Lihat ke halaman asli

Yose Revela

Content Writer

TERVERIFIKASI

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Petualangan Unik Lucas Piazon

Diperbarui: 22 November 2020   18:41

Aksi Lucas Piazon (kiri) di Rio Ave (Goal.com)

Dalam sepak bola, ada pemain yang loyal, alias enggan berpindah klub sepanjang karir seniornya, seperti Carles Puyol atau Paolo Maldini. Ada juga pemain petualang yang kerap berpindah klub, dan mencicipi berbagai macam liga di beberapa negara, misalnya Zlatan Ibrahimovic.

Keduanya memang dua kutub dalam karir seorang pesepakbola. Tapi, ada juga pemain yang perjalanan karir seniornya merupakan perpaduan keduanya.

Dalam artian, karir seniornya cukup awet di satu klub, tapi ia sudah berpetualang kemana-mana sebagai pemain pinjaman. Kasus ini terjadi pada Lucas Piazon (26), pemain Chelsea asal Brasil.

Di level junior, pemain yang awalnya bermain futsal ini memulai kiprahnya di akademi Coritiba (2001-2006) dan berlanjut di Atletico Paranaense (2007-2008). Kedua klub ini merupakan kontestan Liga Brasil.

Namanya mulai dikenal, saat pindah ke akademi Sao Paulo. Di klub raksasa Brasil ini, Piazon kerap disebut sebagai penerus Ricardo Kaka, karena wajahnya yang rupawan dan posisi "pemain nomor 10" nya.

Kebintangannya di klub masa muda Ricardo Kaka ini memang membawa efek positif. Namanya masuk Timnas junior Brasil bersama Marquinhos, bek yang kini menjadi pilar PSG dan Timnas Brasil senior.

Keduanya menjadi pemain kunci, saat Tim Samba junior menjuarai turnamen sepak bola Amerika Selatan (setara Copa America di level senior) di tingkat U-15 (2009) dan U-17 (2011).  Catatan bagus itu berlanjut, saat Brasil menjadi semifinalis Piala Dunia U-17 2011.

Talenta pemain yang sempat disebut sebagai "The Next Kaka" lalu menarik minat Chelsea untuk merekrutnya pada tahun 2011. Di klub London ini, perjalanannya dimulai dari tim junior, dan sempat membawa tim juara FA Youth Cup.

Kesempatan baru datang di tahun berikutnya. Hanya saja, banyaknya pemain berkualitas di The Blues membatasi menit bermainnya.

Tercatat, pemain yang turut serta dalam tur pramusim Chelsea ke Indonesia ini hanya mencatat tiga penampilan bersama Chelsea. Rinciannya, sekali tampil di Liga Inggris sebagai pemain pengganti, dan dua penampilan starter di Piala Liga Inggris.

Untuk menambah jam terbangnya, Chelsea lalu meminjamkannya ke Malaga di paruh kedua musim 2012/2013. Meski lebih banyak berperan sebagai pemain pengganti, kiprahnya di klub Liga Spanyol ini cukup berkesan, karena ia sempat merasakan bermain di Liga Champions, saat Malaga secara mengejutkan mampu lolos ke babak perempatfinal.

Tapi, petualangan singkat pemain kelahiran 20 Januari 1994 ini di Malaga ternyata menjadi sekuel awal perjalanannya sebagai seorang pemain "petualang". Kok bisa?

Penyebabnya, eks pemain Timnas Brasil U-20 ini lalu dipinjamkan ke Vitesse Arnhem (klub Eredivisie Belanda) dan Eintracht Frankfurt (klub Bundesliga Jerman) selama dua musim beruntun. Di kedua klub ini, ia mendapat cukup banyak menit bermain, dan mencetak beberapa gol maupun assist.

Sekembalinya dari Belanda dan Jerman, Piazon kembali dipinjamkan Chelsea. Kali ini, ia mendapat kesempatan untuk bermain di Championship Division Inggris bersama Reading 2015-2016) dan Fulham (2016-2018).

Di kedua klub kasta kedua Liga Inggris ini, ia kembali mendapat banyak menit bermain. Bukan hanya itu saja, eks pemain Timnas Brasil U-23 ini juga turut membantu Fulham promosi di akhir musim 2017-2018.

Tapi, sang Brasileiro lalu menghabiskan paruh pertama musim 2018-2019 di tim reserve Chelsea, sebelum akhirnya kembali dipinjamkan di paruh kedua musim. Kali ini, Chievo Verona menjadi klub tujuan berikutnya.

Sayang, kiprahnya di Italia menjadi satu episode suram. Selain hanya mencatat 4 penampilan sebagai pemain pengganti di Serie A Italia, ia juga harus rela mendapati I Gialloblu turun kasta di akhir musim.

Petualangan Piazon kembali berlanjut, saat Chelsea kembali meminjamkannya ke klub lain pada awal musim 2019-2020. Kali ini, Rio Ave  meminjam tenaganya selama dua tahun.

Di klub Superliga Portugal ini, Piazon akhirnya mendapat cukup banyak kesempatan bermain, bukan hanya di liga atau piala domestik, tapi juga di Liga Europa. Ia ikut ambil bagian, saat timnya kalah adu penalti melawan AC Milan di babak kualifikasi.

Mengingat usia dan sisa kontraknya yang hanya tinggal setahun, agaknya ini akan jadi petualangan terakhir Piazon sebagai seorang pemain Chelsea. Di klub favoritnya ini, ia telah menyaksikan, bagaimana perjalanan kebijakan transfer pemain muda klub, dan masih bertahan meski dipinjamkan ke sana kemari.

Mungkin, ia tak seberuntung Mohamed Salah, Romelu Lukaku, atau Kevin De Bruyne, yang akhirnya bisa bersinar terang. Tapi, ia menjadi satu kasus unik dan langka, karena meski setia dengan status sebagai pemain Chelsea, dirinya sudah mencicipi berbagai macam liga top Eropa.

Selain Liga Inggris, dan Championship Division, kerasnya kompetisi Eredivisie Belanda, Bundesliga Jerman, La Liga Spanyol, Serie A Italia, dan Superliga Portugal telah dicicipinya. Bukan hanya itu, pengalaman bermain di Liga Champions dan Liga Europa juga sudah dirasakannya.

Meski relatif kering trofi juara, petualangan uniknya sebagai pemain Chelsea sudah menjadi satu portofolio tersendiri. Tapi, dirinya menjadi satu contoh lain, dari efek negatif label "The Next" dan keputusan pindah ke klub besar di usia sangat muda, dengan menit bermain amat terbatas.

Padahal, penting bagi seorang pemain muda untuk mendapat menit bermain yang cukup, dan menjadi dirinya sendiri. Tanpanya, ia bisa layu sebelum berkembang, atau bahkan tak bisa berkembang sama sekali.

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline