Mohon tunggu...
Armin Mustamin Toputiri
Armin Mustamin Toputiri Mohon Tunggu... pekerja politik

Menuliskan gagasan karena ada rekaman realitas yang menggayut di benak.

Selanjutnya

Tutup

Karir

Bu Risma Tak Sekadar

12 Oktober 2019   23:36 Diperbarui: 13 Oktober 2019   00:01 0 0 0 Mohon Tunggu...
Bu Risma Tak Sekadar
foto: antara

"Berjalan di bawah lorong pertokoan, di Surabaya yang panas, debu-debu ramai beterbangan dihempas oleh bis kota. Bis kota sudah miring ke kiri, oleh sesaknya penumpang, aku terjepit di sela-sela, ketiak para penumpang yang bergantungan..." 

Saya sontak teringat syair dinyanyikan Franky Sahilatua itu, kala mlaku-mlaku  - berkeliling - di Kota Surabaya. Lagu berjudul "Bis Kota" yang dicipta penyanyi jenis balada itu, sangat popular di kalangan masyarakat di awal 1980-an. 

Saking populernya, sehingga - patut saya menduga - pastilah juga akrab di telinga Bu Risma - Tri Rismaharini - Walikota Surabaya, periode kedua saat ini. Entah ada kaitan atau tidak, syair lagu berdiksi satir itu, musabab Bu Risma merasa terjewer. 

Buktinya, Kota Surabaya yang dia pimpin, jauh berubah, berbalikan seratus kali lipat dari sindiran bait syair lagu Franky itu. Kota Surabaya, kini bagai "ratna mutu manikam". Bersih serta elok dipandang. Dihiasi aneka bunga dan lampu.

Di Surabaya, kini tak lagi ditemui, debu ramai beterbangan karena dihempas oleh bis kota. Kita tak bakalan lagi merasakan sesaknya jadi penumpang yang terjepit di sela - bau - ketiak sesama penumpang. Kenapa? 

Bu Risma, kini menyediakan bus umum tak berbayar. Bayarannya cukup dengan menukar "sampah plastik". Mendaki jembatan penyebarangan, pun keseluruhan telah dilengkapi lift. Taman kotanya, peraih Townscape Award PBB 2013, sebagai taman terbaik Asia.

Nah, sudah terbayang, jika kondisi Kota Surabaya seperti disindir bait-bait lagu balada itu, telah ditepis oleh Bu Risma lewat serangkai program spektakulernya. Sangat mencolok dan menarik perhatian. Dan untuk membalik - seratus derajat - dari kondisi sebelumnya, terbayang di benak saya, bagaimana mungkin semua itu terjadi? Tentu tak semudah membalik telapak tangan. Juga dilakukan, tentu bukan dengan cara menggosok lampu wasiat untukmemohon bantuan Aladin.

Kondisi seperti inilah idialnya kita melihat, siapa pemimpin dan siapa bukan pemimpin. Banyak terhampar literatur - kepemimpinan di satu sisi, serta manajemen di sisi lain - tersedia didaras untuk ditarjih. 

Tapi apapun jua dikata pakar dalam literatur, letaknya di "kemauan tak sekadar" atau "hanya sekadar". Satunya dinamis, lainya statis. Satu beranjak, satunya konstan. Satunya, siap tantangan, lainnya demi harmoni. Bahkan, satunya banyak musuh, satunya dinilai bijak.

Lalu, andai Kota Surabaya kini telah jauh berubah, muskil diingkari jika Bu Risma tak diposisikan pada yang pertama. Ia dinamis, siap menghadapi tantangan, serta - apa boleh buat - ia terpaksa banyak musuh. 

"Saya ini, tak punya musuh, tapi dimusuhi", tepisnya. Jika pun ia dinilai tak bijak. "Daripada dinilai bijak, tapi ora iso opo-opo, hayo mau mana?!" ujar Bu Risma. Ia memilih frasa, "mau mana?", bukan "suka mana?", karena kepemimpinan bukan suka tak suka, tapi kemauan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x