Mohon tunggu...
Armin Mustamin Toputiri
Armin Mustamin Toputiri Mohon Tunggu... pekerja politik

Menuliskan gagasan karena ada rekaman realitas yang menggayut di benak.

Selanjutnya

Tutup

Transportasi

Haerul (1) Pada Mulanya adalah Teks dan Konteks

20 Januari 2020   05:40 Diperbarui: 20 Januari 2020   06:13 123 0 0 Mohon Tunggu...
Haerul (1) Pada Mulanya adalah Teks dan Konteks
pesawat-montir-2-5e24d9da097f3675b87b1bd3.jpeg

NAMA, Haerul. UMUR, 35 tahun. PENDIDIKAN TERAKHIR, kelas V SD. ALAMAT, Langnga, Kelurahan Pallameang, Kecamatan Mattiro Sompe, Pinrang, Sulsel. PROFESI, montir bengkel motor. KEAHLIAN, otodidak merakit pesawat ultralight yang dipelajarinya di channel Youtube. KEAHLIAN LAIN-LAIN, tanpa pengalaman berani menerbangkan pesawat, sebagaimana berita dan videonya dapat disaksikan viral di media mainstream saat ini.

-----

Sebelumnya, Haerul tak sekalipun pernah menikmati terbang berkendara pesawat, selain hanya sekian menit saat mengudara lewat pesawat rakitannya sendiri. Itupun, take off dan landingnya hanya memanfaatkan bibir pantai berpasir di kampungnya. Dia bukan siapa-siapa, kalaupun kini dia menjadi "orang penting", dijemput serta diterbangkan khusus -- sekaligus rekor pertamanya menaiki pesawat sekaligus menginjakkan kaki di ibukota negara -- ke Jakarta? Itulah Haerul kini.

Musabab kesemua itu terjadi, bukan semata karena Haerul memiliki kemampuan khusus -- tidak dipunyai banyak orang -- tapi pada mulanya karena teks dan konteks. Apapun diperbuatnya jika  tanpa dukungan teks dan konteks di media cetak, media elektronik, media online, media sosial, beserta media mainstream lainnya yang kini menjadi arus utama penyebaran informasi, semua menjadi absurd. Haerul mewujud "orang penting" karena teks dan konteks. Itulah Haerul kini.

Di republik ini tak hanya Haerul seperti sekarang. Di Salatiga, di sana ada dua bersaudara tukang tambal ban, hanya lulusan SMK, Arfian juga Arie. Diam-diam secara online mengikuti ajang “3D Printing Challenge” General Electrik di Amerika Serikat. Desain “Jet Engine Bracket” mereka jadi juara pertama. Menyisihkan 700 karya dari 50 negara. Termasuk Doktor lulusan University of Oxford. Desain mereka, kini digunakan pesawat jet yang berbadan ringan di Amerika Serikat..

Karya keduanya memalingkan muka dunia ke Indonesia, musabab karena teks dan konteks viral di media massa. Dan Haerul, telah tiga bulan berjuang mewujudkan ambisinya, telah empat kali mengujicoba menerbangkan pesawat rakitannya, jangankan media mainstream mau mencium, kapala desa, camat dan bupati di sana, sekalipun tak pernah tahu apa diperbuat warganya. Kala teks, juga konteks visual videonya viral karena media, Indonesia memalingkan muka ke Pinrang.

Beruntunglah Haerul, saat mengujicoba menerbangkan pesawat rakitannya, seseorang sempat merekamnya dalam bentuk video, sekalipun sangat konvensional. Tak ada media, mengungkap siapa perekam itu. Inisiatif sendiri, atau memang disiapkan sejak mula. Ini juga yang selalu jadi faktor "penggemas" sebuah teks berita, "what's behind the news" selalu alfa dari pewarta kita, padahal mendasar untuk publik tahu di tengah budaya populis era kini yang demam pencitraan.  

Sekuat daya pewarta media cetak menyusun teks, menarasi ikhwal 5W+1H (what, who, when, where, why, dan How) tentang Haerul untuk meyakinkan publik, jauh lebih ringan karena video itu ada. Video berbeda dengan foto. Keduanya visual penguat teks. Foto passif tapi video aktif. Media cetak hanya sanggup memuat teks, juga foto tak bergerak. Dan Haerul, hadir di era yang tepat. Mewujud "orang penting" saat teks dan konteks videonya viral bergerak di media online.

VIDEO PILIHAN