Lihat ke Halaman Asli

Semangat Kepak Sayap Sang Blackbird

Diperbarui: 25 Maret 2016   22:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Inspirasi tulisan ini berasal dari lirik lagu yang sejatinya menyemangati gerakan kaum minoritas kulit hitam khususnya kaum wanita di Amerika era 1960-an saat menuntut persamaan hak sipil. Lantunan lagu berjudul Blackbird karya The Beatles terus terngiang merdu selama pembuatan catatan spontan ini.

Melewati triwulan tahun 2016 ini beragam media Tanah Air menyajikan informasi kegaduhan sosial yang sebenarnya dulu pernah terjadi dan memiliki benang merah, yaitu ‘perjuangan hak sipil’, namun karena sifatnya yang aktual maka media memberikan label ‘baru (terkini)’ untuk menjaring khalayaknya.

Senada dengan lagu Blackbird yang dinyanyikan ulang oleh Dave Grohl pada malam penghargaan Oscar 2016. Lagu lama, namun terdengar baru. Mungkin dengan itulah penulis bisa sedikit menerka isi otak para ‘ahli sejarah’ yang sering berceloteh “sejarah pasti berulang”.

Polemik di Suriah, Rohingya, Tolikara, Turki, Palestina, Belgia, Singkil, Ahmadyah, Gafatar, LGBT, Syiah, Kalijodo, hingga mengerucut kepada yang paling terkini, konflik horizontal antara perusahaan taksi konvensional (Blue Bird) dengan perusahaan layanan taksi online (Uber dan Grab Car, atau ‘Green Bird’) yang berakhir anarkis telah menjadi contoh bagaimana perjuangan usaha kaum sipil yang ‘berbeda’ dari mainstream (mayoritas) harus kandas dalam pertarungan opini berujung kekerasan melawan mereka yang sudah mapan di segala lini termasuk media. Meski terlihat berupaya imbang (cover both sides), namun hanya segelintir media yang berani mengupasnya tuntas.

Terlepas dari segala kepentingan berbagai pihak yang sebenarnya berujung uang. Lagi-lagi masyarakat menengah bawah-lah yang dirugikan, singkatnya merekalah korban kegaduhan sosial akibat hembusan isu. Dihempas kencangnya laju bola salju berita yang berawal dari lemparan segenggam opini provokasi.

Akibatnya, stigma negatif, meresahkan, menyesatkan, meneror, ilegal pasti akan senantiasa menyelimuti mereka sebagai minoritas (keluar dari status quo). Lantas, dengan cara melabel mereka demikian apakah perkara sosial itu bisa selesai?
Dalam kondisi saat ini, justru semangat para minoritas inilah yang harus dipelajari. Daripada mengutuk keadaan, lebih baik beradaptasi menghadapi perubahan. Semangat tetap berusaha dengan segala ketidakadilan dan diskriminasi yang dihadapi.

Semangat untuk tetap bertahan di tengah keterbatasan dan ketidakberdayaan dengan cara yang out of the box, kreatif, mencipta yang baru. Iya, pembaharuan, namun sayangnya ditengah indahnya frase ‘pembaharuan’ atau ‘perubahan’ masih ada mereka yang menolak keindahan itu.

Take this broken wings, and learn to fly. All your life, you were only waiting for this moment to arise. Demikian sepenggal lirik lagu ciptaan Paul McArtney tersebut.

Sesat atau tidak secara teologis, legal atau ilegal secara hukum, normal atau tidak menurut mainstream, nyatanya kita sama-sama manusia yang ditetapkan hidup di bawah langit dan di atas bumi yang sama. Pendekatan sosial atau kemanusiaan-lah yang bisa menjembatani konflik yang terjadi.

Mengapa jika ada perubahan yang sebenarnya menguntungkan masyarakat kelas menengah bawah selalu berakhir dengan adegan klise bertajuk diskriminasi? Kemanakah slogan ‘maju tak gentar membela yang benar?’ Apakah liriknya sudah berevolusi menjadi ‘maju tak gentar membela yang bayar?’

Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, berbangsa-bangsa, bersuku-suku untuk saling mengenal, bukan untuk saling menghujat, saling menteror, apalagi saling menindas.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline