Lihat ke Halaman Asli

Thurneysen Simanjuntak

Nomine Kompasiana Awards 2022 (Kategori Best Teacher), Pendidik, Pegiat Literasi, serta Peraih 70++ Penghargaan Menulis.

Meningkatkan Minat Baca dan Reformasi Perpustakaan bagi Generasi Millenial

Diperbarui: 7 Desember 2017   16:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar : http://library.unsyiah.ac.id

Apakah Anda tergolong sebagai orang yang rajin membaca? Berapa buku yang anda baca dalam seminggu? Di manakah tempat membaca yang paling anda senangi? Seberapa besar pengaruh membaca terhadap perkembangan pengetahuan dan informasi yang anda miliki?

Itulah sebagian kecil pertanyaan-pertanyaan sapaan dari penulis bagi pembaca. Bukan berarti menganggap penulis sebagai sosok yang ideal dalam membaca. Tapi sekedar memunculkan refleksi berpikir bagi kita semua.

Membaca merupakan salah satu ketrampilan dasar yang telah ditanamkan sejak dini. Pada generasi saya, keterampilan ini sudah dimulai sejak menginjak sekolah dasar. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, ternyata membaca pun telah dimulai dari taman kanak-kanak. Artinya sejak kecil, masyarakat kita ternyata sudah diperkenalkan dengan membaca.Permasalahannya, mengapa pada tingkat pendidikan berikutnya seperti sekolah menengah, perguruan tinggi atau pasca pendidikan tinggi, masyarakat kita umumnya tidak berhasil menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan atau budaya?

Berdasarkan data UNESCO, bahwa minat baca masyarakat Indonesia ternyata sangat memprihatinkan. Minat baca masyarakat kita ternyata hanya 0,001%.

Bisa kita bayangkan, bagaimana kualitas bangsa kita ketika ternyata masyarakatnya memiliki minat baca yang rendah. Sementara kita tahu bahwa membaca merupakan sarana penting untuk menyerap pengetahuan dan informasi. Tentunya bangsa kita akan tertinggal dari bangsa lain jika masyarakatnya tidak selalu menambah pengetahun dan informasi yang akurat melalui berbagai bacaan.

Saya melihat banyak usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah, sekolah, organisasi atau pegiat (aktivis) untuk mengajak masyarakat agar semakin sadar untuk membaca buku. Tapi kenyataannya, hingga saat ini kita tahu sendiri hasilnya. 

Buktikan saja di lingkungan kita masing-masing. Seberapa besar orang-orang disekitar kita yang rutin membeli atau meminjam buku. Seberapa banyak yang menyediakan waktu khusus untuk membaca. Atau kegiatan apa saja yang sering dilakukan oleh orang-orang disekitar kita ketika ada waktu luang.

Menurut hemat saya, setidaknya ada tiga aspek penting yang perlu dibangun untuk meningkatkan minat baca sejak dini, yakni keteladanan, pengkondisian, dan wadah yang mendukung.

Dokpri

1. Keteladanan

Proses transfer kebiasaan dalam membaca kepada seorang anak sebaiknya dilakukan sejak dini. Dalam hal ini, tentu tidak terlepas dengan keteladanan orang-orang disekitarnya. Misalnya orang tua memberikan contoh gemar membaca selama di rumah. Sebab seorang anak masih identik dengan kebiasaan meniru, tentu akan lebih mudah terpengaruh dengan kebiasaan yang dilakukan orang tuanya.

Saya jadi teringat dengan masa kecil. Sejak kecil senang memegang buku karena melihat kebiasaan orang tua dalam membaca. Walaupun awalnya sekedar membolak-balik buku tersebut, tapi setidaknya sudah ada ketertarikan dengan buku. Tinggal bagaimana mengarahkannya saja. Dan memang pada akhirnya, lambat laun saya mulai tertarik untuk membaca. Hingga besar (sekarang) kebiasaan itu pun sulit dihilangkan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline