Lihat ke Halaman Asli

Hendra Wardhana

TERVERIFIKASI

soulmateKAHITNA

Mereka yang Berdaya dan Berkembang di Luar Tambang

Diperbarui: 22 April 2016   18:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Pak Miskun, warga pendatang di Sekongkang, lingkar tambang Newmont Nusa Tenggara, yang memilih berdaya dengan menanam jeruk."][/caption]Bagi masyarakat yang hidup “bertetangga” dengan pusat aktivitas pertambangan, menjadi pekerja tambang seakan sudah menjadi fitrah. Begitupun bagi masyarakat di lingkar tambang PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) yang berlokasi di Batu Hijau, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

Sejak PTNNT memberikan kuota karyawan kepada masyarakat di desa-desa sekitar tambang pada tahun 2000, hasrat masyarakat untuk bekerja di Newmont terus meningkat. Setiap ada rekrutmen, ribuan orang mendaftar. Bahkan, tak sedikit putra-putra daerah yang telah selesai menuntut ilmu di luar daerah memutuskan pulang karena karena menjadi “orang Newmont”. Lambat laun harapan untuk bekerja di Newmont semakin besar dan mengarah menjadi ketergantungan. Bahkan, beberapa kali terjadi demonstrasi oleh masyarakat yang kecewa karena gagal bekerja di Newmont.

Meningkatnya ketergantungan terhadap tambang Newmont dikhawatirkan mematikan kreativitas berpikir masyarakat dan membuat potensi sumber daya alam lainnya yang ada di lingkar tambang tak tersentuh. Hal ini diakui dan menjadi perhatian Newmont yang berharap masyarakat lingkar tambang bisa mandiri. Lambatnya proses pemberdayaan masyarakat ditengarai salah satunya akibat tingginya rasa ketergantungan ini.

[caption caption="Kebun jeruk keprok siam seluas 1 hektar yang dikelola Pak Miskun di Sekongkang."]

[/caption]

[caption caption="Buah jeruk yang dipetik dari kebun Pak Miskun."]

[/caption]

Namun tak semua masyarakat lingkar tambang bergantung pada guyuran rupiah dari Newmont. Di antara mereka ada yang mencoba berdaya memanfaatkan kesempatan lain yang telah terbuka semenjak kehadiran perusahaan tambang tersebut. Orang-orang ini tidak bekerja di tambang. Tapi mereka sanggup berpikir kreatif dan kini perlahan berkembang.

Pak Miskun adalah salah satunya. Di saat banyak masyarakat Sekongkang berharap pada tambang, kakek 62 tahun ini memilih bercocok tanam. Faktor usia mungkin menjadi salah satu alasannya tak berminat bekerja di tambang. Akan tetapi, semangatnya untuk berdaya pantas untuk ditiru. Apalagi, Pak Miskun bukanlah penduduk asli Sekongkang. Ia baru datang tahun 2010 setelah pindah dari Jember dengan tujuan sederhana, yaitu mencari penghidupan yang lebih baik.

Diawali dengan coba-coba, Pak Miskun menanam jeruk keprok siam di kebun seluas 1 hektar milik pengusaha lokal. Dengan sistem bagi hasil panen, ia terus menggarap kebun tersebut sampai saat ini. Ada lebih dari 300 pohon jeruk yang ditanamnya di kebun. Pada sisa lahan yang tidak terlalu luas ia gunakan untuk menanam cabe, srikaya dan kacang panjang untuk menambah penghasilan.

[caption caption="Dari kebunnya, Pak Miskun mampu memanen 17 ton jeruk setiap tahun."]

[/caption]

Pak Miskun bisa memetik hasil hingga 17 ton jeruk setiap tahun. Namun, hasil panen kebunnya juga pernah anjlok sehingga ia hanya mendapatkan 5 ton. Berkat kerja keras dan ketekunannya, kini perlahan ia mulai merasakan manisnya menanam jeruk di Sekongkang. “Alhamdulillah bisa membayar hutang di kampung dan membelikan cucu motor,” katanya.

[caption caption="Pak Miskun dan istrinya juga menanam kacang panjang di sisa lahan yang tidak ditanami jeruk."]

[/caption]
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline