamat tahu baru, ada yang berupa rangkaian kembang, ada yang berupa rokok, buku filsafat atau gambar2 seloroh.

--- Diiin. Suara klakson mobil mengejutkan lamunan tuan Purnomo. Ia melihat sebuah sedan masuk pekarangan, ia kenal itu kendaraan anaknya. Dan yang duduk dibelakang stir itu cucunya, anak anakmya.

Gadis renaja putri keluar dari mobil dan berlari masuk rumah.

-- Oh, halo eyang -- suaranya manja memberi selamat.
Tuan Purnomo tersenyum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun