MA. Fauzi
MA. Fauzi Mahasiswa

Mahasiswa fiksi; bergelut dengan susastra!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Perspektif Bodoh Para Pelajar, Pantang Kuliah dan Keresahan Sarjana Tak Bermutu

24 Desember 2018   18:03 Diperbarui: 24 Desember 2018   18:16 279 6 2
Perspektif Bodoh Para Pelajar, Pantang Kuliah dan Keresahan Sarjana Tak Bermutu
Pexels.com

Ranah perkuliahan yang selalu didamba-dambakan oleh kalangan siswa menengah atas, dan selalu menjadi topik pembicaraan dimana pun mereka berada. Entah di kantin yang waktunya asyik buat bercanda dan ngopi  justru berangkat dari jenaka tersebut, ujung-ujungnya pasti persoalan kuliah serta jurusan-jurusannya. Hal yang lumrah bila menikmati obrolan siswa kala detik-detik kelulusan. Apalagi bertanya pada tiap-tiap individu.

"Mau ngambil prodi apa pas kuliah nanti?"

Tiga dari sekian puluh siswa dalam satu sekolah yang sama meng-iyakan dan sepakat mengambil prodi yang sepadan; apa karena mereka sobat karib hingga tak ingin berpisah satu sama lain ataukah itu sesuai dengan proporsi cintanya pada jurusan tersebut atau mungkin karena paksaan dari orang tua sehingga siswa merasa terintimidasi dan ada niatan enggan berkuliah.

Jangan terlalu memaksakan kehendak seseorang. Biarlah mereka berjalan pada porosnya dan bilamana sudah menguak kecintaan dan seluk beluk prodi itu, bisa saja mereka bergerak cepat meninggalkan semester per semester, tugas individu dikerjakan tepat waktu, bergabung dengan kelompok mahasiswa akademis, skripsi sekali jadi langsung di-ACC; lulus hanya 3,5 tahun dan itulah yang membuat orang tua dan guru-guru bangga akan prestasi siswa asuhannya dengan meraih gelar sarjana secepat kilat. Seakan-akan mereka lah sang maestro pendidikan berbasis SKS; kata mahasiswa kupu-kupu : Sistem Kebut Semalam.

Namun, adapula siswa lebih memilih bekerja sebab alih-alih dapat duit saku banyak dan orang tua pun setuju; mengangguk kepalanya serentak.

"Ngapain saya kuliah mending kerja!"

Perspektif para manusia haus harta daripada ilmu, yang manusia macam ini butuh di-reset kembali segala doktrin-doktrin busuk. Padahal, Syekh Az-Zarnuji berfatwa dalam syair kitab Ta'limul Muta'alim "Ilmu ialah perhiasan bagi pemiliknya."

Ada dua pilihan berat nan menyusahkan: kerja dapat duit atau belajar dapat ilmu? Yang inti keduanya sama-sama capek dan lelah. Nyaris 40% siswa lebih condong tuk bekerja, tak merepotkan orang tua, dan duit tak habis untuk pembayaran kuliah tiap semester. Memang benar adanya, lebih baik duit buat makan; lebih nikmat. Dan ilmu? Tak bisa dikonsumsi oleh lambung dan tak bisa dirasa oleh lidah, yang ada hanya membuat otak korsleting, kebakaran jenggot. Memikirkan segala hal yang berulang-ulang lalu dipahami kembali sampai pusing tujuh keliling; filsafat repetisi. Dan penyebab doktrin itu, membuahkan persetan sebuah lagu yang sempat terlahir di tahun 1981 mahakarya dari seorang penyanyi lepas, Iwan Fals bertajuk "Sarjana Muda".

Lirik lagu yang membuat kekecewaan terhebat akibat kegagalan seorang akademis berwibawa sedang mengejar impian terbesarnya namun pupus di tengah jalan; segala ijazah miliknya tidak diterima dan ijazah hanya berupa berkas-berkas sampah tak berguna. Seakan-akan Iwan Fals ingin membeberkan ironi pendidikan di tanah air. Memang, fakta berucap apa adanya. Sarjana negeri yang hanya mengandalkan ijazah sebagai taruhan lolos kedalam dunia perkantoran. Tapi, sayang seribu sayang, ditolak mentah-mentah sekian lamanya bergelut dengan buku; Saya hanya tertawa lepas.

"Dalam satu tahun lulusan sarjana secara nasional mencapai 750 ribu -- 800 ribu orang." Menurut Bambang, Kemanker RI, seperti dilansir oleh media Tribun news. "Jika dilihat secara nasional angka pengangguran mencapai 7 juta jiwa atau 5,33 persen -- bila digabung dengan sarjana -- tapi angka itu merupakan pengangguran terbuka artinya pengangguran yang sama sekali tidak bekerja."

Mengapa begitu miris mendengarkan celotehan para petinggi kementerian tenaga kerja seusai mengamati grafik pengangguran meningkat drastis dan tak disangka-sangka apakah negeri Indonesia kehabisan lapangan kerja ataukah mereka yang malas bekerja.

Indonesia, Negeri terbesar di wilayah Asia Tenggara dengan luas 5.193.250 Km/segi (mencakup daratan dan lautan) masih sempat-sempatnya tidak bersedekah lahan pekerjaan bagi mereka, para pemegang ijazah. Ataukah mereka terlalu gengsi karena prodi dan pekerjaan tak sesuai ekspektasi? Sebenarnya, banyak sawah terhampar luas, laut terakit beratus-ratus kilometer. Mengapa tidak ingin membudidayakan kekayaan alamnya? Malu jadi petani, malu jadi nelayan. Ahh! Bilang saja gengsi...

Mana mungkin sekolah tinggi-tinggi ketika lulus hanya mencangkul sawah pagi, siang, sore. Mana mungkin hanya merakit jala di tengah laut bebas demi menjebak ikan-ikan. Katanya, emang belajar mencangkul wajib belajar 16 tahun? Ahh! Toh, tak usah pusing beli macam-macam buku, yang penting punya cangkul. Cukup!

Niat belajar demi mencari lowongan kerja, suatu pola pikir pelajar yang kurang yakin dan terlalu pasrah menghadapi situasi menggila bila tak ada duit sepeserpun. Ilmu macam apakah yang bisa mengalirkan duit dengan deras; kata orang tua : belajar saja ekonomi! Saya terasa dijebak oleh kekeliruan pandangan orang lain perihal ekonomi. 

Di otak saya pun mampu berkhayal apakah belajar ekonomi memang benar-benar pasti berduit. Ah! Rezeki milik Tuhan. Cukup Dia-lah Sang Maha Kaya Raya, dan kita, mahasiswa sangat bergantung pada duit; bayar kontrakan, buat makan, buat bayar iuran, transportasi bolak-balik kampus. Sedekah? Kita nyaris lupa akan kebutuhan rohani sendiri bahkan lupa pada pemberi rezeki; makanya, belajar ilmu agama.

Sarjana menganggur? Sebenarnya bukan menganggur, bisa saja bekerja di ranah selain perkantoran. Dan sarjana merasa enggan serta menggebu-gebu diri tanpa basa basi, "Pokoknya harus di kantor!" Alhamdulillah, sekarang justru menganggur. Antologi klise yang cukup membuat saya sadar, bahwa tak selamanya sarjana dapat berujung manjur dengan setumpuk ijazah, dan tak selamanya yang bekerja pasti riang akan kerjaannya, ada titik jenuh tuk lepas dari zona paksaan. Ah! Sangat lega juga mendengar pencerahan dari teman se-warkop, siang itu di selasar Bandung. Masih ada kesempatan tuk menjalankan prodi saya meskipun tidak ber-notabene di lingkup administrasi atau kantor. Sama saja lah!

Saya menyimpulkan dari setiap kupasan problematika ini bahwa, masalah karir dan prodi -- yang katanya -- menjamin masa depan. Seharusnya, kata "menjamin" di-revisi jadi "memprediksi" sebab belum tahu juga dimana Tuhan meletakkan kejokian dan keberuntungan masing-masing pribadi. Toh, saya juga tidak tertarik berkumpul dengan manusia berkostum rapih, dasi melilit mulus tak kusut, dengan perkakas kantoran; laptop dan segala arsipnya. Bagaimana pendapat orang, itu relatif dan terserah ingin menafsir seperti apa. Dan saya? Ya.. berpakaian santai, tak perlu muluk-muluk ingin yang lenyap dari pandangan; ala-kadarnya sebab sederhana lebih asyik daripada nganggur tak berarti.

Kemarin, orang tua saya hanya berpesan, "Jadilah apa yang kamu mau, jangan terpaku pada gelar, yang penting karya-karya-dan karya. Jauh lebih penting nan berkesan." Tukasnya sebelum bertandang kampus ke Bandung. Ah! Dasar pengangguran, mau apa kau duduk tercekik di dunia ini; ucapku terkekeh kesal di bangku kereta.

"Mending mereka tak kuliah saja, nyari kerja yang bener...!"

Bandung di penghujung Desember, 2018