Lihat ke Halaman Asli

Taufan Satyadharma

Pencari makna

Manifestasi Sedekah Kerohanian

Diperbarui: 26 November 2021   16:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: @pieu_kamprettu

Sudah pasti kita ketahui bersama jika zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Zakat sering diartikan umum sebagai suatu tindakan memberi sesuatu kepada orang fakir miskin. 

Kegiatannya sering kita sebut sebagai sedekah. Tujuan zakat itu sendiri sebenarnya bukanlah untuk membantu yang memerlukan karena kita hanyalah tangan kanan Allah Yang Maha Pemberi, akan tetapi supaya niat baik si pemberi zakat atau sedekah itu diterima oleh Allah.

Ada banyak cara agar kita dapat melakukan sedekah, bahkan ketika kita tidak memiliki sesuatu apapun untuk diberi, maka sebuah senyum tulus dan ikhlas bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk sedekah. Itu semua merupakan sesuatu yang mampu dinilai melalui pandangan wadag, lalu adakah sedekah itu dilakukan dengan wujud yang lain?

Dalam majelis wirid dan sholawat Selasan Maneges Qudroh yang malam ini menapaki putaran ke-101 yang diadakan di Panti Fatimah Az-Zahra, Dusun Ngroto, Mertoyudan, sesungguhnya ada sesuatu yang sedikit banyak menarik perhatian. 

Dalam langkah pertama putaran ratusan ini, banyak yang bisa dijadikan refleksi atau cerminan pada puluhan langkah sebelumnya. Ada suatu hal yang selalu ingin diberikan atau diperembahkan di tiap langkah yang ditapaki bersama dalam Selasan.

Konsep memberi sendiri sebenarnya hampir sama dengan sedekah, akan tetapi dalam kegiatan kolektif dan berjamaah ini, yang diberikan bukanlah materi, melainkan hal-hal yang bersifat spiritual. Ada muatan rohani dengan energi lebih, sehingga dulur-dulur dalam Selasan selalu mempersembahkan lantunan-lantunan doa dan puji-pujian sebagai bentuk kasih sayangnya kepada Sang Maha Asih.

Sama seperti yang menjadi tujuan di zakat awal, bahwasanya persembahan ini bukanlah untuk membantu Sang Maha Penolong. Karena kita yang membutuhkan pertolonganNya, pada akhirnya kita sendirilah yang akan mendapatkan manfaatnya. Dan manfaat itu tidak bisa dirumuskan dan dijadikan standar, sebab kebutuhan seseorang juga berbeda-beda bergantung pada masing-masing niatnya.

Apabila kita banyak waktu membersamai dulur-dulur ini, kita bisa melihat betapa baik dan taatnya para hambaNya. Betapa hasrat yang diwujudkan adalah ganjaran kerohanian yang diharapkan mampu menjadi reward atas segala bentuk persembahan atas peribadatan ataupun ketaatan mereka kepada Yang Maha Memberi Kehidupan.

Tuhan sama sekali jelas tidak membutuhkan segala bentuk peribadatan yang para hamba-hambaNya lakukan, melainkan mereka sendirilah yang membutuhkan. 

Lantas dengan kemurahan hatiNya, banyak hal telah disembunyikan atau bahkan ditutup dosanya sebagai salah satu balasan atas kebaktian yang dlakukan para hambaNya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline