Lihat ke Halaman Asli

Yudo Mahendro

sosiologi, budaya, dan sejarah

Corona Four Point Zero

Diperbarui: 4 April 2020   14:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi. sumber: shutterstock via kompas.com

Ini sudah jumat minggu ketiga, anjuran untuk solat rumah diganti solat zuhur di rumah masih berlaku. Belum ada tanda-tanda pandemic ini akan segera berakhir. Semalam, Gubernur Jakarta menyampaikan data yang menyengangkan. 

Angka kematian di Jakarta sudah mencapai 400 orang, jauh dari data resmi yang disampaikan oleh gugus tugas ditingkat nasional. Kekhawatiran juga semakin menguat ini semakin terlihat di 'postingan' beberapa teman-teman dekat yang ada di Jakarta. 

Dengan demikian, virus ini tidak hanya mengancam di dunia nyata, tetapi juga meresahkan dan mengkhawatirkan kita melalui informasi yang beredar cepat di dunia maya, apalagi ditambah dengan embel-embel kepentingan politik.  

Kecepatan penyebaran virus corona ini di luar bayangan kita semua. Ia menyebar ke seluruh benua, tanpa mengenal batas. Pastinya penyebaran virus ini terkait erat dengan mobilitas manusia. Semakin banyak pergerakan manusia, semakin besar peluangnya tersebar dan memakan korban jiwa. 

Kegiatan-kegiatan penting lain dalam hidup kita seperti agama, sudah final bisa dinegosiasikan untuk di 'rumahkan'. Tetapi ironisnya pembahasan yang politik masih hangat diperdebatkan. 

Lebih hangat daripada membahas pendemi ini sendiri. Mungkin karena politik memang sudah terbiasa dibangun di atas penderittaan dan nyawa manusia.

Mengandalkan Internet 

Sebelum adanya wabah virus corona, kita acapkali membahas tentang industri 4.0. siapa yang tercepat dialah yang menang. Internet sebagai sarana menjadi yang cepat terbukti menolong saat kondisi seperti ini. 

Beberapa aktivitas bisa dikerjakan dari rumah, seperti bekerja, belajar, silaturahmi, dan juga tentunya mencari hiburan. Bagi Sebagian besar orang, keberadaan internet dengan kecepatan tinggi membantu untuk bisa tetap berada di rumah. Melambatkan penyebaran virus, supaya bencana ini bisa segera berakhir.

Salah satu postingan kawan mengeluhkan barang yang dibelinya belum juga sampai. Sejak minggu yang lalu ia memesan barang dan sudah melakukan pembayaran, tetapi penjual di salah satu pasar online tersebut tidak merespon. 

Dalam keadaan tidak pasti seperti ini ternyata kemududahan internet juga tidak banyak membantu, karena dia juga dibangun dari relasi yang "nyata". 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline