Lihat ke Halaman Asli

Syahirul Alim

TERVERIFIKASI

Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Tak Ada Pertentangan Antara ke-Islaman dan ke-Indonesiaan

Diperbarui: 7 Mei 2017   22:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Lagi-lagi polarisasi masyarakat Indonesia pasca Pilkada DKI 2017 seringkali menjadi bahan perbincangan publik, tidak hanya sebatas pada soal “obrolan pinggiran” atau talkshow di televisi, tetapi sudah menjadi perhatian luas, dimana diskusi menyoal ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang seakan dipertentangkan digelar secara resmi di level kenegaraan. 

Bertempat di Gedung MPR RI, seminar yang bertemakan “Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan Aktualisasi Pemikiran dan Kejuangan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari”, paling tidak dapat membuka cakrawala pemikiran kita bahwa tidak ada pertentangan sedikitpun soal ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang sejauh ini justru dalam prakteknya seringkali diartikulasikan secara berbeda. Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari justru merupakan tokoh perjuangan yang senantiasa menjaga harmonisasi secara teguh antara ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sehingga pemikiran dan aksi-nya menjadi tetap relevan dan bahkan aktual dalam membaca polarisasi masyarakat Indonesia belakangan ini.

Kita memang harus mengakui, bahwa Pilkada Jakarta telah menjadi semacam entry point yang secara gamblang memperlihatkan polarisasi yang tajam antara kelompok pendukung Basuki-Djarot dan Anies-Sandi yang tidak pernah selesai, walaupun gelaran pilkada itu telah usai. Secara garis besar, polarisasi ini secara tajam sangat bertentangan satu sama lainnya, dimana seakan-akan para pendukung Basuki-Djarot adalah mereka yang cinta NKRI, pendukung kebhinekaan yang berpaham kebangsaan. 

Sedangkan disisi lain, para pendukung Anies-Sandi kemudian seakan-akan diposisikan sebagai kelompok anti-NKRI, anti-kebhinekaan karena berpaham “keagamaan” dan mengenyampingkan nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan. Banyak pihak menilai, polarisasi ini jelas sangat mengganggu harmonisasi kehidupan kebangsaan, terutama jika terus dibiarkan, jelas akan berpengaruh terhadap bangunan negara-bangsa yang selama ini dirajut dalam bingkai kedamaian, persatuan dan juga kesatuan.

Cucu Hadratus Syekh, Solahudin Wahid (Gus Solah) yang didaulat untuk memberikan sambutan pada kegiatan seminar tersebut, menjelaskan soal polarisasi masyarakat yang justru semakin tajam pasca Pilkada Jakarta ini. Bagi Gus Solah, para pendukung Basuki-Djarot maupun Anies-Sandi sepertinya sedang dalam pusaran konflik, memainkan tema “keislaman” dan “keindonesiaan” dimana dari kedua kelompok itu muncul pertentangan secara diametral antara mereka yang merasa paling Indonesia dan disisi lain justru merasa paling Islam. 

Polarisasi ini jelas berujung pada sebuah konflik yang tidak hanya mempertentangkan isu ini antara sesama umat beragama, tetapi konflik muncul dan terbuka antar kelompok seagama, akibat mereka merasa paling “islam” diantara kelompok agamanya karena berasumsi tidak memilih pemimpin non-muslim. Gus Solah justru menawarkan solusi, agar ketika terjadi setiap perbedaan tidak diucapkan atau di-umbar kehadapan publik, namun cukup dirasakan dalam hati bagi diri sendiri, tanpa harus diartikulasikan, terlebih dipergunakan untuk menghakimi orang lain

Membongkar kembali aktualisasi pemikiran Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari soal bagaimana ke-Islaman dan ke-Indonesiaan ini saling bersinergi justru mempunyai nilai tersendiri bagi bangsa ini agar mau menguak sejarah perjuangan kemerdekaan dan menjadikannya sebagai landasan berpijak bangsa ini dalam mengisi perjalanan kemerdekaan.

 Sosok KH Hasyim Asy’ari yang menjadi panutan masyarakat justru mampu mendudukkan secara berimbang antara keislaman dan keindonesiaan, dimana semangat keagamaan mampu memompa semangat perjuangan bangsa ini untuk melawan kesewenang-wenangan kolonialisme. Bukti nyata dari buah pemikiran dan aktualisasi keislaman Hadratus Syekh justru berhasil bersinergi dengan paham kebangsaan bahkan tanpa harus ada pertentangan sama sekali.

Semangat keagamaan dalam bentuk perintah “resolusi kebangsaan” yang digagas Hasratus Syekh tidak hanya menginspirasi kelompok Islam (santri) tetapi juga berpengaruh secara luas terhadap seluruh elemen masyarakat lainnya untuk bersatu padu melawan kolonialisme asing. Membela negara berarti sama dengan membela agama, karena jika negara ini hancur dan dikuasai kepentingan asing, jelas seluruh kehidupan bermasyarakat—termasuk keagamaan—akan mengalami tekanan dan gangguan yang luar biasa. 

Asumsi saya, keliru jika ada sementara kelompok yang merasa melakukan “bela agama” tetapi justru mempertentangkan kebhinekaan dan lebih jauh kebangsaan bahkan ke-Indonesiaan. Semangat yang digelorakan melalui aksi-aksi buah pikiran Hadratus Syekh pada masa-masa kemerdekaan, justru berpijak pada konsep “hubb al wathan min al-iman” (kecintaan kepada tanah air adalah bagian dari keimanan).

Salah satu buah pikiran yang cukup penting dalam melihat bagaimana konsepsi keislaman dan keindonesiaan tidak bertentangan adalah ketika Hadratus Syekh menyatakan bahwa pemerintahan Kolonial Belanda adalah dar al-islam (wilayah Islam) yang wajib dipertahankan. Pendapat Hadratus Syekh muncul ketika ada pertanyaan pada acara Muktamar NU di Banjarmasin pada 1936.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline