Lihat ke Halaman Asli

Sri Maulida

Lecturer and Researcher

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Diperbarui: 23 Juni 2015   21:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN

Oleh Sri Maulida S.E.Sy*

 

  1. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia

(Q.S Ar-Ra’d : 11).[1]

Islamisasi adalah salah satu istilah yang paling populer dipakai dalam konteks integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Islamisasi berarti pengIslaman[2]. Dalam konteks lebih luas menunjukkan pada proses pengIslaman, di mana objeknya adalah orang atau manusia.

Menurut AI-Faruqi Islamisasi ilmu pengetahuan berarti mengIslamkan ilmu pengetahuan moderen dengan cara menyusun dan membangun ulang sains sastra, dan sains-sains pasti alam dengan memberikan dasar dan tujuan-tujuan yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus dituangkan kembali sehingga mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, dalam strateginya, dalam apa yang dikatakan sebagai datumnya, dan problem-problemnya. Seluruh disiplin harus dituangkan kembali sehingga mengungkapkan relevensi Islam sepanjang ketiga sumbu Tauhid yaitu, kesatuan pengetahuan, hidup dan kesatuan sejarah[3].

Dalam pembahasan ini akan dibahas Islamisasi pengetahuan yang dikenalkan oleh Ismail Raji Al-faruqi.

  1. Munculnya Isu Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Munculnya isu Islamisasi ilmu pengetahuan ini adalah sebagai respon atas dikotomi antara ilmu agama dan sains yang dimasukkan Barat sekuler dan budaya masyarakat modern ke dunia Islam. Kemajuan yang dicapai sains modern telah membawa pengaruh yang menakjubkan, namun di sisi lain juga membawa dampak yang  negatif, karena sains modern (Barat) kering nilai atau terpisah dari nilai agama. Di samping itu Islamisasi Ilmu Pengetahuan juga merupakan reaksi atas krisis sistem pendidikan yang dihadapi umat Islam, yakni adanya dualisme sistem pendidikan Islam dan pendidikan modern (sekuler) yang membingungkan umat Islam.

Gagasan awal Islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada saat konferensi dunia pertama tentang pendidikan muslim di Makkah, pada tahun1977  yang diprakarsai oleh King Abdul Aziz University. Ide Islamisasi ilmu pengetahuan dilontarkan oleh Ismail Raji al-Faruqi dalam makalahnya “Islamisizing social science” dan syekh Muhammad Naquib al-Attas dalam makalahnya “Preliminary Thoughts on the Nature of knowledge and the Aims of Education”. Menurut al-Attas (dalam Nata, 2005) bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam adalah bukan bentuk kebodohan, tetapi pengetahuan,  pengetahuan yang disebarkan ke seluruh dunia Islam oleh peradaban Barat[4]. Menurut al-Faruqi bahwa sistem pendidikan Islam telah dicetak dalam sebuah Karikatur Barat, sehingga dipandang sebagai inti dari malaise atau penderitaan yang dialami umat. Keadaan pendidikan pada masa kini telah ditanamkan kekuatan-kekuatan westernisasi dan sekularisasi. Ia mengkritik sains Barat telah terlepas dari nilai dan harkat manusia dan nilai spiritual dan harkat dengan Tuhan[5].

Berikut masalah yang menjadi penyebab munculnya isu Islamisasi ilmu pengetahuan yang diperkenalkan oleh al-Faruqi :

  1. Politik
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline