Lihat ke Halaman Asli

Intisari Visi Guru Penggerak dan Budaya Positif

Diperbarui: 8 Juni 2022   23:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Dalam Visi Guru penggerak diperlukan kematangan diri untuk menyadari dan memanfaatkan segala potensi diri. Kamatangan diri untuk mencapai tujuannya. Ada beberapa hal yang menonjol dari pribadi yang dapat dilihat dari pribadi-pribadi yang telah memiliki kamatangan diri di antaranya:

  • Pribadi yang telah mampu membagi waktu. Di tengah bertumpuk pekerjaan yang harus terselaikan ia tetap dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu.
  • Ketika dihadapkan dari berbagai pilihan yang sama benar, ia mampu memilih skala prioritas. Pekerjaan mana yang harus didahulukan dan boleh ditunda dulu.
  • Dengan segala kekuatan yang dimilikinya, ia mampu menggerakkan pihak lain untuk berkolaborasi melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Pribadi yang mampu menyusun visi yang menggerakkan dirinya sendiri dan orang lain untuk melakukan perubahan. 

Visi yang tersusun dari kata (teks) yang mampu mengeksploitasi makna. Visi yang mampu mendorong untuk mencapai tujuan-tujuan dan prakarsa perubahan. Visi yang diselaraskan dengan pendekatan inkuiri apresiatif dan menggunakan tahapan BAGJA. 

Inkuiri apresiatif merupakan proses yang dilakukan untuk menggali segala potensi yang dimiliki anak disesuaikan dengan kodrat anak masing-masing. Inkuiri apresiatif melibatkan kolaborasi dan berbasis kepada kekuatan yang dimiliki. Inkuiri apresiatif memaksimalkan segala potensi individu dan komunitas dan memaksimalkan kekuatan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa untuk melakukan perubahan.

 berbagi pengalaman dan mempertajam pengetahuan tentang bagaimana membentuk dan membiasakan serta menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah. Budaya positif tersebut berawal dari penanaman hal-hal positif di lingkungan kelas. Bagaimana murid belajar dengan nyaman dan menyenangkan tanpa ada keterpaksaan. Bagaimana murid mendapatkan hak-hak bagian 

peran yang sama tanpa dibeda-bedakan. Murid diberikan kekeluasaan untuk mengungkapkan ide-ide, Harapan, dan mimpi-mimpi untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, dirindukan oleh para murid, 

serta memberikan ketenangan kepada mereka untuk mendapatkan pengalaman belajar dan pengetahuan di dalam kelas. Hal tersebut bisa tercapai berawal dengan murid mengungkapkan segala hal positif 

yang dituangkan dalam Kertas yang ditempel dan dijadikan sebagai pengingat para murid di dalam kelas. Nah itulah yang disebut dengan keyakinan kelas tidak ada lagi penghukuman jadi murid tidak merasa tertekan 

ketika melakukan sesuatu hal yang keliru tapi bagaimana murid menjadi sadar sendiri bahwa apa yang dilakukan oleh mereka harus segera diperbaiki. 

Di kelas murid ketika melakukan sebuah kesalahan atau kekeliruan mereka secepat mungkin dengan kesadaran sendiri melakukan sebuah konsekuensi yang dibuat oleh mereka sendiri. Itulah salah satu cara untuk menanamkan nilai-nilai positif di kelas.

 Ketika di kelas sudah menjadi sebuah kebiasaan dan kesadaran dalam melakukan hal-hal yang baik pada saat mereka berada di luar kelas pun tanpa perlu lagi ada paksaan tanpa lagi ada ketakutan 

Mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal positif. Hal-hal positif yang tertanam di kelas dan terbiasa dilakukan akan terbawa di dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkungan kelas sehingga hal-hal positif akan menjadi budaya positif bagi sekolah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline