Mohon tunggu...
Ananda Prasetyani
Ananda Prasetyani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan Multimedia Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru

Menuangkan pengalaman dalam bentuk tulisan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Hampir Dua Tahun Pandemi, Apakah Sekolah Berprogres dengan Baik?

18 Juli 2021   20:10 Diperbarui: 18 Juli 2021   20:32 138 2 0 Mohon Tunggu...

Pandemi Covid-19 banyak membawa dampak nyata, mulai dari bidang ekonomi dan tenaga kerja, politik, kehidupan sosial-emosional masyarakat, bahkan hingga pada bidang pendidikan. Sejak April 2020, belajar di sekolah maupun di perguruan tinggi tak lagi sama. 

Tentu saja, pelajar dan mahasiswa Indonesia paling mengerti perasaaan ini. Semua kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring, yang semula tatap muka kini berubah menjadi tatap maya. Semua orang sibuk melakukan adaptasi karena situasi seperti ini belum pernah terjadi.

Sekolah pun berupaya mencari cara untuk tetap melakukan pembelajaran yang tetap memudahkan siswa mendapatkan hak belajarnya. Siswa pada akhirnya juga harus mampu mengikuti cara yang sekolah tentukan. Kegiatan belajar di tengah situasi pandemi yang masih terus berjalan memunculkan berbagai kendala. 

Kendala tersebut di antaranya bahwa setiap murid tidak memiliki fasilitas yang sama untuk mengakses pendidikan, kemampuan digital siswa yang berbeda, hingga adanya masalah ekonomi keluarga yang kemudian membuat orang tua terpaksa tidak lagi mampu memfasilitasi anaknya dalam pembelajaran daring secara optimal. 

Masalah-masalah tersebut tentunya semakin berpengaruh pada ketidakefektifan pembelajaran. Di samping itu kejenuhan siswa pada pembelajaran daring pun menimbulkan efek lanjutan pada perilaku keterlambatan pengumpulan tugas atau bahkan tidak mengumpulkan tugas sama sekali.

Kepada Mahasiswa KKN UPI Cibiru, Ananda P, salah seorang guru kelas III di SDN Bahagia 04, Kec. Babelan, Kab. Bekasi, yakni Ibu Fitriyah,S.Pd. mengungkapkan bahwa pembelajaran daring yang diupayakan selama ini hanya menggunakan whatsapp dan masih dilakukan dengan sistem belajar dari hadirnya guru dari rumah ke rumah untuk melayani siswa yang terkendala fasilitas.

“Untuk keefektifannya, ya karena memang saat ini hanya itu pembelajaran yang bisa dilakukan.  Namun, kita juga harus melihat psikologis keluarga. Tidak semua siswa memiliki fasilitas yang sama, seperti ada siswa yang sama sekali tidak memiliki handphone karena kendala ekonomi dan ada juga orang tua yang memiliki fasilitas, namun tidak memiliki waktu untuk mendampingi siswa. Kalaupun mendampingi, tidak semua orang tua paham dengan tugas dan KBM yang disampaikan oleh guru,” ungkapnya Jumat (16/07).

Pembelajaran daring masih terasa sulit dijalankan sampai saat ini, khususnya untuk siswa sekolah dasar. Terlebih, karena penguasaan teknologinya yang masih kurang. 

Kendala lain yang muncul yakni pada subsidi kuota yang terkadang tidak bisa digunakan dan terhenti. Akhirnya, semua kegiatan belajar siswa diiringi dengan banyaknya kendala dan keterbatasan.

Ibu Fitriyah juga mengungkapkan pendidikan saat ini seperti jalan di tempat. “Kalo disebut peningkatan, stuck ya! Artinya, kita tidak memiliki ruang bebas untuk mengetahui bakat siswa, karena keterbatasan ruang lingkup, keterbatasan pertemuan, keterbatasan segala-galanya. Jadi kita tidak tahu siswa mana yang berbakat karena tidak bisa mengeluarkan apresiasi mereka. Karena kalo pembelajaran siswa luring, sekolah sering mengadakan apresiasi dalam bidang sains ataupun olahraga,” ungkapnya Jumat (16/07).

Dalam segi fasilitas dan kemampuan guru pun menurut ibu Zuliati,S.Pd guru kelas III di SDN Bahagia 04, baru mengalami peningkatan. “Untuk jaringan internet sering ada gangguan yang menghambat pembelajaran. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN