Lihat ke Halaman Asli

Sutriyono Robert

Penulis lepas, menyukai seni budaya lokal.

"Ontran-ontran"

Diperbarui: 22 Oktober 2020   04:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Saya tumbuh dalam keluarga yang damai. Bapak dan Ibu membangun suasana rumah dengan nyaman. Sebagai anak kecil, saya pernah mendengar secara verbal Ibu bercerita tentang prinsip berumah tangga. Ini disampaikan kepada tetangga yang datang ngendong.

"Nek padu kuwi ning kamar, aja ning ngarep bocah," kata Ibu semacam nasihat.

Penghayatan damai tentram di rumah menjalar pula pada kesadaran akan desa. Desa saya, ketika itu, saya hayati sebagai desa yang damai. Ayam berkeliaran mencari makan. Burung prenjak nggentir di depan rumah saat pagi, burung goci dengan selipan warna putih di bulu sayapnya melintas, pelatuk mematuk-matuk pohon kelapa, angin mendesiri rumpun bambu.

Ontran-ontran datang di atau dari luar rumah.

Saya masih sangat kecil ketika desa heboh. Ada kerbau tertabrak mobil di jalan raya. Ketika itu jalanan aspal masih baru. Orang desa berekan. Memotong dan membagi-bagi daging kerbau.

Entah kenapa Ibu tidak ikut serta. Mungkin juga karena jauh dari rumah. Mungkin juga tidak masuk dalam kamus keluarga; berburu daging kerbau yang disembelih karena sekarat tertabrak kendaraan roda empat.

Ontran-ontran lainnya adalah soal bunuh diri. Ada beberapa kali warga di desa bunuh diri. Umumnya karena tak tahan menanggung kemiskinan. Cara yang lazim adalah masuk sumur (ah, ini terlalu mengerikan untuk diceritakan).

Masih begitu pagi ketika itu. Suara kentongan satu-satu melenting-lenting. Semula dari satu arah, lantas segala penjuru meraung-raung dengan suara kentongan. Kami menamainya titir.

Begitu menggentarkan bagi saya sebagai seorang anak kecil. Semua penjuru mata angin berbunyi. Serasa seluruh benda, rumput-rumput, pohon-pohon, bahkan rongga-rongga pohon kelapa rumah pohon pelatuk itu juga ikutan berbunyi. Meraung-raung tak henti. Memberitakan kepiluan akan hal kematian. Tetapi rasanya juga histeris melepas emosi kengerian.

Dan akhirnya, ketika saya SMP, saya mendapati onntran-ontran itu datang persis di rumah kami. Bukan, munculnya bukan dari salah satu anggota keluarga kami, tetapi dari saudara yang datang, lantas meledakkan emosi keluarga. Hingga sekarang, saya belum cukup jernih untuk memandang masalah ini.

Sebagai anak yang masa emas tumbuh dalam damai, saya harus mengalami sakitnya memahami perbedaan pendapat, konflik, pertentangan karena prinsip pijakan berpikir yang bahkan kadang sampai benturan fisik. Itu masa-masa memasuki dewasa awal.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline