Mohon tunggu...
Anaqi Zukhruf
Anaqi Zukhruf Mohon Tunggu... Pelajar di SMK Telkom Malang

Salah satu siswa SMK Telkom Malang yang berambisi untuk memajukan bangsa dengan melakukan perubahan mulai dari rumah. Hobi dalam berpikir kritis, efektif, dan terkadang secara horizontal.

Selanjutnya

Tutup

Digital

Media Sosial, Kawan atau Lawan bagi Demokrasi?

28 Agustus 2020   07:15 Diperbarui: 28 Agustus 2020   07:29 247 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Media Sosial, Kawan atau Lawan bagi Demokrasi?
social-media-5f484104d541df7f5c7c51c2.jpeg

Media sosial telah menjadi kekuatan baru dalam pembentukan ranah publik dewasa ini. Dibandingkan media konvensional, media sosial memiliki potensi yang lebih besar dalam produksi dan persebaran informasi secara lebih efektif dan setara. Dengan kemampuan demikian, media sosial tentunya dapat berperan dalam penguatan demokratisasi dengan mengemansipasi publik untuk mengakses ranah publik. Di era informasi saat ini, yang politis tidak hanya merambat ke dalam kehidupan kita melalui perantara media konvensional seperti televisi dan surat kabar, tetapi juga Media Sosial seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya telah menjadi perantara utama dalam penyebaran wacana - wacana dan isu - isu bernilai politis. Berbeda dengan produksi dan distribusi dari media konvensional, produksi dan distribusi oleh media sosial lebih mengemansipasi. Melalui media sosial, setiap orang dapat mengemukakan dan menyuarakan langsung pendangan mereka ke ranah publik. 

Tak dapat dipungkiri, perkembangan media sosial akhir-akhir ini telah turut andil dalam menentukan kebijakan di negeri kita. Banyak kebijakan yang "terpengaruh" dengan iklim dan tren di media sosial. Pengaruh media sosial yang begitu masif ini tentu menarik untuk dikaji lebih dalam mengingat begitu besarnya kekuatan yang dimiliki dan banyaknya kelompok kepentingan yang memainkan peran signifikan dalam wadah media sosial di dunia maya. Kerap terjadi di media sosial, dimana banyak informasi informasi yang tidak benar, atau kurang akurat, bahkan anonim. Perilaku ini setidaknya melibatkan berbagai pihak dan tanpa mengenal kategori (bercampur), baik berupa batasan umur, gender, agama, suku, asal daerah dan sebagainya. 

Begitu kuatnya pengaruh medsos dalam mengatur ritme opini publik membuat daya tarik medsos bagi kelompok kepentingan semakin kuat. Akhirnya, apabila setiap ada perhelatan pemilu atau pilkada, ada formasi tertentu yang khusus menjadi "cyber-army". Tugasnya adalah selain menangkis serangan dari pihak lawan dan berkampanye, juga menembak lawan. Jika memang posisi media sosial begitu penting saat ini, kiranya kita tidak berlebihan mengatakan bahwa media sosial menjadi "partai" baru yang turut memainkan peran partai yang sesungguhnya. 

Akhir kata, media komunikasi dalam wadah media sosial selayaknya memang mendapat perhatian serius dari para pengambil kebijakan, karena secara de facto opini yang berasal dari media sosial ternyata sangat diperhitungkan. Dan untuk kedepannya kita semua berharap agar untuk bisa lebih bijak dalam penggunaan media sosial, untuk menciptakan lingkungan dunia maya yang sehat  informatif, dan komunikatif, jauh dari isu SARA yang memecah belah dan fitnah. Untuk mewujudkan semua iu diperlukan peningkatan literasi, kebijaksanaan, kedewasaan dan akal sehat dari para penggunanya.

VIDEO PILIHAN