Lihat ke Halaman Asli

Zulfika Satria Kusharsanto

Peneliti Kebijakan Riset dan Inovasi

Kepedulian Siswa-siswi SMA pada Tata Kota

Diperbarui: 31 Agustus 2015   09:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sabtu tanggal 29 Agustus kemarin saya diundang untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 38 Jakarta. Btw, siapa saya sih kok sampai diundang segala? Sebenarnya yang diundang direktur saya yaitu Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi BPPT. Saya dan beberapa teman saya yang masih tergolong staf muda ikut menemani saja hehehe...

[caption caption="Presentasi dari KIR SMAN 38 tentang temuan mereka. Di bawah ini teknologi penampungan air banjir"][/caption]

Acara yang diadakan oleh KIR SMAN 38 Jakarta tersebut boleh dibilang sangat menarik. Tema yang diangkat adalah Arsitektur dan Penataan Kota. Menurut saya tema tersebut jarang diangkat oleh anak-anak SMA. Apalagi yang bikin saya salut, acara yang secara resmi bernama "Science Class Architecture 2015" itu murni diadakan oleh siswa-siswi SMA dan dihadiri KIR SMA Negeri se-jabodetabek! Bapak/Ibu guru serta kepala sekolah hanya mendampingi saja dan memberi sambutan. Saya jadi merefleksikan diri saya waktu SMA dulu sepertinya tidak pernah ikut acara seminar bahkan mengadakan seminar yang mana diadakan oleh anak SMA sendiri. Paling acara waktu SMA yang saya pernah adakan semacam camp, pelatihan kepemimpinan, pentas seni, yah intinya yang senang-senang gitu. Ah, anak SMA sekarang sudah suka dengan kegiatan seminar dan workshop ya ternyata. :)

[caption caption="Pembukaan dengan Tarian Bali dari siswa SMAN 38 Jakarta. Bagus!"]

[/caption]

[caption caption="Dr. Socia Prihawantoro sebagai perwakilan BPPT memberi materi"]

[/caption]

Secara umum para siswa-siswi ini berusaha mengkritisi tentang penataan kota di Jakarta yang dinilai kurang baik karena sering macet, kurang lahan terbuka hijau, permukiman kumuh, dan masalah-masalah lainnya. Sebagai materi pembukaan, direktur PPKIT BPPT yang diwakili oleh Kepala Bidang Sumberdaya Inovasi, Dr. Socia Prihawantoro, memberikan materi tentang pemahaman inovasi dan manfaatnya untuk pengabdian masyarakat. Siswa-siswi diberikan pemahaman tentang apa itu penemuan, inovasi, hingga difusi. Secara ringkas jadi penemuan itu masih berupa hal baru dari sebuah penelitian/pengkajian. Apabila temuan itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat baru disebut inovasi. Kalau inovasi sudah sangat meluas dan memberikan manfaat yang sangat nyata itu disebut difusi.

Selain itu, para peserta kemudian diberikan pemahaman tentang apa itu arsitektur. Harapannya agar para siswa-siswi SMA ini mengerti benar sejarah perkembangan arsitektur dunia serta peran arsitek dalam penataan kota. Materi ini disampaikan oleh mahasiswa Arsitektur ITB, Regi Septian. Di sesi ini mulailah tingkat pemikiran kritis ala anak SMA. Ada yang bertanya "Mengapa bangunan dulu sepertinya kokoh-kokoh sedangkan bangunan yang sekarang seringkali gampang roboh?", "Masuk ke dalam era arsitektur apa piramida di Mesir itu dibuat dan apa maksud dari bangunannya?", hingga "Bagaimana cara membangun bangunan yang anti gempa?". Wah saya lihat si pembicara mulai kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, yang menarik ada beberapa pertanyaan yang justru dijawab oleh peserta lainnya. Jadilah debat kecil dan diskusi dimulai. Ah, saya jadi rindu masa-masa SMA!

[caption caption="Materi tentang Architecture and Its Development dari Regy mahasiswa ITB"]

[/caption]

Materi terakhir adalah tentang penjelasan desain taman kota yang baik. Materi ini disampaikan oleh mahasiswa Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Ganis Amanda. Si pembicara memberikan penjelasan dan gambaran tentang desain-desain taman kota yang fungsional dengan tampilan 3D. Di sesi ini diskusi juga berjalan di antara para peserta. Ternyata ada yang berminat kuliah di bidang perencanaan kota. Saya ingat betul namanya Syahrul. Alasan dia ingin kuliah di bidang perencanaan kota karena ia ingin menata kawasan tempat tinggalnya. Ia mengeluh daerahnya di Jakarta Barat sering macet oleh karena itu ia harus berangkat pukul 05.00 dengan sepeda agar tidak terlambat. Dia juga ingin bisa membangun jembatan untuk siswa-siswi yang rumahnya sulit diakses. Ia prihatin melihat anak-anak yang berjalan di jembatan tali layaknya outbound hanya untuk menuju sekolah. Wow, anak-anak SMA ini hebat sekali ya! Setelah sesi ini, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan melakukan workshop dengan membuat maket sederhana tentang penataan kota yang baik.

[caption caption="Syahrul, ingin kuliah perencanaan kota. Saya salut! :')"]

[/caption]

Di luar kegiatan seminar ini, di halaman sekolah SMAN 38 Jakarta juga terdapat stand pameran hasil karya KIR SMAN 38 Jakarta. Ada teknologi kaca darurat yang mendapat medali di pekan ilmiah di Penang, Malaysia. Ada lagi teknologi pangan, robotik, hingga astronomi. Sangat menarik dan saya jadi teringat film Meet The Robinsons. Saya mencoba mencicipi pudding dari kulit mangga yang katanya berkhasiat untuk obat cacing. Enak dan alhamdulillah sampai saya menulis artikel ini saya tidak keracunan hehehe... Semoga cacing di perut saya (kalau ada) juga tewas ya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline