Lihat ke Halaman Asli

Mohammad Hatta: Wakil Pemimpin Yang Setia dan Pintar

Diperbarui: 17 Agustus 2022   18:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mohammad Hatta. Source: www.google.com


Siapa sih yang tidak kenal dengan Mohammad Hatta?

Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, sekaligus partner dari Ir. Soekarno. Pada 23 Oktober 1986, Hatta diberi gelar Pahlawan Proklamator bersama-sama dengan pemberian gelar untuk Soekarno. Gelar itu diberikan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 81/TK/1986. Selanjutnya, pada tanggal 7 November 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan gelar Pahlawan Nasional untuk Hatta. Mengenai lebih jauh tentang Mohammad Hatta simak artikel ini ya untuk kamu mengetahui dari awal perjuangan beliau sampai akhir hayat.

Mohammad Hatta & Ir. Soekarno. Source: www.google.com

Mengenal Mohammad Hatta

Mohammad Hatta (1902-1980), salah satu intelektual terkemuka dalam gerakan antikolonial Afro-Asia, adalah pemimpin gerakan nasionalis Indonesia yang mengarah pada kemerdekaannya pada tahun 1945. Ia adalah seorang juara non-keberpihakan dan sosialisme yang didasarkan pada Islam.

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia, pada 12 Agustus 1902. Meskipun ayahnya meninggal ketika dia masih bayi, dia dibesarkan di lingkungan keluarga yang aman dan kaya yang mendorong pencapaian ilmiah dan kesetiaan kepada Islam. Karakteristik ini menjadi ciri khasnya selama karirnya sebagai salah satu intelektual terkemuka dalam gerakan anti-kolonial Afro-Asia. 

Mohammad Hatta. Source: www.google.com

Pendidikan dan Aktivisme Politik

Sebagai seorang anak Hatta menerima pendidikan terbaik yang tersedia di Hindia Belanda, termasuk sekolah menengah berbahasa Belanda di Jakarta. Pada saat ia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya di Sekolah Perdagangan Rotterdam, ia telah mengembangkan minat yang besar dalam urusan politik, setelah menjabat saat masih remaja sebagai perwira organisasi pemuda di Sumatera Barat dan Jakarta. Tak lama setelah tiba di Rotterdam ia menjadi bendahara Persatuan Indonesia (Perhimpoenan Indonesia) pada saat ia mengadopsi program-program politik secara eksplisit.

Hatta tidak kembali ke Indonesia, seperti yang ia dan rekan-rekan nasionalisnya sebut koloni, sampai tahun 1932. Selama sepuluh tahun ini ia muncul sebagai pemimpin luar negeri gerakan nasionalis Indonesia dan berkenalan dengan rekan-rekan yang mewakili gerakan kemerdekaan lainnya, termasuk pemimpin India Jawaharlal Nehru. Pada tahun 1927 Hatta dituduh oleh otoritas Belanda menulis artikel yang berkhianat. Setelah dipenjara selama satu setengah tahun, Hatta berhasil membela diri dan rekan-rekannya dalam pidato ruang sidang yang meriah dan tanpa kompromi yang, setelah dipublikasikan di Indonesia, menetapkan nada militan untuk gerakan kemerdekaan.

Sekembalinya ke Indonesia Hatta dan rekan senegaranya Sutan Sjahrir berusaha untuk bergabung dengan para pemimpin nasionalis lainnya, termasuk Sukarno. Upaya organisasi orang-orang ini digagalkan oleh kebijakan represif negara kolonial. Pertama Soekarno ditangkap dan diasingkan ke Flores; pada tahun 1934 Hatta dan Sjahrir ditangkap dan akhirnya dipenjara di kamp penjara yang jauh lebih keras di Digul, Nugini Barat. Mereka kemudian dipindahkan ke pulau Banda, di mana mereka terus merumuskan ide-ide mereka dan mengekspresikannya dalam artikel-artikel yang beredar di banyak kota di Indonesia. Ketika Belanda di Timur Jauh menyerah kepada Jepang pada awal 1942, Hatta, di Jakarta, mengambil peran kepemimpinan baru.

Source: www.google.com

Pendudukan dan Kemerdekaan

Bersama Soekarno dan Sjahrir, Hatta berpartisipasi dalam pemerintahan pendudukan Jepang. Ia tetap berkomunikasi dengan elemen bawah tanah dari gerakan nasionalis, dan dia menggunakan posisinya sebagai wakil ketua Putera (sebuah organisasi massa yang dibentuk pada tahun 1943) untuk melanjutkan persiapan politik untuk kemerdekaan. Dengan runtuhnya ambisi kekaisaran Jepang, Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Hari-hari menjelang acara ini penuh gejolak dan termasuk "penculikan" singkat Soekarno dan Hatta oleh para pemuda yang mendesak untuk tindakan dramatis dari pihak para pemimpin mereka. Soekarno dan Hatta menandatangani proklamasi kemerdekaan dan dengan cepat masing-masing ditunjuk sebagai presiden dan wakil presiden oleh parlemen sementara.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline