Mohon tunggu...
Ahmad MunawirSiregar
Ahmad MunawirSiregar Mohon Tunggu... Ketahanan Energi Universitas Pertahanan Indonesia

HeartBeat

Selanjutnya

Tutup

Politik

GeoPolitik Indonesia Berdasarkan GeoEkonomi dan GeoStrategi

12 Oktober 2020   20:42 Diperbarui: 12 Oktober 2020   22:28 3077 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
GeoPolitik Indonesia Berdasarkan GeoEkonomi dan GeoStrategi
sumberpendertian.id

Geopolitik adalah ilmu yang mempelajari bagiamana pengaruh secara geografi terhadap hubungan internasional, kekuatan dan kerentanan tehadap suatu negara. Menurut Rudolf Kjelln (1905), istilah yang pertama kali dicetuskan tentang geopolitik merupakan arah geografis yang dapat ditinjau dari sosial dan historis suatu negara terhadap faktor yang dapat menjelaskan kekuatan dan aturan internasional yang baik bagi kedaulatan negara. Secara umum geopolitik adalah kekuatan politik bedasarkan geografi sebuah negara yang dimanfaat untuk kepentingan negara. Geopolitik sangat erat hubungannya dengan geostrategi dan geoekonomi, dimana geostrategi adalah kekuatan strategi suatu negara berdasarkan geografi untuk kepentingan negara. Sedangkan geoekonomi merupakan kekuatan geografi suatu negara untuk kepentingan dan kekuatan ekonomi negara. Geopolitik mencakup segala hal yang berkepentingan dalam bernegara seperti ekonomi, energi, wilayah, dan strategi. Secara wilayah Indonesia merupakan sebuah kawasan dengan banyak kepulauan, dimana luas perairan lebih banyak dibandingkan dengan luas daratan sehingga disebut dengan Nusantara. Kekuatan geopolitik Indonesia terhadap wilayah sangat besar dibuktikan dengan tiga selat utama yang sangat penting dalam dunia internasional yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok (Wikrama, 2020). Sepuluh negara yang bersebelahan dengan wilayah Indonesia memiliki ketergantungan dalam bidang ekonomi terutama sektor ekspor dan impor yang melewati sebagian wilayah Indoensia. Dalam hal ini, Kekuatan geopolitik kemaritiman dapat dipergunakan untuk kepentingan negara dalam dunia internasional. 

Pada saat sekarang ini dampak dari pandemi COVID-19 seluruh dunia telah mengubah tatanan politk, ekonomi, dan sosial terutama Indonesia. Kebijakan pemerintah tentang penutupan total negara (lockdown) memiliki pengaruh penting terhadap ketahanan nasional, dimana didalamnya termasuk sistuasi kesehatan, keamanan, ekonomi, energi dan ketahanan pangan. Menurut Hutabarat, Krismonika, & Lofa (2020), respon kepemimpinan yang solid dan visi yang jelas dapat mengambil peluang dan bisa melewati krisis pada saat pandemi ini yang merupakan langkah geopolitik suatu negara. Tantangan saat ini dalam hal kestabilan suatu negara di buktikan dengan diterapkannya budaya baru (new normal). New normal diharapkan terwujudnya revolusi 5.0, dimana transformasi digital semakin meningkat dengan menggabungkan dan melakukan pemulihan inklusif menuju masyarakat 5.0. Masyarakat (society 5.0) yang dibekali dengan kemampuan problem solving & value creation, diversity, decentralization, resilience, dan sustainability & enviromental harmony (Hutabarat et al., 2020). Persaingan Amerika Serikat dengan China dalam menguasai dunia saat ini sangat berdampak bagi negara Indoensia, karena strategi china dalam economic belt atau sering disebut dengan Belt & Road Initiative (BRI). Hal ini tidak dapat dipungkiri negara indonesia ikut dalam pusaran tersebut (Iriawan, 2020). BRI ini dijadikan sebagai jembatan perdagangan untuk menyatukan perkenomian mulai dari China, Asia Tengah, Asia Utara, Afrika Utara hingga Uni Eropa. Kemunculan tiongkok sebagai kekuatan yang dominan saat ini dapat memudarkan kekuatan Amerika Serikat di Asia Tenggara, hal inilah yang membuat negara regional untuk menyesuaikan strategi. Berdasarkan prediksi World Trade Organization (WTO), perdagangan dunia akan menurun pada tahun 2020 yaitu sekitar 12% hingga 32%, penurunan ini akan berdampak pada Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) dunia ("Trade set to plunge as COVID-19 pandemic upends global economy," 2020).

Sisi energi terhadap geopolitik sejak revolusi industri merupakan sebuah kebutuhan untuk ketahanan energi suatu negara (Pascual & Zambetakis, 2010). Keterjangkauan harga terhadap energi dunia dikendalikan berdasarkan kepentingan dan keamanan politik. Amerika Serikat dan bagian negara Uni Eropa adalah dua terbesar konsumsi energi global dan memiliki kesamaan yaitu negara-negara yang melakukan impor energi. Amerika Serikat memiliki fokus dan kekuatan yang dapat mengatur minyak dunia, terutama melakukan perhatian khusus terhadap negara timur tengah penghasil minyak dunia terbesar. Konsumsi energi di ASEAN terhadap pertumbuhan ekenomi, Indonesia memilki konsumsi tertinggi setelah Malaysia, Singapura, dan Thailand (Thongrawd & Kerdpitak, 2020). Salah satu strategi pemerintah terhadap sustainability energy dan security energy adalah melakukan bauran energi yang di canangkan pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Geopolitik indonesia saat ini tidak lepas dengan kepentingan untuk merebut pengaruh terhadap kepentingan ekonomi (perdagangani), investasi, dan sumber daya alam (migas dan sumber energi lainnya). Pemerintah indonesia secara geostrategi memiliki kebijakan yang terintegrasi dalam melakukan kerjasama internasional, terutama pada situasi pemulihan ekonomi nasional yang inklusif. Dasar wilayah Indonesia juga merupakan konsep kekuatan geopolitik yang bersumber dari wilayah dan wawasan nusantara, merujuk pada kedaulatan negara maritim.

Referensi:

Hutabarat, J. S., Krismonika, G., & Lofa, E. (2020). Medan Geopolitik Baru 5.0 Pasca COVID-19. 8(2), 198--207.

Iriawan, S. (2020). The Silk Road Economic Belt Policy In Supporting Chinese Geopolitik Projection In The Region. Jurnal Pertahanan & Bela Negara, 10(2), 141--158.

Pascual, C., & Zambetakis, E. (2010). The Geopolitics of Energy. In chapter one (pp. 9--35).

Thongrawd, C., & Kerdpitak, C. (2020). Energy Consumption, CO2 Emission and Economic Growth In Asean Countries. Journal Of Security And Sustainability Issues, 9(2), 15--27.

Trade set to plunge as COVID-19 pandemic upends global economy. (2020). Retrieved from here

Wikrama, A. A. N. (2020). Revitalisasi Maritim dalam Pemantapan Geopolitik Indonesia. Jurnal Cakrawarti, 03(02), 28--31.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x