Lihat ke Halaman Asli

Sugiyanto Hadi Prayitno

TERVERIFIKASI

Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Berakhirnya Latihan Sebulan

Diperbarui: 12 Mei 2021   17:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi -- salat tarawih di Masjid Agung Pamekasan - Sumber: Kompas.com/Taufiqurrahman

Ramadan menjadi bulan latihan. Tahun ini sebulan persis, 30 hari, menurut kalender Hijriah. Satu dari dua belas bulan dalam satu tahun. 

Terasa sangat panjang bagi muslim-muslimah yang merasa sangat terbebani dalam melakukan shaum dengan aneka ibadah di dalamnya. Tetapi singkat saja bagi orang-orang yang tingkat keimanan dan ketakwaaannya tidak lagi sekadar awam.

Pada zaman Rasulullah segera berakhirnya bulan Ramadan disikapi dengan kesedihan mendalam. Alasannya, pertama, belum tentu tahun depan kita bertemu lagi dengan satu bulan penuh ampunan, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka ini. Sebab umur orang siapa tahu.

Ada seorang Ustaz yang menyatakan, dirinya akan berubah sikap bila seseorang sudah wafat. Ia lupa, dirinya tidak akan hidup selamanya. Ia meninggal terlebih dahulu. Bahkah seorang Ustaz pun lupa hakikat ucapan "Insyaa Allah" yang harus disertakan pada setiap rencana mengenai masa depan.

Alasan kedua, selama sebulan kita mendapatkan predikat ketakwaan seperti disebutkan dalam Al Quran bahwa tujuan shaum untuk menjadi mukmin yang bertakwa, dengan sebenar-benarnya takwa. 

Dengan kata lain, kita gagal memanfaatkan momentum sangat berharga selama Ramadan. Saat mana semua amal-ibadah dilipatgandaan pahalanya.

Semua perintah Allah yang bersifat sunah menjadi berpahala wajib. Sebabkan perintah wajib berpahala berlipat-lipat lebih besar. Dan berbeda dibandingkan dengan amal-ibadah lain, khusus shaum maka Allah sendiri yang akan memberikan balasan pahalanya.

Kegagalan memanfaatkan Ramadan setidaknya ada 3 perilaku salah. Pertama, bersifat sombong. Merasa diri lebih baik-pintar-kaya-saleh-berpendidikan-berjabatan tinggi dibandingkan orang lain. 

Dengan sikap itu lalu meremehkan orang lain, menganggap rendah dan tak berguna serta kecil. Dengan shaum mestinya menekan rasa sombong, ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang serba kekurangan. Tidak justru sebaliknya. Baca juga: Omongan Tetangga, Dari Buto Ijo hingga Kandang Bubrah

Kedua, bersifat rakus. Mungkin tidak secara harfiah rakus dengan makan-minum, tetapi sifat rakus dapat merasuk pada semua aspek kehidupan. 

Dalam mengejar dunia (pangkat-jabatan-kekayaan-wanita) sangat berlebih-lebihan. Bila perlu dengan menghalalkan segala cara. Bahkan tak sedikit orang yang demi dunia nekat bertopeng agama. Orang-orang yang rakus tanpa sadar mengingkari hakikat shaum itu sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline