Mohon tunggu...
Armin Mustamin Toputiri
Armin Mustamin Toputiri Mohon Tunggu... pekerja politik

Menuliskan gagasan karena ada rekaman realitas yang menggayut di benak.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pekerjaan Rumah Indonesia Raya

22 Agustus 2019   01:11 Diperbarui: 22 Agustus 2019   01:43 0 1 0 Mohon Tunggu...

Duh, rusuh lagi. Baru saja - kebetulan - terjadi di wilayah Papua Barat sana. Musababnya, konon karena saudara kita, sekian oknum warga Papua, merasa mendapat perlakuan tidak pantas dari oknum sesama warga bangsa Indonesia sendiri - juga kebetulan - terjadi di wilayah Jawa Timur. Perlakuan yang dinilai rasis itu, menyulut amarah saudara-saudara kita di Papua. Tak sepantas itu perlakuan mereka harap. Juga, tak sepantas itu diharap cara mereka melampiaskan amarah.

Benar ataukah tidaknya faktor musabab itulah pemantik amarah saudara-saudara kita di Papua, sontak mengingatkan saya pada pandangan yang disampaikan Salim Said, ketika menyampaikan Pidato Kebudayaan, peringatan HUT Dewan Kesenian Makassar (DKM) di Gedung RRI Makassar (saya lupa tahun persisnya). Doktor ilmu sosial politik dari Ohio State University-Columbus, USA itu, menyampaikan bahwa meng-indonesia-kan saudara sebangsa kita di Papua memang berat.

Mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) itu, bahkan menyebutnya memerlukan pekerjaan rumah sedikit ekstra. Masalah terberatnya kata jebolan psikologi dan sosiologi dari Universitas Indonesia itu, karena adanya faktor sosio-psikologis. "Saudara-saudara kita di Papua, menemui benturan sosio-psikologis untuk menemukan hakikat tentang eksistensi dirinya dengan saudara sebangsanya sendiri di daratan manapun di bumi Indonesia", jelas Salim Said dalam pidatonya.

Bahkan ironisnya, kata mantan redaktur MBM Tempo yang menulis sekian buku tentang militer Indonesia itu, saudara-saudara kita warga di Papua, sedikit banyaknya, justru lebih menemukan eksistensi tentang siapa diri mereka sebenarnya di negeri yang bukan tanah airnya sendiri, yaitu di negara tetangga tanah Papua Nugini. Kenapa demikian terjadi tak lain karena mereka sesama satu pulau, satu daratan yang sama. Memiliki banyak keragaman yang memang sama-serupa.

Meng-Indonesia-kan bangsa Indonesia dalam eksistensinya sebagai negara kepulauan, menurut lelaki kelahiran Pare-Pare, Sulsel itu, merupakan pekerjaan rumah yang memang takkan pernah selesai bagi negeri ini. Sumpah Pemuda 1928, dinyatakan karena keberbedaan itu. Bahkan, soal penyatuan wilayah Papua misalnya kedalam pangkuan republik ini, cobalah tengok isi notulensi sidang BUPPKI, dwi-tunggal Soekarno-Hatta saja, sejak mula telah berbeda pandangan soal itu.

Keterpisahan daratan atas pulau-pulau nusantara, menjadi konsokuensi dari keberagaman suku bangsa Indonesia. Dan pastilah membawa konsokensi keberagaman bahasa, diksi dan tuturnya, budaya dan tradisi yang beragam pula, lebih-lebih prilaku, karakteristik, dan tentu berbeda tata cara masing-masing bersikap. Dan substansi keberagaman dan keberbedaan inilah menjadi satu bagian perdebatan panjang ketika bentuk Indonesia dirumuskan dalam sidang BPUPKI, 1945.

Itulah Indonesia Raya. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi harus tetap bersatu. Berbeda idialnya adalah kekayaan bangsa. Dari Sabang di ujung Barat hingga ke Marauke di ujung Timur. Dan keberbedaan, serta keragaman itu, adalah ekstra pekerjaan rumah bagi negara ini dengan segala konsokuensi dalam perjalanan sejarahnya. Tak hanya rusuh terbaru terjadi di Papua, tapi banyak peristiwa terjadi sebagai pembukti. Meski Sumpah Pemuda tiada henti diikrarkan.

Kopi Atjeh-Sarinah, Jakarta, 21 Agustus 2019