Lihat ke Halaman Asli

Wadji

Ketua Umum Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI)

Selamat Hari Jadi RRI, Aku Bangga Padamu

Diperbarui: 11 September 2020   23:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Alya Rohali, "Indonesia Menyapa" (https://twitter.com/rri/status/999456962570960896)

Jika saat ini anak-anak kita banyak yang kecanduan gawai, maka apa yang saya alami dulu ketika masih remaja adalah kecanduan radio. Saat itu tidak banyak anak seusia saya yang tergila-gila dengan radio gelombang pendek (short wave).

Ketika jam empat pagi, saat sebagian orang masih terlena di balik selimut, saya sudah berada di depan radio mendengarkan warta berita dari Radio Australia Siaran Indonesia (RASI). Pergi ke sekolah tidak lupa saya membawa pesawat radio gelombang pendek ukuran kecil. Di saat istirahat atau jam kosong pun saya masih sempat mendengarkan BBC World Service.

Pada malam hari, sambil belajar saya ditemani BBC London Siaran Indonesia, Suara Jerman (Deutsche Welle) dan Radio Nederland Wereldomroep Siaran Indonesia (Ranesi). Tengah malam, saya masih memutar Special English Program dari Voice of America (VOA), siaran berita dan features dalam bahasa Inggris yang disajikan dalam tempo lambat, untuk memberikan kesempatan kepada pendengar dengan bahasa ibu non-Inggris yang belum mahir berbahasa Inggris.

Dari radio-radio tersebutlah saya memeroleh banyak wawasan tentang politik, sosial, teknologi, seni, dan juga belajar bahasa. Tiap hari ada pelajaran bahasa Inggris dari Radio Australia, yang bernama English from Australia dan dari BBC London, BBC English Program. Dari Deutsche Welle juga ada pelajaran bahasa Jerman, Auf Deutsche Gesagt dan Deutsch, Warum Nich? Sebagai siswa SMA jurusan bahasa, waktu itu, saya merasa sangat terbantu dengan siaran-siaran tersebut.

Dari siaran gelombang pendek pula saya banyak mendapatkan wawasan tentang agama, terutama Kristen. Sejumlah lembaga penyiaran Kristen internasional memancarkan siarannya dalam bahasa Indonesia melalui gelombang pendek. Sekali pun saya penganut Islam, saya mendapatkan kesempatan kursus Alkitab gratis dari radio dan ditindaklanjuti dengan kursus melalui surat menyurat.

Dari hobi mendengarkan radio saya juga memeroleh banyak sahabat pena. Sahabat pena tersebut juga sama-sama pendengar radio gelombang pendek, tidak hanya dari Indonesia saja, tetapi beberapa juga dari luar negeri. 

Saya juga tergabung dalam club-club pendengar radio gelombang pendek. Club-club itu menerbitkan buletin dalam wujud kertas stensilan. Tiap-tiap stasiun radio menerbitkan kalender, pedoman acara, dan juga sticker yang dibagikan gratis untuk pendengar yang memintanya.  Radio-radio tersebut disiarkan langsung dari negaranya, dengan pemancar ulang di beberapa tempat di luar negeri.

Siaran radio gelombang pendek memang tidak begitu populer di masyarakat kita. Di samping kualitas suara yang tidak sebaik kualitas suara siaran radio yang menggunakan frekuensi modulasi (FM), siaran gelombang pendek tidak menarik bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, yang rata-rata menikmati radio untuk memeroleh hiburan. Siaran radio gelombang pendek sebagian besar menyajikan berita, ulasan, dan siaran kata yang lain, yang sangat minim dari konten-konten hiburan. Lagu-lagu biasanya hanya menjadi selingan sepintas saja.

Radio-radio asing berbahasa Indonesia tersebut menjadi alternatif informasi bagi penduduk Indonesia yang haus akan berita-berita seimbang, sebab banyak tokoh-tokoh Indonesia yang berseberangan dengan penguasa waktu itu mendapatkan panggung untuk berbicara di radio-radio ini. Berita-berita radio asing tersebut sangat seimbang, baik mengenai negaranya sendiri maupun berita-berita tentang Indonesia.

Voice of America (VOA) misalnya, sekalipun radio ini dikelola oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan menjadi corong Amerika Serikat ke seluruh dunia, namun demikian banyak berita-berita yang disajikan justru bermuatan kritik yang tajam terhadap kebijakan resmi pemerintah Amerika Serikat. Hal seperti ini tidak pernah kita jumpai pada media dalam negeri. 

Ketika itu media masa di Indonesia masih mendapatkan kontrol ketat dari pemerintah. RRI dan TVRI adalah media masa elektronik corong pemerintah, dan seluruh isi siarannya tidak boleh bertentangan dengan kebijakan penguasa. Tiap hari masyarakat dicekoki doktrin-doktrin keberhasilan pemerintah Orde Baru. Segala macam kebobrokan ditutupi rapat-rapat. Tidak sedikit koran dan majalah dibredel lantaran memuat berita yang tidak segaris dengan penguasa ketika itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline